Atap Teduh di Ibu Kota

Mayola Amanda
Chapter #15

BAB 15

Suasana pagi itu terasa hangat dan terang. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah jendela, membiarkan sinarnya menyiram ruang tengah kontrakan. Nayla, Kezia, dan Arum sedang asyik menikmati sarapan pagi di ruang tengah—sebuah hidangan sandwich sederhana namun lezat yang dibuatkan oleh Arum.

“Sumpah, Rum?!” seru Nayla dengan mata membelalak sempurna. Mulutnya menganga hingga memperlihatkan sisa makanan yang belum sempat ia telan.

Sementara itu, Kezia hanya terdiam membeku dengan raut wajah yang tak kalah terkejutnya dari Nayla.

“Aku gak tahu siapa laki-laki yang udah hamilin dia... dan aku memilih untuk gak mau tahu. Biar Sekar sendiri yang menanggung dan mengurus masalah itu...,” tutur Arum. Meski berusaha tenang, raut kekecewaan mendalam masih membekas samar di wajahnya.

Nayla mengunyah sisa makanan di mulutnya dengan cepat, lalu menelannya habis. Ia menatap Arum dengan sorot mata penuh empati dan rasa iba.

Kezia mengulurkan tangan, memegang pundak Arum dengan lembut lalu mengusapnya perlahan tanpa mengutarakan kata-kata—memberikan penguatan yang sangat dibutuhkan sahabatnya itu.

Arum menghela napas panjang, lalu perlahan menyunggingkan senyuman manis kepada kedua sahabatnya secara bergantian.

“Tapi mulai sekarang... aku bakal lebih mementingkan diriku sendiri!” tegas Arum dengan sorot mata penuh keteguhan.

Nayla dan Kezia yang tadinya dipenuhi rasa iba seketika tersenyum lebar.

“Keren banget Arum kita ini!” puji Nayla gemas sembari memegang kedua pipi Arum.

“Mulai sekarang, aku bakal beli baju-baju bagus, makan makanan enak dan mahal, beli skincare mahal, dandan yang cantik, dan...” Arum menggantungkan kalimatnya sejenak, tampak berpikir keras tentang hal liar apalagi yang ingin ia lakukan dalam hidup barunya.

“Aku bakal cari pacar!” teriak Arum tiba-tiba dengan nada bersemangat.

Nayla dan Kezia saling bertatapan. Mulut mereka kembali menganga lebar dengan mata yang membelalak tak percaya atas deklarasi tersebut.

“Arum... mau cari pacar?!” pekik Nayla heboh.

“Arum mau cari pacar, guys! Akhirnyaaa...!” Kezia tak kalah heboh berteriak girang.

Arum tertawa terbahak-bahak melihat respons heboh dari kedua sahabatnya itu. Tawa mereka bertiga pecah, menyatu dengan hangatnya sinar matahari pagi di ruang tengah.

“Arum keren banget, sih!” puji Nayla tak ada habisnya.

“Pokoknya... mulai sekarang kalian bakal liat aku dengan versi yang berbeda! Tunggu aja,” ucap Arum penuh percaya diri sembari mengacungkan jari telunjuknya.

“Gue gak mau kalah dari Arum!” tiba-tiba Kezia menyahut lantang.

Nayla dan Arum mendadak bungkam, menatap Kezia dengan raut bingung sekaligus penasaran.

“Hari ini... gue bakal mengakhiri hubungan gue sama Rian,” ucap Kezia tegas.

Arum dan Nayla terdiam. Nayla mengangguk pelan; ia sudah bisa menebak keputusan ini sejak obrolan mereka tadi malam. Sementara Arum tampak terkejut, terlihat dari sorot matanya yang membelalak.

“Kenapa, Kez?” tanya Arum lembut.

“Gue udah capek, Rum... Gue rasa, udah cukup selama ini gue sendirian yang memperjuangkan hubungan ini,” jawab Kezia tenang. Tak ada lagi air mata, yang tersisa hanyalah rasa lelah yang siap ia lepaskan.

Arum mengembuskan napas pelan, menatap Kezia dengan sorot penuh simpati dan dukungan. “Semoga itu keputusan yang terbaik buat kamu ya, Kez...,” ucap Arum sambil mengusap pundak Kezia lembut.

“Dan gue...!” tiba-tiba Nayla ikut memotong, menepuk meja pelan untuk mendeklarasikan keputusannya.

Arum dan Kezia seketika menoleh, memusatkan perhatian pada Nayla.

“Gue bakal ketemu sama Raka.”

Nayla menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Gue bakal ungkapin semua yang gue rasain selama ini. Gue bakal tanyain semua hal yang mengganjal di otak gue, biar setelah ini... gue bisa benar-benar melangkah pergi dengan tenang.”

Kezia tiba-tiba menepuk kedua tangannya heboh, membuat Arum dan Nayla tersentak.

“Nah! Ini baru Nayla yang gue kenal!” seru Kezia dengan senyum bangga. “Go for it, Nay! Tanya semuanya, jangan ada yang disisa-sisa! Biar kalaupun lo harus menutup lembaran itu, lo tutup dengan bermartabat!”

“Bener!” Arum ikut mengangguk setuju. “Biar gak ada lagi rasa penasaran yang bikin lo kepikiran tiap malam,” ucap Kezia.

“Pokoknya...,” Kezia mengangkat gelas kopi/tehnya tinggi-tinggi ke udara. “Hari ini adalah hari pertama kita bertiga resmi berhenti jadi perempuan lemah! Cheers buat diri kita yang baru!”

Arum dan Nayla tertawa, lalu ikut mengangkat gelas mereka dan mengadukannya bersama di udara.

***

Kezia terdiam di dalam mobilnya. Ia menoleh ke samping, memandang kantong belanjaan yang ia beli sehabis pulang kerja. Kezia merogoh ponsel di dalam tas, mengusap layarnya beberapa kali, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

Lihat selengkapnya