Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #14

BAB 14

Suasana malam itu begitu dingin dan sunyi. Ditinggal Arum ke Solo serta menyisakan canggung pasca-pertengkaran Nayla dan Kezia, kontrakan itu tak lagi terasa sama. Ruang tengah kini menjadi sangat sepi dan asing. Cahaya lampu yang remang makin menambah kesan muram. Hanya terdengar detak jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 WIB.

Nayla melangkah masuk ke dalam kontrakan. Kembali ke rutinitas lamanya, Nayla mulai pulang melampaui larut malam. Entah karena tumpukan pekerjaan di kantor yang memang tak ada habisnya, atau sekadar caranya menghindar dari Kezia.

Nayla menutup pintu utama pelan, lalu melangkah perlahan menuju kamarnya. Namun, tepat saat jemarinya hendak meraih gagang pintu kamar, sebuah suara samar dari dalam kamar Kezia menghentikan gerakannya.

Nayla menoleh, menatap pintu kamar Kezia yang tertutup rapat di sebelah kamarnya. Terdengar isakan pelan yang begitu tertahan. Kening Nayla berkerut. Ia melangkah pelan dan berhati-hati mendekati pintu itu, lalu menyengajakan telinganya merapat ke permukaan kayu. Suara tangis Kezia kini terdengar jauh lebih jelas dan menyayat.

Nayla menjauhkan kepalanya. Ia membalikkan tubuh, kembali melangkah ke pintu kamarnya sendiri. Ia berdiri mematung sejenak dengan raut kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Namun, Nayla segera menggelengkan kepala cepat, mencoba menepis dorongan itu, lalu membuka pintu kamar dan masuk.

Cklek. Pintu kamar Nayla tertutup rapat.

Nayla meletakkan tasnya di atas meja kerja, lalu melangkah lesu menuju tempat tidur dan terduduk di pinggirannya. Pandangannya menerawang dengan sorot mata penuh cemas.

Kenapa ya Kezia? batinnya heran.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel memecah kesunyian kamar. Nayla merogoh saku jaketnya, menarik keluar ponselnya, lalu menatap layar yang menyala. Keningnya makin berkerut dalam saat jemarinya membuka aplikasi WhatsApp.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Meski tanpa nama dan foto profil, Nayla sangat mengenali deretan angka itu—nomor yang pernah ia hapal luar kepala. Jantung Nayla mendadak berdegup kencang secara abnormal.

“Raka...,” lirihnya dengan suara tercekat.

Dengan jemari gemetar, Nayla membuka dan membaca isi pesan singkat tersebut:

Hai Nayla... ini aku, Raka.

Setelah membaca pesan itu, Nayla menggenggam ponselnya erat-erat, membiarkan dadanya bergemuruh sendirian di dalam kamar.

Di luar, pintu kamar Kezia berderit pelan. Kezia melangkah keluar dengan tubuh lesu menuju dapur. Di bawah temaram cahaya ruang tengah, ia meraih sebuah gelas kaca dari rak, lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Setelah air memenuhi hampir sembilan puluh persen gelasnya, Kezia membalikkan badan dan melangkah lambat menuju ruang tengah.

Ia mendudukkan dirinya di atas sofa, menatap kosong pada layar televisi yang padam di hadapannya. Mata Kezia sembap dan memerah; wajahnya tampak begitu kacau dan menyedihkan—sebuah pemandangan langka bagi sosok Kezia yang biasanya selalu tampil tangguh dan dominan. Ia meneguk sedikit air, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan tercekat.

Tiba-tiba, suara derit pintu kayu memecah keheningan malam. Pintu kamar Nayla terbuka. Nayla melangkah keluar, lalu menghentikan pijakannya sejenak saat menangkap sosok Kezia yang sedang termenung sendiri di sofa.

Nayla berjalan pelan mendekat, lalu tanpa sepatah kata pun, ia duduk di sebelah Kezia.

Keheningan pekat kembali melingkupi mereka. Belum ada yang bersuara. Kezia hanya kembali meneguk air dari gelas di genggamannya dengan jemari yang masih gemetar pelan.

“Raka baru aja chat gue, Kez...”

Kezia menghentikan gerakan gelasnya, lalu melirik Nayla pelan dari samping.

“Gue tahu gue kelihatan bodoh karena gak pernah bisa benar-benar lepas dari bayang-bayang dia. Tapi lo tahu kenapa Raka susah banget buat gue lupain...?” Nayla mengembuskan napasnya pelan, menatap kosong ke depan.

“Raka itu... pacar pertama gue, Kez. Sekaligus cinta pertama gue....” Nayla terdiam sejenak, menelan ludahnya yang terasa pahit.

“Di saat keluarga gue nyuruh gue lepasin mimpi gue di Jakarta, Raka yang coba yakinin gue untuk tetap stay di sini. Dia yang selalu semangatin gue pas gue lagi stres-stresnya awal kerja...,” Nayla terdiam sejenak, menundukkan kepanya. “Raka itu penyayang banget. Gue punya Bapak yang keras, sementara Raka... dia sosok laki-laki hangat yang selama ini gue butuhkan,” lanjutnya.

Lihat selengkapnya