Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #9

BAB 9

Nayla menyandarkan tubuhnya di dinding dengan napas yang masih terengah-engah. Ia memutuskan untuk menyembunyikan diri di lorong sepi yang berada tak jauh dari area backstage. Tangannya meraba dada; jantungnya masih berdegup liar. Ingatan saat matanya bertabrakan dengan mata Raka beberapa saat lalu terus berputar di kepalanya.

“Apa dia... lihat gue?” lirihnya pelan. Nayla mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan pasokan oksigen ke paru-parunya.

Tiba-tiba, ponsel di genggamannya berdering. Nama Sinta terpampang di layar. Nayla menggeser tombol hijau dengan jemari gemetar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.

“Ha... Halo?”

“Kak! Lo di mana sih?! Syuting udah mau dimulai nih!” Suara Sinta terdengar panik dari seberang telepon.

“Bentar, ini... gue mendadak mules. Bentar lagi gue ke sana.”

“Ya udah, gue tunggu ya, Kak!”

Nayla langsung memutus sambungan. “Aduh...,” rintihnya dengan wajah penuh kecemasan.

Dengan langkah berat, Nayla mulai berjalan menuju backstage. Namun sebelum mencapai area tersebut, langkahnya berbelok ke arah deretan stan UMKM. Di sana riuh oleh pedagang yang menjual aneka makanan hingga suvenir.

Seketika sebuah ide gila melintas di kepalanya. Di tengah rasa gelisah dan panik, Nayla memutuskan untuk membeli beberapa barang: sebuah topi, masker medis, dan kacamata berbingkai besar. Ia benar-benar bingung dan tidak siap jika harus berhadapan langsung dengan Raka dalam kapasitasnya sebagai KOL specialist yang mengatur pengambilan video band tersebut.

Ia memilih menutupi identitasnya rapat-rapat. Ia tidak ingin Raka mengenali bahwa wanita di balik penataan gaya video itu adalah Nayla—masa lalunya.

Beberapa saat kemudian, Nayla tiba di ruang tunggu Aksara Jingga. Penampilannya berubah drastis dibanding tiga puluh menit yang lalu. Topi menutupi sebagian besar rambutnya, kacamata besar bertengger di pangkal hidung, dan masker medis menutup hampir seluruh bagian bawah wajahnya. Praktis, hanya sepasang mata dan sedikit bagian dahi yang tersisa, itu pun tersamar oleh bayangan lidah topi.

Sinta menyambut kedatangan seniornya itu dengan tatapan aneh. Ia sampai menghentikan kegiatannya dan menatap Nayla yang sedang berpura-pura sibuk membaca lembar naskah. Sinta menggelengkan kepala pelan.

“Kak... lo tahu gak? Tampilan lo kayak orang mau nyopet.”

“Tapi... muka gue gak kelihatan jelas, kan?” tanya Nayla serius, menatap Sinta tajam dari balik kaca mata hitamnya.

“Ya... wajah lo emang gak kelihatan sih,” Sinta menghentikan ucapannya, memperhatikan Nayla dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tapi emang kalau perut mules harus begini banget ya? Pakai kacamata sama topi? Kalau masker sih masih masuk akal...” Sinta benar-benar heran dengan tingkah aneh seniornya.

“Udah deh, lo banyak tanya banget,” potong Nayla cepat, dahi di balik topinya berkerut kesal.

Sinta mengatupkan bibir sambil menyunggingkan senyum herannya, menggeleng-gelengkan kepala.

Tak lama, terdengar sapaan ramah dari pintu. “Halo, guys!”

Seorang wanita bertubuh tinggi kurus dengan potongan rambut bob pendek melangkah masuk. Dialah Dita, manajer dari Aksara Jingga.

“Udah siap? Sebentar lagi anak-anak Aksara Jingga ke sini,” ujar Dita.

“Kami udah siap, Mbak,” sahut Nayla cepat.

Dita sempat terdiam sejenak. Tatapannya tertahan pada penampilan Nayla yang serba tertutup dan mencolok di dalam ruangan.

“Mbaknya... kenapa ya?” tanya Dita ragu-ragu.

Sinta tertawa canggung sambil mencoba menyela, “Dia lagi kurang enak badan, Mbak. Jadi... makanya pakai masker sama topi gini.”

“Oh... tapi Mbaknya gak apa-apa, kan? Bisa lanjut kerja?” tanya Dita memastikan.

“Oke kok, saya udah baikan,” jawab Nayla menimpal. Kendati suaranya diusahakan tenang, sorot matanya tak bisa berbohong. Jantungnya kembali berdegup kencang. Secara refleks, jemarinya di dalam saku kembali memotek kulit di sekitar kukunya sambil mengatur ritme napas.

Sinta memperhatikan gerak-gerik aneh Nayla itu dengan curiga, namun memilih untuk tidak banyak bertanya lagi.

Tiba-tiba, suasana ruangan berubah riuh. Empat orang pria bertubuh jangkung melangkah masuk dari balik pintu. Mereka adalah para personel Aksara Jingga.

Nayla spontan membalikkan badan membelakangi pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu berbalik kembali menghadap rombongan band yang kini sudah bersiap di depannya.

Sisa peluh masih membasahi pelipis dan leher para personel Aksara Jingga. Wajah mereka menyiratkan kelelahan fisik pasca-tampil energik di panggung utama.

“Oke, hai semuanya!” sapa Nayla dengan nada suara yang sedikit bergetar. Ia berdehem pelan untuk menetralkan keraguan di tenggorokannya.

“Hai...,” balas Bagas, sang drumer, ramah.

“Saya yang bakal ngarahin kalian buat video pendek hari ini ya. Naskahnya udah dibaca semua, kan?” tanya Nayla. Pandangan matanya dikunci rapat-rapat hanya pada Bagas, secara sadar menghindari arah posisi Raka.

Di sudut lain ruangan, Raka berdiri agak jauh dari barisan rekannya. Ia sedang meneguk air mineral dari botol kemasan.

“Udah sih... Lo udah baca belum?” Bagas menoleh pada Yono, sang basis yang berdiri di sampingnya.

“Gue udah,” jawab Yono mengangguk pelan.

“Lo udah baca, Ka?” tanya Bagas beralih menatap Raka.

Raka yang sedari tadi melamun sambil menatap kosong ke sudut lantai langsung tersentak. Ia menoleh ke arah Bagas.

“Udah...,” jawab Raka singkat.

Lihat selengkapnya