Nayla tiba di Jakarta. Kedua sahabatnya sudah siap menyambut kedatangannya di kontrakan. Terlihat dari betapa semangatnya mereka menyiapkan banyak makanan untuk makan malam bersama Nayla nanti.
Arum sibuk meletakkan piring-piring yang telah terisi masakan yang ia buat dengan sepenuh hati; ada ayam goreng, oseng jamur kesukaan Nayla, sambal bawang, dan beberapa lalapan yang wajib ada.
Sementara itu, Kezia sibuk menekan-nekan tombol remote TV, memilih tontonan seru untuk menemani makan malam mereka. Arum duduk di sofa, menatap dengan puas hasil masakannya.
“Nay masih di mana, Kez?” tanya Arum.
“Udah sampai Jakarta kok, bentar lagi juga sampai,” jawab Kezia. Sorot matanya masih fokus memandangi layar TV, sibuk memilih tontonan.
Selang beberapa menit kemudian, pintu utama terbuka dari luar. Nayla muncul membawa barang bawaannya yang begitu banyak. Arum sontak berdiri dan menghampiri Nayla dengan raut wajah sumringah.
“Naaay!” Arum menyambut Nayla dengan pelukan hangat.
“Hai, Rum....” Nayla membalas pelukan Arum, lalu perlahan melepasnya.
“Bawa bakpia pesanan gue gak?” teriak Kezia dari sofa, tangannya masih sibuk menekan tombol remote.
“Iya... Bawa,” jawab Nayla dengan suara lemas.
Arum membantu meletakkan barang-barang Nayla. Ia mengamati wajah sahabatnya yang tampak amat kelelahan dan murung.
“Kamu kenapa, Nay? Gak enak badan?” tanya Arum khawatir.
Nayla membuka pintu kamarnya. “Gak apa-apa kok, Rum, cuma kecapekan aja,” suara Nayla terdengar parau. Ia memasukkan beberapa barang bawaannya ke kamar, menyisakan beberapa kotak bakpia sebagai oleh-oleh untuk Kezia dan Arum di meja.
“Oh, gitu....” Arum merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Nayla semurung ini. Secapek apa pun Nayla biasanya, ia selalu bisa terlihat ceria. Tapi kali ini berbeda. Ini bukan sekadar kecapekan. Pasti ada sesuatu yang terjadi, batin Arum.
“Makan dulu, Nay! Arum udah masakin makanan kesukaan lo tuh!” seru Kezia sambil meletakkan remote TV di sampingnya.
“Kalian makan aja duluan ya. Gue mau istirahat dulu, nanti gue makan kok.”
Arum dan Kezia seketika terdiam, memasang wajah tak percaya mendengar jawaban Nayla. “Serius? Kalau dingin nanti gak enak loh, Nay!” suara Kezia agak meninggi.
“Pasti masih enak kok... Makan duluan aja ya, gue masuk dulu....” Tanpa menunggu respons dari kedua sahabatnya, Nayla melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya begitu saja.
Kezia dan Arum saling bertatapan dalam keheningan. “Kenapa dia?” tanya Kezia heran.
Arum menggelengkan kepalanya pelan. “Gak biasanya Nay kayak gini,” ucap Arum.
Kezia mengembuskan napas pelan, dahi berkerut. Pasti ada sesuatu di Jogja, batinnya.
Arum melangkah menghampiri Kezia, lalu duduk di sampingnya. “Kayaknya... ada masalah deh di Jogja,” lirih Arum.
“Hm... Kita biarin aja dulu, Rum. Kita makan duluan aja.”
“Iya...,” Arum mengangguk pelan.
Kezia dan Arum sangat mengkhawatirkan Nayla. Namun, mereka paham dan memilih tidak mendobrak kamar Nayla untuk menuntut penjelasan. Mereka memilih memberi ruang, sampai Nayla sendiri yang siap untuk menceritakannya.
