Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #6

BAB 6

Pagi hari ini langit tampak cerah berseri. Langit Jakarta bahkan terlihat biru bersih tanpa gradasi keabu-abuan akibat polusi. Entah mengapa, hari ini semesta rasanya sedang berbaik hati memberikan sedikit penghiburan untuk para pejuang nafkah. Namun, sebaik apa pun cuaca di luar, hal itu tidak lantas meluruhkan rasa kesal yang membakar dada Nayla saat ini.

Nayla melangkah lebar dengan ritme yang cepat. Setiap pijakan kakinya sengaja dihentakkan keras-keras ke lantai koridor kantor, menimbulkan bunyi berisik yang memicu perhatian orang sekitar. Wajahnya memerah padam, keningnya mengkerut dalam, dan matanya membelalak sempurna menahan amarah.

Langkahnya mendadak terhenti di depan sebuah pintu ruangan. Nayla menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Tanpa menunggu aba-aba atau jaminan izin dari dalam, ia mengetuk pintu tiga kali lalu langsung mendorongnya dengan kasar hingga membentur dinding.

Nayla melangkah masuk tanpa permisi.

“Mas!” Nayla menyergap Adit yang saat ini sedang duduk tenang di kursi kerjanya sembari memandangi monitor komputer.

“Kok malah saya sih yang dipindahin ke tim lain?!” protes Nayla dengan volume suara yang meninggi.

Adit mendongak, langsung menatap Nayla dengan pandangan sinis yang kentara. “Lo masih gak sadar juga ya, Nay?”

“Mas... si Gina itu yang dari awal gak mau pakai produk kita! Dia yang salah, dia yang gak profesional!” bela Nayla lugas, mencoba menjelaskan duduk perkaranya.

“Terus maksud lo, kalau talent-nya yang salah, dia yang harus kita ganti? Gitu?” Adit menantang balik.

“Ya... ya enggak juga. Tapi bukan berarti harus saya yang didepak dari tim, dong!”

Adit tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia bertolak pinggang, menatap Nayla dengan gelengan kepala heran seolah-olah bawahannya ini baru saja mengucapkan hal paling konyol di dunia.

“Nay... Nay... Lo itu dari dulu gak berubah, ya! Lo tuh di sini cuma staf. Mau gak mau, lo yang harus ngalah dan sabar sama talent! Pokoknya, lo gue pindahin ke tim minuman! Gak ada yang bisa ubah keputusan gue ini,” ucap Adit mutlak. Selesai bicara, pria itu langsung melengos pergi melewati Nayla, berniat keluar dari ruangannya.

Ogah menyerah begitu saja, Nayla langsung memutar tubuh dan mengejar langkah atasannya itu. “Mas... tapi kan konsep iklan itu murni saya yang buat dari nol! Masa giliran syuting saya malah diganti?!”

Adit mendadak menghentikan langkah tepat di ambang pintu, lalu berbalik badan dengan cepat. Gerakan impulsif itu sukses membuat Nayla mengerem mendadak. Ia tertegun, sedikit terintimidasi mendapati Adit kini menjulangkan tubuh tepat di hadapannya.

“Gue... Gak... Pe... Du... Li!” eja Adit satu demi satu dengan penekanan yang menusuk. “Talent-nya yang gak mau kerja sama kalau ada lo!” lanjutnya lagi.

Nayla bungkam. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh, mati-matian menahan amarahnya agar tidak meledak dan mengacaukan seisi kantor.

“Pokoknya mulai hari ini lo masuk ke tim minuman. Dan Sabtu depan lo harus ke Jogja, bantuin Rafi buat produksi short video bareng Aksara Jingga!” bentak Adit, sisa-sisa kesabarannya terbukti sudah habis menghadapi keras kepalanya Nayla.

Mendengar dua kata terakhir, mata Nayla seketika membelalak sempurna. Mulutnya sedikit terbuka. Ia mendadak mematung, seolah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis. Kelopak matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna rentetan alfabet yang baru saja mampir ke indra pendengarannya.

Adit yang menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak linglung seperti orang tersambar petir mengerutkan dahi. “Kenapa lo? Kesurupan?” tanya Adit ketus.

“Bentar...,” Nayla mengembuskan napas perlahan, tangannya terangkat ke udara. “Tadi Mas bilang apa? Aksara... Jingga?” tanya Nayla dengan nada suara yang bergetar penuh ketidakpercayaan.

“Iya! Aksara Jingga! Udahlah, Nay! Kalau lo keukeuh gak mau, mending lo ajuin surat resign aja sekalian ke HRD!” tegas Adit yang langsung membalikkan badan dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Nayla yang masih syok.

Nayla tidak mampu merespons sepatah kata pun. Ia berdiri kaku di tempatnya berdiri, napasnya mendadak terasa begitu berat dan memburu. Dengan jemari yang gemetar, Nayla mengangkat tangan untuk memijat dahinya yang mendadak berdenyut nyeri.

Aksara Jingga? batinnya menjerit lirih, sementara memori-memori lama yang terkunci rapat mendadak mendobrak paksa benaknya.

***

Langit malam Jakarta tampak indah dan berseri. Bintang-bintang memancarkan sinarnya dengan malu-malu, sementara bulan berhasil membiaskan cahaya keperakannya yang lembut; menerangi sudut-sudut kota yang mulai sunyi seiring langkah manusia-manusia yang bergegas pulang menuju kehangatan rumah mereka.

Namun, keindahan malam itu kontras dengan langkah kaki Nayla yang terasa amat berat. Ia berjalan dengan pundak yang layu dan tatapan kosong menyusuri trotoar jalan. Di sampingnya, riuh klakson dan deru kendaraan yang memadati jalanan ibu kota terdengar seperti dengung bising yang tak berarti.

Lihat selengkapnya