Keheningan malam menyergap kontrakan dengan begitu sunyi. Tudung saji di meja makan masih tertutup rapat, menyembunyikan sup ayam yang kini mendingin—menjadi saksi bisu kebaikan yang terabaikan dan amarah yang meledak malam ini.
Arum melangkah masuk ke dalam kontrakan dengan pikiran yang sangat kacau. Emosinya disaat yang sama berusaha ia tahan sebisa mungkin. Arum berdiri mematung di depan pintu kamar Nayla yang tertutup rapat. Ia menoleh, memandang pintu kamar Kezia yang tak kalah rapatnya.
Arum kembali menatap pintu kamar Nayla. Ia mengangkat tangannya, hendak mengetuk kayu pintu itu untuk meminta pertolongan dan sandaran. Namun, tangannya membeku dan tertahan di udara. Arum mengembuskan napas pelan, lalu perlahan menurunkan tangannya kembali. Ia menunduk, sorot matanya redup dan dipenuhi kesedihan yang teramat dalam.
Arum membalikkan badan lalu melangkah menuju kamarnya.
Cklek.
Ia membuka pintu, menyalakan lampu kamar, lalu bergegas membuka lemari. Dengan tangan yang gemetar hebat, Arum merogoh tas besarnya dan memasukkan beberapa lembar pakaian secara asal-asalan ke dalam tas tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Arum melangkah keluar kamar dengan tergesa. Ia bahkan tak sempat mematikan lampu, membiarkan pintu kamarnya terbuka begitu saja. Arum melangkah cepat menuju pintu utama kontrakan.
Tangannya sudah menggenggam gagang pintu. Namun sebelum menariknya, Arum sempat menoleh kembali ke arah kamar Nayla dan Kezia. Ia menunduk sejenak—menahan sesak di dada yang nyaris meledak—sebelum akhirnya membuka pintu dan menerobos pekatnya malam.
Tanpa membuang waktu, Arum langsung bergegas menuju Stasiun Pasar Senen. Beruntung, tiket kereta malam jurusan Pasar Senen–Solo Balapan untuk jadwal terdekat masih tersedia. Dengan langkah cepat dan napas yang memburu, Arum melangkah menyusuri lorong gerbong lalu menduduki kursinya.
Laju kereta malam yang membelah kegelapan Jawa seolah berpacu dengan detak jantung Arum yang tak tenang. Arum menatap pantulan dirinya di kaca jendela gerbong yang remang. Terlihat genangan air mata yang siap tumpah di kedua pelupuk matanya. Begitu menyedihkan, batinnya meratapi nasibnya sendiri saat ini.
Dengan tangan gemetar, Arum merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan mengetikkan pesan di grup yang berisi dirinya, Nayla, dan Kezia.
“Guysss! Maaf ya gak pamit langsung, ada masalah mendadak di Solo dan aku harus pulang malam ini. Kalian baik-baik ya di kontrakan. Nanti kalau urusanku di Solo udah selesai, aku pasti balik ke Jakarta.”
Arum mengirim pesan itu, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan sarat keputusasaan sembari menatap kegelapan di luar jendela.
***
Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang tengah, menyorot pintu kamar Arum yang menganga. Lampu di dalam kamar itu masih menyala terang, memantulkan bayangan lemari yang setengah terbuka dan sprei yang sedikit berantakan—jejak terburu-buru yang ditinggalkan pemiliknya semalam.
Kezia yang pertama kali keluar kamar dengan pakaian rapi langsung menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada kamar Arum yang kosong. Ia merogoh saku, meraba ponselnya yang bergetar pelan. Di saat bersamaan, pintu kamar Nayla berderit terbuka. Nayla keluar dengan wajah pucat dan handuk melingkar di leher.
Dua pasang mata itu sempat bertabrakan di udara—dingin dan penuh gengsi. Tanpa sepatah kata pun, Nayla mengalihkan pandangannya lalu melangkah menuju kamar mandi. Kezia mendesis pelan, lalu menunduk menatap layar ponselnya. Pesan dari Arum di grup WhatsApp baru saja masuk, disulut tanda centang dua biru—tanda Nayla pun baru saja membacanya dari dalam kamar.
Setelah seharian kemarin izin tidak masuk kerja, hari ini Nayla harus kembali berhadapan dengan rutinitasnya demi mengalihkan pikiran dari masalah yang menghimpit. Di kubikelnya, Nayla tampak serius mengetik di depan laptop sembari sesekali menyeruput kopi hangat di atas meja.
Tiba-tiba, Sinta datang menghampiri dengan langkah terburu-buru. Tanpa permisi, ia langsung duduk di kursi depan Nayla dan menatapnya dengan pandangan aneh yang penuh curiga.
Nayla tetap mengabaikannya. Pandangannya masih tertuju pada layar laptop, jari-jemarinya sibuk menari di atas keyboard.
Sinta makin mendekatkan wajahnya ke layar laptop Nayla, matanya menyipit menelisik. Nayla menghentikan ketikannya, lalu melirik Sinta tajam.
“Apa?”
Sinta masih terdiam, menyipitkan mata makin curiga.
“Apa sih, Sin?!” suara Nayla mulai naik satu oktav.
“Lo ada hubungan apa sama Raka Aksara Jingga, Kak?”
Nayla mengerutkan keningnya, matanya membelalak kaget. “Hah? Maksud lo?”
“Raka tiba-tiba minta kontak lo.” Sinta terdiam sejenak, menjauhkan badannya dengan raut dramatis. “Lo... godain dia, ya, Kak?”
“Apa sih! Masih pagi udah ngomong aneh-aneh!” tanggap Nayla dengan suara terbata-bata, panik.