Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #2

BAB 2

Jarum jam baru menunjuk pukul 05.10, namun Arum sudah rapi dengan seragam perawatnya. Di dapur, tangannya bergerak cekatan membolak-balik telur dadar di atas wajan. Begitu matang, ia langsung mematikan kompor dan berjalan cepat menuju kamar Nayla.

Tok! Tok! Tok!

Arum mengetuk pintu kayu itu dengan keras. “Nay... ayo bangun! Udah mau jam enam, loh!” teriaknya. Ia terdiam sejenak, memasang telinga untuk menunggu respons dari dalam. Nihil. Jangankan suara sahutan, bunyi pergerakan kasur pun tidak ada.

Arum menggedor lebih kencang. “Nay, ya ampun! Kebiasaan deh! Minta dibangunin, tapi susah banget!” ketusnya mulai gemas.

Cklek.

Belum sempat Arum melayangkan gedoran ketiga, pintu kamar di sebelah Nayla terbuka secara dramatis. Kezia muncul dengan rambut panjang yang acak-acakan seperti singa dan wajah masam yang kentara. Langkah kakinya dihentakkan keras ke lantai, bergerak lurus ke arah sumber keributan.

Melihat tanda-tanda bahaya, Arum refleks mundur teratur, menyelamatkan diri kembali ke dapur.

Tanpa basa-basi, Kezia menghantam pintu kamar Nayla dengan tinjunya. “Nay!! Kau bangun gak?! Kalo gak bangun, kuhancurkan pintu kamar kau ini!” teriak Kezia dengan logat Bataknya yang menggelegar, sukses memecah keheningan pagi.

Sementara itu di dapur, Arum mencoba mengabaikan perang dunia yang hampir pecah. Ia menata tiga lembar telur dadar di atas piring, lalu membawanya ke meja makan di ruang tengah yang sudah diisi oseng sayur dan nasi hangat.

“NAY!!! SATU... DUA... TI—!”

Sebelum hitungan ketiga selesai, pintu kamar itu akhirnya jebol terbuka. Nayla muncul dengan rambut super-berantakan dan kelopak mata yang masih menempel erat. Sambil berjalan sempoyongan bak zombi tanpa memedulikan sekelilingnya, Nayla melangkah lurus menuju kamar mandi di dekat dapur.

Kezia menghadiahi punggung Nayla dengan tatapan tajam yang bisa membunuh, sebelum akhirnya berbalik badan, masuk ke kamarnya sendiri, dan membanting pintunya dengan keras. 

Brak!

Arum duduk di sofa ruang tengah, lalu menyendok nasi ke atas piring kosong yang dipegangnya. Namun, baru saja tangannya hendak menjepit sepotong telur dadar, Nayla tiba-tiba melintas dari arah kamar mandi, berjalan gontai dengan langkah super-pelan kembali ke kamarnya. Arum hanya bisa terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu memilih melanjutkan suapan pertamanya.

Shiiiit!”

Sebuah teriakan histeris mendadak pecah dari kamar Nayla, membuat Arum hampir tersedak nasi.

Detik berikutnya, Nayla berlari terbirit-birit keluar kamar dengan handuk merah yang asal dicampakkan ke pundak. “Kok lo gak bilang udah mau jam enam sih, Rum?!” tuduhnya panik sekaligus kesal, melesat melewati Arum begitu saja.

“Ya... ya... salah aku. Semua salah aku, iyaaaa...” sahut Arum pasrah, sudah terlalu hafal dengan tabiat sahabatnya yang suka memutarbalikkan fakta kalau sedang panik.

Nayla kembali melompat masuk ke dalam kamar mandi. Sambil mengunyah perpaduan nasi, sayur, dan telur di mulutnya, Arum mendengarkan lamat-lamat suara deru air dari dalam sana. Suaranya begitu brutal dan cepat, layaknya air pancuran yang sedang dipakai untuk memadamkan kebakaran. 

Tidak sampai tiga menit, suara air itu mendadak mati. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Nayla yang sudah basah kuyup dari rambut sampai kaki, bersiap melakukan rekor bersiap-siap tercepat abad ini.

Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Nayla untuk bertransformasi dari zombi menjadi gadis yang siap tempur. Dengan rambut yang masih setengah basah ia keluar dari kamar sambil menyandang ransel besarnya.

“Rum, gue makan telurnya satu, ya!” seru Nayla panik. Tanpa menunggu jawaban, tangannya menyambar selembar telur dadar buatan Arum, melipatnya, lalu menyuapkannya langsung ke mulut. Sambil mengunyah kesetanan, jarinya sibuk memesan ojek online di ponsel. “Bye Arum sayang! Doain gue gak diamuk si Adit!”

Suara pintu depan yang dibanting dan deru motor ojek yang menjauh akhirnya mengembalikan kedamaian di kontrakan itu. Arum menghela napas panjang, menatap piring telur dadar yang kini bersisa dua. Pagi yang melelahkan, dan harinya bahkan belum benar-benar dimulai.

***

Satu jam kemudian, suasana bising kontrakan berganti dengan atmosfer yang jauh lebih menegangkan: ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit tempat Arum bekerja.

Aroma pekat cairan antiseptik dan karbol langsung menusuk hidung begitu Arum melangkah masuk ke ruang perawat. Sebagai perawat UGD, Arum tahu betul bahwa di tempat ini, waktu tidak pernah berjalan santai. Baru saja ia meletakkan tasnya di loker, suara sirine ambulans yang melengking kencang sudah terdengar mendekat ke arah lobi.

“Arum! Ada pasien kecelakaan lalu lintas, fraktur terbuka di kaki kanan. Tolong siapin baki luka, terus pasang infus ya!” teriak Ners senior dari arah pintu depan.

“Baik, Kak!” sahut Arum refleks.

Rasa kantuk dan sisa-sisa beban pikiran tentang masalah keuangan keluarganya semalam mendadak menguap tanpa bekas. Begitu seragam putihnya terpasang, Arum harus mengunci semua masalah pribadinya rapat-rapat di dalam loker. Di ruangan yang dipenuhi suara monitor jantung dan rintihan kesakitan ini, fokusnya hanya satu: menyelamatkan nyawa orang lain, sepedih apa pun hatinya sendiri saat ini.

Arum bergerak gesit dari satu bed pasien ke bed lainnya, memasang infus, menyiapkan injeksi, dan mencatat tanda-tanda vital. Atmosfer UGD pagi itu benar-benar menguras energi. Namun, yang membuat fokus Arum terpecah bukanlah jumlah pasien yang terus membeludak, melainkan getaran konstan dari ponsel di dalam saku seragamnya.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel itu sudah bergetar belasan kali. Arum mencoba mengabaikannya, tetapi ketika ia sedang membantu dokter menjahit luka seorang pasien, ponselnya berdering lagi. Di layar kunci, deretan pesan dari adiknya bermunculan.

“Kak, pihak kampus udah nagih.” 

Lihat selengkapnya