Nayla melepas jaketnya, lalu menggantungnya di kapstok dinding. Kamarnya tampak remang karena ia memilih hanya menyalakan lampu tidur yang redup. Nayla merebahkan dan melempar tubuhnya ke atas kasur.
Nayla menatap langit-langit kamar sambil mengembuskan napas panjang. Sorot matanya begitu sendu dan hampa—sama sekali bukan seperti Nayla yang biasanya.
“Udah lima tahun, dan kamu masih nyalahin aku....”
Ucapan Raka saat di Jogja terus menggema dan berputar tanpa henti di benak Nayla, membuat pikirannya kacau balau.
Apa yang salah dari dirinya lima tahun lalu? Bukankah Raka yang salah? Raka yang melepaskannya. Raka yang meninggalkannya begitu saja, dan bahkan hanya dalam hitungan tujuh hari sudah mendapatkan pacar baru. Begitulah isi kepala Nayla sejak pertemuannya kembali dengan Raka di Prambanan.
Dahi Nayla berkerut kencang. Secara refleks, ibu jarinya kembali memotek kulit di tepi kukunya. Napasnya terasa pendek dan memburu. Nayla berusaha memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya. Sorot matanya perlahan berubah saat ingatan-ingatan lama itu mulai memaksa masuk. Ia seperti berusaha mengingat kembali setiap detail masa-masa pahit itu.
Sebenarnya... apa yang terjadi saat itu? batinnya.
***
Flashback — 2021, Jogja
Sebagai karyawan baru, tugas Nayla saat itu bukanlah hal yang mudah. Bagaimana tidak? Baru bekerja tiga bulan, ia sudah diikutsertakan dalam tim yang memegang salah satu acara terbesar—sebuah proyek yang mengharuskannya menetap di Jogja selama kurang lebih 30 hari.
Acara megah itu menyajikan berbagai hiburan: festival olahraga, pameran UMKM, hingga konser musik yang dimeriahkan oleh banyak artis papan atas. Perusahaan tempat Nayla bekerja kebetulan memegang beberapa brand besar sebagai sponsor utama acara tersebut.
Sebagai junior, Nayla tidak punya pilihan selain menuruti hampir semua perintah para seniornya. Dari mengangkut barang-barang, ikut mengatur para talent, hingga urusan-urusan sepele lainnya. Semuanya sukses membuat Nayla frustrasi.
Bukan hanya frustrasi karena tumpukan pekerjaannya, Nayla juga amat tertekan dengan hubungannya bersama Raka yang akhir-akhir ini sering diwarnai pertengkaran.
Siang hari itu begitu menyengat. Nayla tampak membopong sebuah kardus berisi minuman yang akan dibagikan ke penonton konser secara gratis. Ia harus beberapa kali bolak-balik mengangkut kardus-kardus tersebut dari mobil yang terparkir tak jauh dari kerumunan penonton. Tugas itu ia kerjakan bersama dua rekan kerjanya, Cindy dan Dandi.
Setelah selesai mengeluarkan seluruh kardus, Nayla, Cindy, dan Dandi langsung meluruskan kaki dan beristirahat di bawah pohon yang rindang. Nayla mengibas-ngibaskan topi ke wajahnya yang kemerahan. Cindy sibuk menarik dan mengembuskan napas panjang berkali-kali untuk menetralkan lelah. Sementara Dandi hanya terdiam lemas dengan kening berkerut dan bibir meruncing. Keringat membasahi dahi mereka bertiga.
Nayla merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya. Sorot matanya langsung redup begitu menatap layar. Banyak pesan yang ia kirimkan ke Raka belum juga mendapatkan balasan, padahal sudah satu jam berlalu.
Nayla mengembuskan napas kasar. Lipatan tipis terbentuk di antara kedua alisnya. Ia membuka kembali kolom obrolan dan membaca ulang pesan-pesan manis yang ia kirimkan untuk Raka sejam yang lalu:
Sayaaangkuu
Aku hari ini bakalan pulang malem banget deh kayaknya
Hari ini kamu mau ngapain ajaaa?
Kamu belum bangun ya??
Udah jam segini loooh!