Nayla melangkah keluar dari kafe. Desiran angin malam menyambutnya, membuat rambut yang tergerai itu sedikit berantakan. Tak lama kemudian, suara klakson mobil memecah kesunyian malam.
Mobil Kezia terparkir di seberang kafe. Kaca jendelanya diturunkan, menampilkan wajah Kezia dan Arum yang tampak menanti dengan antusias.
“Naaay!” teriak Arum sambil melambaikan tangan, senyum lebarnya menyambut Nayla.
Nayla mendapati sahabatnya, ia melambaikan tangan dan segera berjalan dengan langkah ringan menuju mobil. Begitu pintu tertutup, suasana mobil yang tadinya tenang seketika pecah.
“Lama ya?” tanya Nayla.
“Hm... lumayan sih... kayaknya dramatis banget nih obrolannya...,” goda Kezia.
“Kamu nggak balikan, kan, Nay?” Arum tak mau kalah, menatap Nayla dari spion tengah dengan sorot penuh rasa ingin tahu.
“Ya enggak lah! Masa, gue balikan sih...,” jawab Nayla sambil terkekeh.
“Ih!” Kezia mengerutkan kening, menatap aneh Nayla lewat kaca spion. “Lo beneran nggak balikan lagi, kan, Nay?!” teriak Kezia panik.
Nayla tertawa lepas. “Ya enggak lah! Takut banget kalian...,” candanya.
“Ya iyalah! Kita was-was tahu,” sahut Kezia lega. “Terus gimana tadi? Udah selesai semuanya?”
Nayla mengembuskan napas panjang, menatap ke luar jendela sebelum menjawab. “Udah... semuanya udah selesai. Sekarang udah nggak ada pertanyaan lagi, dan ya... kita sepakat untuk berdamai, dan... jadi teman.”
Kezia menyipitkan matanya, menatap curiga. “Teman... mana bisa mantan jadi teman....”
“Eh! Terus lo gimana, Kez?” Nayla mengalihkan pembicaraan, bukan untuk menghindar, namun ia benar-benar penasaran dengan kabar sahabatnya.
“Yah... gue putus sama Rian....”
“Lo nggak apa-apa?”
Kezia terdiam sejenak, menatap jalanan di depannya dengan pandangan menerawang. “Yah... nangis lah, Nay. Gue nangis banget! Tapi... sekarang sudah lega sih. I’m okay! Beneran!” ucap Kezia dengan nada meyakinkan.
“Syukur deh....” Arum tersenyum lega, lalu menepuk bahu Kezia. “Sekarang, waktunya kita healing!” sahut Arum.