Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #7

BAB 7

Sudah empat hari ponsel Rian mati total. Selama empat hari itu juga Kezia tak mendapatkan kabar apa pun dari kekasihnya itu. Ini bukan kali pertama Rian bersikap seperti ini. Selama berpacaran sepuluh tahun, mungkin ini sudah ke sekian puluh kalinya Rian menghilang setiap kali dirinya merasa butuh waktu sendiri.

Meskipun Kezia sudah terbiasa menghadapi "penyakit" Rian yang satu ini, tetap saja ia selalu didera rasa panik. Takut Rian kenapa-kenapa, apakah laki-laki itu sudah makan, atau apakah dia baik-baik saja. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui pikiran Kezia setiap kali Rian sulit dihubungi.

Namun sepertinya, kali ini Kezia lebih memilih untuk memelihara rasa kesalnya. Ia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mendatangi kosan Rian. Kezia berjalan menyusuri koridor kosan khusus putra itu dengan langkah yang sengaja dihentakkan demi menahan emosinya agar tidak meledak di tempat. Ada ribuan kata tajam yang sudah ia siapkan di kepala untuk memarahi Rian habis-habisan.

Kezia membuka pintu kamar Rian dengan kasar. Namun, rentetan kalimat pedas yang sudah ia siapkan seakan menguap hilang begitu saja begitu kakinya melangkah masuk.

Bau menyengat dari minyak thinner, cat minyak, dan sisa kopi yang membusuk langsung menyergap indra penciuman Kezia. Kamar itu kacau balau. Kain kanvas berserakan, botol bekas cat tergeletak tak beraturan di atas lantai semen. Di sudut ruangan, beberapa lukisan setengah jadi tampak dirusak sengaja; dicoret silang dengan tinta hitam, bahkan beberapa di antaranya ada yang robek akibat tusukan kuas yang frustrasi.

Selesai menyelami keadaan kamar yang kacau, pandangan Kezia terhenti pada sebuah sofa di dekat jendela. Rian tertidur lelap di sana, meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Kezia melangkah dengan sangat pelan mendekati tubuh kekasihnya.

Kaus polos yang saat ini dikenakan Rian terlihat kotor akibat noda cat. Pipinya tampak semakin tirus dibanding terakhir kali mereka bertemu satu minggu yang lalu. Kantung mata di wajah laki-laki itu pun menghitam sempurna.

Sorot mata Kezia langsung terenyuh. Amarah yang sedari tadi menguasai dadanya seolah melebur hilang tanpa sisa. Ia tahu betul, saat ini kekasihnya sedang berada di situasi yang sangat sulit.

Alih-alih berteriak membangunkan Rian, Kezia memilih meletakkan tas kerjanya di atas meja dekat sofa dengan pelan, lalu melipat lengan kemejanya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mulai memunguti botol-botol bekas yang berceceran di lantai. Kezia mulai membereskan ruangan studio mini sekaligus kamar tidur Rian itu dengan telaten.

Ia merapikan kain-kain kanvas, menata botol cat minyak yang masih bisa dipakai ke atas rak, hingga menyapu debu yang menempel di lantai. Semua itu ia lakukan dengan sangat hati-hati tanpa membuat Rian terusik dari tidurnya.

Kezia kemudian beralih ke sudut ruangan kecil yang biasa mereka gunakan untuk memasak. Ia membuka kotak makanan yang ia beli sepulang kerja tadi. Gesekan piring yang pelan rupanya cukup untuk membuat Rian mulai tersadar dari tidurnya. Laki-laki itu membuka matanya perlahan, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang masih berkabut.

Rian bangun lalu terduduk di sofa. Matanya menangkap sosok tinggi Kezia yang sedang sibuk menata makanan di piring. Rian memijat keningnya yang terasa pening luar biasa.

Kezia berjalan menghampirinya, lalu meletakkan piring berisi nasi hangat dan ayam katsu di atas meja kayu.

“Kez...,” lirih Rian dengan suara parau.

Lihat selengkapnya