Rumah kontrakan di sudut gang Jakarta Selatan itu tidak terlalu luas, namun pagar besinya yang dicat hijau selalu menjadi penanda batasan antara dunia luar yang keras dan kehangatan di dalam. Meja kayu kecil di atas karpet merah itu tampak ramai oleh tiga mug keramik dengan motif berbeda: bermotif kucing lucu milik Nayla, hitam polos milik Kezia, dan corak tradisional milik Arum. Tiga mug yang datang dari tempat jauh, lalu berakhir di meja yang sama, menampung lelah yang serupa.
Jam dinding di atas TV menunjukkan pukul 11 malam. Di atas karpet bulu yang warnanya sudah agak memudar, tiga pasang kaki yang sama-sama lelah terbujur ke arah berbeda. Jakarta di luar jendela saat ini mungkin sedang ramai dan berisik, namun di dalam ruangan empat kali empat meter ini terasa tenang, seolah waktu berjalan lambat. Tidak ada yang berbicara. Keheningan itu dipecahkan oleh suara helaan napas panjang yang entah keluar dari mulut siapa.
Nayla menatap kosong ke arah langit-langit. “Dimsum mentai enak kayaknya...,” ucapnya memecah kesunyian.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi memecah keheningan. Arum yang sedari tadi memejamkan mata langsung terperanjat. Ia mengembuskan napas pelan, meraih ponsel di sebelahnya, lalu menatap layar yang menyala.
“Ndok... uang kuliah Sekar masih kurang.”
Arum segera menelungkupkan ponsel itu ke atas meja setelah membaca pesan singkat dari Ibunya, seolah-olah ingin menyembunyikan beban yang baru saja mengetuk ketenangannya.
Kezia melirik ke arah Arum, memangkas jarak di antara mereka. “Ibu, Rum?” tanyanya, melembutkan suara.
Arum tidak langsung menjawab. Ia sempat membuang pandangan ke arah mug luriknya yang mulai mendingin, sebelum akhirnya bergumam pasrah. “Hmm...,” singkatnya.
Kezia mengembuskan napas pelan, lalu mengusap pundak Arum dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehabisan. Ruangan itu kembali hening, menyisakan suara detik jam yang terasa makin berat.
Namun, keheningan emosional itu tidak bertahan lama.
“Mampus gue!” tiba-tiba Nayla berteriak sambil meloncat bangun dari sofa.
Kelopak mata yang sedari tadi menatap kosong ke langit-langit kini melebar panik, sementara jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk layar ponselnya sendiri. Kezia dan Arum yang sedang larut dalam momen haru langsung terperanjat, melayangkan tatapan kaget sekaligus bingung ke arah sahabat mereka yang mendadak histeris itu.
“Kenapa, Nay?” tanya Arum. Suaranya pelan, namun sepasang matanya yang letih langsung melebar panik menatap sahabatnya itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Arum, Nayla justru menyambar tasnya yang tergeletak di lantai dengan terburu-buru.
“Besok gue ada syuting jam enam pagi, coba! Tiba-tiba aja si Adit ganti jam!” serunya frustrasi. Gadis itu terdiam sebentar, lalu mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan sejak tadi.