Lima tahun yang lalu...
Nayla berlarian setengah mati di lorong stasiun yang padat. Sambil mendekap tas ransel besarnya di dada, Nayla nekat menerobos dan membelah kerumunan orang yang berlawanan arah di depannya. Tanpa menurunkan kecepatan sedikit pun, langkah kakinya terus memburu. Sesekali ia melirik panik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Keningnya kian mengerut dalam, rasa cemasnya memuncak begitu menyadari jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.40. Ia tidak boleh ketinggalan kereta.
Langkah kakinya baru terhenti tepat di depan gerbong. Tanpa membuang waktu, Nayla langsung melemparkan badannya masuk ke dalam kereta yang sudah berjejal oleh ratusan pasang manusia di dalamnya.
BIIIP!
Pintu kereta otomatis langsung tertutup sedetik setelah Nayla berhasil menapakkan kaki. Tubuhnya nyaris saja terjepit dan tertinggal di luar stasiun.
Begitu kereta perlahan bergerak, Nayla hanya bisa bersandar lesu di dekat pintu kaca. Napasnya terengah-engah dengan wajah yang teramat kelelahan setelah berlarian.
Nayla, yang aslinya berasal dari Bogor, entah mengapa justru memilih untuk tinggal di daerah Jakarta Barat, padahal ia bekerja di salah satu perusahaan agency yang berlokasi di Jakarta Selatan. Ini adalah bulan kedua sejak ia mulai bekerja.
Setiap hari, perjuangannya dimulai dengan menaiki KRL dari Stasiun Grogol menuju Stasiun Duri, lalu transit untuk naik kereta tujuan Manggarai. Stasiun Manggarai adalah salah satu tempat paling mengerikan bagi Nayla, karena di sanalah lautan manusia tumpah ruah untuk transit. Dari Manggarai, ia harus naik KRL jurusan Bogor lagi untuk turun di Stasiun Sudirman.
Belum selesai sampai di situ, Nayla harus berjalan kaki atau naik ojek online sejenak menuju Stasiun MRT Dukuh Atas, lalu naik MRT tujuan Lebak Bulus dan turun di Stasiun MRT Cipete Raya. Barulah dari sana, Nayla berjalan kaki sekitar 800 meter untuk benar-benar sampai di tempat kerjanya.
Perjalanan yang teramat melelahkan, bukan? Ya, itulah yang dirasakan Nayla selama kurang lebih dua bulan ini.
Sebenarnya, bukan hanya Nayla yang merasakannya. Ribuan pekerja di Jakarta juga menjalani rutinitas yang menguras kewarasan ini setiap hari. Ada yang berangkat dari Bogor, Bekasi, Tangerang, dan kota-kota satelit lainnya. Mereka semua memilih memeluk kelelahan itu demi mengais rezeki di Jakarta.
Bukan hal yang mudah. Setiap pagi dan sore, mereka harus berdesakan layaknya sekumpulan zombie yang berlari saling sikut mengejar waktu keberangkatan kereta. Berpindah dari satu stasiun ke stasiun lainnya dengan napas memburu. Begitulah Jakarta; kota besar nan kejam yang menampung tumpukan harapan dan mimpi dari banyak kepala.
Begitu kaki Nayla melangkah masuk ke area kantor, ia langsung disambut oleh interogasi dan amukan habis-habisan dari atasannya yang tak lain adalah Adit. Nayla hanya bisa berdiri mematung sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung kemejanya pelan.
Sementara itu, Adit terus-menerus mengomel dengan berapi-api hingga titik ludahnya mencrat ke udara. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Nayla, matanya membelalak, dan urat di dahinya menonjol ke permukaan. Begitulah mengerikannya seorang Adit kalau emosinya sudah tersulut.
“Ini udah puluhan kalinya lo telat ya, Nay!” teriak Adit dengan sangat lantang. Suaranya yang menggelegar sukses membuat karyawan lain merasa terganggu. Namun, tidak ada satu pun yang berani melerai. Mereka semua hanya melirik sekilas, lalu kembali berpura-pura sibuk memandang layar komputer masing-masing.
“Maaf, Mas... saya—” Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimat pembelaannya, Adit sudah menyerobot kasar.
“Maaf mulu! Janji mulu! Bosen gue dengernya! Inget ya, sekali lagi lo telat, gak usah kerja lagi di sini!” bentaknya kejam.
Setelah menumpahkan kekesalannya, Adit berbalik badan, melangkah lebar masuk ke dalam ruangannya, lalu membanting pintu kayu itu dengan sangat keras hingga menimbulkan dentuman keras.
Nayla masih menunduk. Ia mengembuskan napas pelan secara perlahan sambil memejamkan mata selama beberapa detik, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh. Begitu membuka mata, Nayla menyebarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Benar saja, belasan pasang mata sedang memperhatikannya. Ada yang menatapnya dengan pandangan sinis dan kesal, tetapi ada juga yang memandangnya dengan tatapan iba.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat mendarat di pundak Nayla, meremasnya dengan lembut dari belakang. “Sabar ya, Nay...,” ucap perempuan itu pelan.
Dia adalah Cindy, rekan kerja dekat Nayla yang sudah dua bulan lebih dulu mencicipi asam garam di agency ini.
“Lo ikut gue deh!” ucap Cindy. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik pergelangan tangan Nayla dan menyeretnya masuk ke sebuah ruangan yang sedang sepi.
“Kenapa, Cin?” tanya Nayla lemas.
“Lo kayaknya emang harus pindah kosan deh, Nay! Grogol ke Jaksel tuh jauh banget!” ucap Cindy dengan raut wajah yang merupakan perpaduan antara kesal dan khawatir.
“Ya... kan lo tahu sendiri, Cin. Kosan di sekitaran sini harganya mahal-mahal banget. Susah nyari yang ramah di kantong buat staf baru kayak gue.”
Cindy tidak langsung merespons. Jemarinya justru bergerak sibuk mengetuk-ngetuk layar ponselnya, berselancar di aplikasi Instagram seperti sedang mencari sesuatu yang sudah lama ia simpan.
“Nyari apa sih?” tanya Nayla heran.
Cindy langsung menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Nayla, memperlihatkan sebuah foto bangunan di dalam sebuah gang. Rumah itu tampak tua, kusam, dan agak tak terurus.
“Apaan nih?!” Kening Nayla spontan mengerut dalam.
“Ada kontrakan murah banget. Kelebihannya, lo bisa bayar bulanan, gak perlu langsung bayar setahun di awal. Jaraknya deket banget dari kantor kita, paling cuma satu kiloan. Malahan lo bisa jalan kaki ke sini dan gak perlu ada drama telat lagi, Nay,” promosi Cindy dengan bersemangat.