Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #13

BAB 13

Dua lembar kuitansi bukti pembayaran terlipat rapi di genggaman Arum. Proses administrasi telah selesai, namun beban di dadanya justru terasa makin meremukkan.

Arum melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju lobi utama, diikuti ibunya, dan Sekar yang berjalan mengekor di belakang dengan kepala tertunduk dalam.

Di dalam mobil online yang membawa mereka pulang, ketiganya duduk bersebelahan. Ibu duduk di tengah, memisahkan Arum dan Sekar. Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan menyiksa. Tak ada satu pun yang bersuara. Sekar terus menunduk sembari meremas ujung jaketnya. Ibu memejamkan mata dengan guratan kecemasan yang tercetak jelas di keningnya. Sementara Arum hanya menatap kosong ke luar jendela kaca, membiarkan pikirannya berantakan.

Sesampainya di rumah, Sekar mempercepat langkahnya, mendahului Arum dan Ibu untuk masuk ke dalam rumah. Arum mengerutkan kening, lalu segera menyusul langkah adiknya.

Sekar berjalan terburu-buru menuju kamar.

“Sekar, jelasin ke Mbak apa yang sebenarnya terjadi!” tuntut Arum sambil terus membuntutinya.

Sekar melangkah masuk dan berniat membanting pintu, namun sebelum sempat terkunci, Arum sudah mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar.

Sekar berdiri mematung. Matanya membelalak kaget, nafasnya memendek, dan jemarinya meremas pinggiran celana dengan kencang. Sekar ketakutan, namun ia berusaha memberanikan diri menatap kakaknya.

Arum menatap Sekar dengan pandangan dingin yang menusuk. Matanya merah dan sembap.

“Apa ini, Sekar?” tanya Arum dengan suara rendah yang berhasil membuat bulu kuduk Sekar berdiri.

Sekar menelan ludahnya dengan susah payah, tak sanggup bersuara.

“Jelasin... apa yang udah...” Arum menahan getar suaranya, “...kamu LAKUIN?!”

Teriakan Arum yang tiba-tiba membuat Sekar tersentak hebat.

Tak lama kemudian, Ibu datang dan berdiri di belakang Arum dengan wajah cemas sembari meremas jemarinya sendiri.

Wajah Sekar memerah, air matanya merebak. “Aku... aku...”

“Apa benar kamu hamil?!” Arum bertanya lagi, kali ini dengan nada datar namun amat mencekam.

“Ma... maaf, Mbak... Maafin aku!” Tangis Sekar akhirnya pecah.

Air mata yang sejak tadi ditahan Arum langsung tumpah membasahi pipinya. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, menahan pening yang mendadak menghantam kepalanya.

“Maaf Mbak, aku khilaf!” Sekar meraung.

Arum menurunkan tangannya, lalu mengepalkan kedua jemarinya erat-erat. “Tega kamu sama Mbak, Sekar!” teriak Arum dengan suara pecah.

Lihat selengkapnya