Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #3

BAB 3

Pintu kontrakan terbuka seiring dengan langkah Arum yang terseret masuk. Suasana di dalam rumah begitu sepi, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang mengalun konstan setiap detiknya.

Arum melangkah menuju kamarnya yang tertutup rapat. Ia memutar knop pintu, lalu menyalakan sakelar. Lampu kamarnya berpijar redup. Kamar itu tampak sangat rapi dan semua barang tertata dengan baik—kontras sekali dengan kamar Nayla yang biasanya terlihat seperti kapal pecah.

Arum meletakkan tasnya di atas kasur, disusul tubuhnya sendiri yang langsung ambruk tak berdaya. Sambil menatap langit-langit kamar, ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir beban yang menempel di dada.

Tangannya merogoh ponsel dari saku seragam kerja. Layar hand phone itu menyala, menampilkan aplikasi m-banking. Sorot mata Arum yang sedari tadi meredup, kini semakin layu saat melihat digit saldo yang terpampang di sana. Jumlah yang teramat kecil untuk seorang wanita dewasa yang mengadu nasib di kerasnya Jakarta.

Dengan jemari yang terasa berat, ia mengetikkan nominal yang akan dikirimkan kepada adiknya. Enam puluh persen dari total pertahanan gaji terakhirnya lenyap dalam satu kedipan mata. Begitu transaksi berhasil, Arum segera keluar dari aplikasi dan beralih menekan kontak bernama 'Sekar Adikku'.

Sembari tetap telentang di atas kasur, Arum menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada sambung yang monoton. Tak lama, suara ketus langsung menyergap dari seberang sana.

“Kak! Kok baru ngabarin, sih?! Aku teleponin dari tadi loh!” Omelan Sekar langsung menyambutnya tanpa basa-basi.

“Iya, maaf... Mbak baru pulang kerja. Tadi banyak pasien soalnya,” lirih Arum, suaranya terdengar parau.

“Gimana uangnya? Udah ditransfer belum?” tanya Sekar dengan nada yang meninggi, penuh tuntutan.

“Udah... udah Mbak transfer. Kamu cek aja.”

“Yaudah deh. Nanti-nanti jangan telat lagi ya, Mbak!” potong Sekar ketus. Detik berikutnya, panggilan diputus sepihak.

Bip.

Arum terdiam. Ponsel itu masih menempel di telinganya selama beberapa saat, menyalurkan suara senyap yang mendadak terasa tuli. Perlahan, tangannya terjatuh ke kasur, membiarkan benda pipih itu tergeletak begitu saja. Arum menarik napas pelan, matanya yang sayu kini kian kehilangan binar.

Dengan sisa tenaga yang ada, Arum bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan pelan ke arah meja rias kecil di sudut kamar, lalu melabuhkan tubuhnya di kursi. Arum menatap lurus ke arah cermin. Bayangan di dalam kaca memantulkan sosok yang tampak asing; wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya, dengan beberapa jerawat yang mulai bermunculan akibat stres. Kantung matanya menghitam, dan tubuhnya tampak semakin kurus. Arum merasa dirinya benar-benar menyedihkan.

Pandangannya kemudian beralih pada deretan skincare dari merek lokal murah yang berjejer rapi di atas meja. Botol-botol itu hampir kosong. Beberapa di antaranya bahkan sengaja diletakkan terbalik agar sisa-sisa cairannya bisa turun ke tutup wadah dengan mudah.

Arum meraih botol micellar water yang hanya tersisa beberapa mililiter di dasar wadah. Ia menuangkannya ke atas selembar kapas dengan sangat hati-hati, seolah cairan itu adalah benda paling berharga yang ia miliki saat ini.

Sembari menatap lekat pantulan mukanya yang tampak begitu nelangsa di cermin, Arum mulai mengusap kapas basah itu ke wajahnya dengan gerakan yang amat perlahan. Namun, gerakannya tiba-tiba terhenti.

Rasa sedih yang bergulung sejak pagi—hantaman amarah dari Kepala Ruangan UGD, peluh pekerjaan yang menguras fisik, beban biaya kuliah sang adik yang harus ia pikul sendirian, hingga kenyataan bahwa ia bahkan tak punya waktu dan modal untuk merawat diri sendiri—seolah mendesak maju secara bersamaan. Ada rasa sesak yang luar biasa, seakan sebuah hantaman tak kasat mata baru saja mendarat telak di dadanya, menimbulkan rasa sakit yang teramat nyata.

Pertahanannya runtuh. Satu tetes air mata lolos membasahi pipi, disusul aliran berikutnya yang kian deras tanpa bisa dibendung lagi.

Kapas di jemarinya terlepas, jatuh begitu saja ke lantai kamar yang dingin. Arum mulai terisak pelan. Ia refleks menutup mulut dengan kepalan tangan, mencoba sekuat tenaga meredam suara agar tangisnya tidak mengeras. Namun, ia keliru. Ia tidak sekuat itu. Di dunia luar, ia mungkin harus memakai topeng perawat yang tegar, tetapi hanya di rumah dan di dalam kamar inilah, tempat ia bisa melepas seluruh beban dan menjadi versi dirinya yang paling jujur.

Tangisnya pecah seketika. Mengabaikan rasa perih di tenggorokan, Arum menangis sejadi-jadinya malam itu, meratapi lingkaran hidupnya yang terasa kian menjerat tanpa menyisakan celah untuk bernapas.

Saat Arum masih menangis di dalam kamarnya, suasana ruang tengah kontrakan terasa begitu hening dan kosong. Hanya ada suara jarum jam, yang kini beradu dengan isakan pilu Arum yang berhasil menerobos dari balik celah pintu.

Cklek.

Pintu utama tiba-tiba terbuka. Nayla muncul dari balik daun pintu, lalu menutupnya kembali dengan gerakan yang amat pelan. Wajahnya tampak cemberut sekaligus layu, sisa-sisa badai di ruang rapat tadi masih tercetak jelas di air mukanya. Dengan langkah terseret, ia berjalan menuju ruang tengah, mencampakkan tas ranselnya ke atas sofa, sebelum akhirnya ikut melemparkan tubuhnya sendiri ke sana dengan pasrah.

Lihat selengkapnya