Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #8

BAB 8

Hari Jumat yang ditunggu akhirnya tiba. Waktu keberangkatan Nayla ke Yogyakarta telah datang. Ia akan berangkat bersama dua rekan kerjanya untuk menangani proyek penting. Sabtu dan Minggu besok, Prambanan Jazz Festival akan digelar. Nayla bertugas sebagai staf KOL Specialist yang bertanggung jawab mengarahkan dan mengondisikan para talent atau artis terkait apa saja yang harus mereka lakukan. Sementara itu, dua rekan kerjanya bertugas sebagai kamerawan dan asisten yang akan membantu kelancaran kerja Nayla di lapangan.

Nayla berdiri di depan pintu kontrakan bersama Kezia dan Arum yang bersiap melepas kepergiannya. Arum memandang Nayla dengan raut wajah sedih, sementara Kezia menatapnya serius dengan binar penuh kekhawatiran.

“Nay! Inget pesan gue, ya!” ucap Kezia tegas, matanya menatap tajam ke arah Nayla.

“Iya...,” jawab Nayla pelan.

“Nay!” Kezia mendesis membentak, menuntut jawaban yang lebih meyakinkan.

“Iya, Kez! Lo tenang aja, gue gak bakal sedih, atau baper, atau... apalah itu yang lo khawatirin!” jawab Nayla akhirnya dengan nada kesal.

Arum mengusap lembut pundak Nayla. “Nay... jaga kesehatan ya di sana. Makan jangan sampai lupa.”

“Iya, Rum....”

Nayla menarik pegangan koper merahnya. “Yaudah, gue berangkat sekarang ya!”

Arum melebarkan kedua tangannya, bersiap memeluk. Nayla menyambut hangat pelukan itu dan merengkuh tubuh sahabatnya erat-erat. “Kabarin kalau udah nyampe ya,” bisik Arum.

“Iya...,” balas Nayla sembari melonggarkan pelukannya dari Arum.

Nayla lalu menatap Kezia dengan raut sebal. “Lo gak mau meluk gue juga?” tanyanya sambil melebarkan kedua tangan ke arah Kezia.

Kezia memutar bola matanya ke atas, lalu memeluk Nayla dengan ekspresi malas yang dibuat-buat.

“Awas aja kalau balik dari Jogja lo tiba-tiba galau lagi, ya!” bisik Kezia, yang suaranya masih terdengar jelas oleh Arum.

“Gak lah!” Nayla buru-buru melepaskan pelukannya dari Kezia. “Penakut banget sih lo!” sungutnya.

“Udah... udah... buruan pergi, nanti ketinggalan pesawat lagi,” potong Arum cepat, mencoba mencegah perdebatan panjang yang biasa terjadi antara Kezia dan Nayla.

“Yaudah... bye, guys! Baik-baik ya di rumah, jangan lupain gue, jangan keenakan hidup tanpa gue!” ucap Nayla sambil memanyunkan bibirnya.

“Ah, justru kalau gak ada lo, hidup gue kayaknya bakal tenang banget sih, gak ada yang berisik!” ledek Kezia.

Nayla melayangkan tatapan tajam sembari menyunggingkan bibir ke arah Kezia, sementara Arum hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

***

Nayla memandang kosong ke luar jendela pesawat. Di luar sana, hamparan awan putih membentang luas, namun pikirannya justru melayang jauh ke tempat lain. Sesekali ia menghela napas pelan, mencoba mengurai rasa sesak yang tiba-tiba mengimpit dadanya.

Sinta, rekan kerja yang duduk di sebelahnya, mulai menoleh sesekali ke arah Nayla. Sinta menatap heran. Sedari tadi seniornya itu tampak murung dan gelisah. Jemari Nayla bahkan tak berhenti memotek-motek kulit di pinggir kuku jari telunjuknya sendiri hingga memerah dan sedikit mengelupas—kebiasaan buruk Nayla setiap kali pikirannya sedang benar-benar kacau.

“Kak, lo gak apa-apa?” tanya Sinta, berhasil memecah lamunan Nayla.

Nayla tersentak kecil lalu buru-buru menoleh. “Hah?”

“Lo gak apa-apa, Kak? Dari tadi kelihatan gelisah banget?” tanya Sinta dengan suara yang lebih jelas, menyiratkan rasa khawatir.

“Oh... gak apa-apa kok. Gue... gue cuma agak mual aja. Udah agak lama gak naik pesawat soalnya,” alibi Nayla tersenyum tipis, berusaha keras menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.

Lihat selengkapnya