Cahaya matahari pagi menyusup pelan melalui celah jendela. Arum keluar dari kamarnya dengan langkah gulai, masih mengenakan baju tidur yang lusuh. Ia berjalan mendekati jendela lalu menggeser gorden. Cahaya terang seketika menerobos masuk, meski belum begitu menyengat.
Arum melirik layar ponselnya yang menunjukkan pukul 06.30. Ia sudah terlambat tiga puluh menit dari jadwal biasanya. Untungnya, hari ini ia libur.
Dengan langkah gontai, Arum menuju dapur dan membuka magic com. Keningnya berkerut mendapati nasi di dalamnya masih utuh. “Nay gak makan?” lirihnya heran.
Ia menutup kembali wadah penanak nasi itu, lalu bergegas ke ruang tengah untuk membuka tudung saji. Makanan yang ia masak semalam untuk Nayla ternyata sama sekali belum tersentuh. Arum menghela napas panjang sembari menatap pintu kamar Nayla yang masih tertutup rapat.
“Gak biasanya dia gak makan gini... Kayaknya emang lagi ada masalah berat,” gumam Arum, sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.
Tiba-tiba, dering telepon memecah keheningan pagi. Arum tersentak dan melihat layar ponselnya. Nama ‘Sekar adikku’ terpampang di sana. Arum mengembuskan napas kasar.
“Masih pagi...,” gumamnya dengan suara parau.
Arum menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. “Halo?”
“Mbak!” suara Sekar menyambar cepat dari seberang sana.
“Kenapa, Kar?” suara Arum terdengar lemas.
“Aku butuh uang dua juta! Buat bayar ujian, ada tambahan biaya, Mbak....”
Arum mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Dua juta?” suaranya tertahan, sedikit meninggi karena terkejut.
“Iya, dua juta. Transfer sekarang ya, Mbak!”
“Minggu kemarin kan Mbak udah transfer, Kar....”
“Mbak, itu kan buat bayar SPP, ini beda lagi buat ujian!” potong Sekar dengan nada yang semakin meninggi dan menuntut.
“Kar... Mbak belum ada uang segitu kalau sekarang.”
“Ah, Mbak! Gak mungkin Mbak gak ada uang! Kalau gak ada, Mbak pinjam dulu kek ke teman Mbak, pasti ada!” paksa Sekar tanpa rasa canggung.
“Sekar! Utang Mbak ke teman-teman Mbak udah terlalu banyak, gak mungkin Mbak ngutang lagi!” Suara Arum gemetar memendam frustrasi.
“Aduh, Mbak! Pokoknya harus ada ya! Terserah Mbak gimana caranya, terakhir besok! Pokoknya harus ada! Mbak kan anak pertama, kalau bukan Mbak yang bayar, terus aku mau minta ke siapa lagi?”
Arum memijit dahinya kencang, memejamkan mata menahan pening yang mendadak menyerang. “Sekar... Tapi kan—”
Belum sempat Arum menyelesaikan kalimatnya, panggilan itu diputus sepihak oleh adiknya.
“Halo? Kar?”
Hanya nada bip berulang yang terdengar. Arum menurunkan ponsel dari telinganya, memandangi layar pekat itu dengan dada yang bergemuruh. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Napasnya seketika terasa amat berat, jemarinya tremor hebat, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Suara slot pintu yang terbuka terdengar. Seketika Arum buru-buru mengusap matanya. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
Kezia keluar dari kamar. Seperti biasa, rambut panjangnya tampak sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur.
“Rum... Bukannya lo libur ya hari ini?” tanya Kezia sembari melangkah mendekati Arum.
Arum melayangkan senyum tipis, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah dan sayu. “Iya... Aku mau cuci baju, makanya bangun lebih pagi.”
Kezia mendudukkan dirinya di sebelah Arum. “Oh... Rajin banget,” ucapnya. Pandangan Kezia kemudian tertuju ke meja makan yang masih dipenuhi piring berisi makanan semalam.
Kening Kezia berkerut dalam. “Si Nay gak makan?” tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
“Hm... Kayaknya Nay lagi ada masalah besar deh....”
Kezia menghela napas panjang lalu berdecak pelan. “Pasti ada hubungannya sama mantannya itu, deh.”
“Kayaknya sih...,” lirih Arum.
Kezia menoleh penuh ke arah Arum. Sorot matanya yang tajam langsung menangkap kedua mata Arum yang memerah. “Lo kenapa, Rum?” tanya Kezia lurus, peka.
“Hah? Enggak... Gak kenapa-kenapa, kok.” Arum memasang senyum canggung.
“Sekar minta uang lagi?” tembak Kezia tanpa basa-basi.
Arum terdiam seketika. Senyum yang sempat ia paksakan perlahan memudar. Ia mengembuskan napas pelan lalu menundukkan kepala, sadar betul bahwa ia tidak akan pernah bisa membohongi Kezia.
“Berapa, Rum? Kali aja gue ada dan bisa bantu,” ucap Kezia hangat sembari meremas lembut pundak Arum.
Arum mendongak, menggeleng pelan. “Enggak, Kez... Aku udah terlalu sering ngerepotin kamu....”
“Gak apa-apa, Rum. Lo gak ngerepotin gue sama sekali.”
“Kez... Makasih banyak, tapi kali ini biar aku cari cara lain dulu, ya?” Arum menatap Kezia dengan sorot mata penuh rasa terima kasih.
Akibat pembicaraannya dengan Sekar di telepon tadi pagi, rencana Arum untuk menikmati hari libur dan beristirahat tenang di kontrakan seketika buyar. Ia mendadak harus memutar otak, mencari cara demi mendapatkan uang tambahan secara cepat untuk membayar biaya ujian adiknya.
Arum tampak mondar-mandir di kamarnya yang remang. Matanya menatap layar ponsel dengan serius hingga keningnya berkerut dalam.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Jarinya bergerak cepat menari di atas layar, mengetuk sebuah nomor kontak, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Dering sambungan telepon terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terhubung. “Halo, La?” sapa Arum.
“La... Maaf ya ganggu waktu kamu. Aku mau minta tolong, nih...,” ucap Arum ragu, suaranya sedikit tertahan.
“Oh iya, kenapa, Rum?” tanya Lala, salah satu teman sejawat Arum di rumah sakit, suaranya terdengar ramah dari balik telepon.
“Kamu... ada kenalan pasien yang lagi cari perawat home care gak?”
“Kamu lagi perlu uang, Rum?”
“I... iya, La... Buat tambahan bayar ujian adik aku.”
“Wah, kebetulan banget deh! Aku ada pasien home care luka dekubitus. Kebetulan malam ini tuh jadwalnya ganti perban, tapi aku tiba-tiba ada urusan mendadak dan Mbak Anne gak bisa diajak tukaran shift. Kamu mau gantiin aku aja gak?”