Nayla dan wanita yang baru saja ia tolong itu kini terduduk di bangku besi sebuah halte kosong. Keduanya terdiam, melayangkan tatapan kosong ke arah jalanan yang sesekali masih dilintasi oleh satu-dua kendaraan. Angin malam bertiup semakin kencang, terasa menusuk pori-pori kulit.
Nayla menoleh ke samping. Pandangannya mendadak terkunci pada kerah baju wanita di sebelahnya yang robek cukup parah. Tanpa berpikir panjang, Nayla langsung melepas jaket jans yang dikenakannya.
Nayla menyampirkan jaket tebal itu ke pundak kurus si wanita. “Pakai aja...,” ucap Nayla dengan suara pelan, hampir berbisik.
Wanita itu tersentak kecil, menoleh ke arah Nayla, lalu seulas senyum tulus terbit di wajahnya yang masih sembap. “Makasih...,” lirihnya, sambil merapatkan jaket itu ke dadanya, mencoba mengusir gigil yang tersisa.
Mereka kembali melempar pandangan lurus ke depan, larut dalam keheningan malam yang canggung.
“Nama gue Nayla...,” ucap Nayla tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa ada yang meminta.
Wanita itu kembali menoleh. Ia terdiam sejenak sebelum menyahut, “Arum... nama saya Arum.”
Nayla mengangguk-angguk pelan. “Arum... orang Jawa, ya?”
“Iya...,” angguk wanita itu pelan.
“Wah... gue dari Bogor. Orang Sunda yang ngomongnya udah kecampur 'gue-lo' Jakarta,” sahut Nayla sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan atmosfer malam yang terlampau dingin dan kaku.
Arum hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatap aspal jalanan. Suasana kembali hening, hanya terdengar hembusan suara angin, dan desiran daun pepohonan yang saling bergesekan tertiup angin.
“Lo... mau tinggal bareng gue gak?” tanya Nayla impulsif memecah keheningan di antara mereka.
Arum sontak menoleh cepat. Bola matanya membesar, memancarkan rasa terkejut yang kentara atas tawaran mendadak yang baru saja terucap dari mulut orang yang baru beberapa menit lalu ia kenal.
Seolah tahu apa yang dipikirkan Arum, Nayla buru-buru melanjutkan kalimatnya dengan panik. “Sebenarnya... gue emang lagi nyari temen buat tinggal bareng di kontrakan baru gue. Rumahnya rumah tua dan... ya, agak serem, sih. Kalau gue tinggal sendirian di sana, kayaknya gue bakalan mati ketakutan. Pas banget gue ketemu lo malam ini. Kalau lo mau... kita bisa patungan dan tinggal bareng di sana.”
Nayla menjeda kalimat panjang lebarnya sejenak untuk menarik napas. “Yah... itu juga kalau lo mau, sih. Dan... kalau lo gak takut sama hantu,” tambahnya dengan cengiran canggung.
Arum masih bergeming, menatap lekat ke dalam manik mata Nayla yang tampak tulus. “Manusia... jauh lebih menakutkan daripada hantu, Nay,” ucap Arum pelan, sebuah senyum getir terukir di bibirnya sebelum ia kembali membuang muka ke depan.
Nayla sempat tertegun mendengar kalimat itu. “Jadi... gimana?” tuntut Nayla, menunggu jawaban pasti.
Arum menoleh kembali, kali ini dengan senyuman yang jauh lebih lebar dan cerah. “Saya... jago masak,” jawab Arum retoris, yang sukses membuat kening Nayla berkerut kebingungan.
“Maksudnya?”
“Yaa... kalau kamu bolehin saya ikut tinggal, saya janji bakalan rajin masakin sarapan buat kamu. Saya bisa—”
Tawa Nayla langsung pecah, memotong kalimat Arum yang mulai menggebu-gebu.