ATAP YANG SAMA

mayang dara negara
Chapter #1

#RIO

"Ini bayaran kamu sebagai fotografer hari ini. Kerja bagus, Rio. Hasil foto-fotonya kelihatan sangat hidup," ucap Pak Harris, ketua panitia reuni akbar angkatan 90-an itu, sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat yang terasa cukup tebal di tangan Rio.

Rio menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaus bandnya yang sudah mulai lembap. Ia melirik sekilas ke arah aula hotel yang kini mulai sepi, menyisakan dekorasi balon yang mengempis dan beberapa gelas kristal yang kosong. Sepanjang lima jam terakhir, ia telah menangkap ratusan tawa yang dipaksakan, pelukan canggung antar kawan lama, hingga kerutan di wajah orang-orang yang berusaha keras terlihat masih muda.

"Terima kasih ya, Pak," kata Rio sambil tersenyum tulus. Ia menyelipkan amplop itu ke dalam saku celana kargonya yang penuh dengan tutup lensa dan kartu memori. "Saya segera kirim versi editnya lewat link minggu depan.

Sambil mulai mengemas kamera DSLR-nya dan melipat tripod yang sudah menemaninya berdiri seharian, Rio menghela napas panjang. Kakinya terasa pegal, dan bahunya seolah mau copot memikul beban tas kamera. Namun, ada kepuasan tersendiri tiap kali ia berhasil menangkap momen yang tulus di tengah kepalsuan sebuah pesta.

Baru saja Rio hendak melangkah keluar dari hotel, ponsel di saku celananya bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang ia namai "Admin Marketing - Citra Grand Central".

"Selamat malam, Pak Satria Rio. Kami ingin menginformasikan bahwa progres pembangunan unit rumah tipe 45 Anda sudah mencapai 70%. Mohon segera melengkapi dokumen sisa pelunasan termin ketiga agar serah terima kunci bisa dilakukan tepat waktu bulan depan. Terima kasih."

Rio tersenyum lebar. Kabar ini seperti oase di tengah rasa lelahnya. Memiliki rumah di pusat kota adalah impiannya agar ia tak perlu lagi menembus kemacetan panjang setiap kali ada job dadakan. Apalagi, rumah itu akan menjadi milik pribadinya

Ia menepuk saku celananya yang berisi amplop bayaran tadi. "Sedikit lagi, Rio. Kamu bakal punya 'Atap yang Sama' dengan keinginanmu sendiri, bukan karena terpaksa," batinnya.

Rio segera mengetik balasan singkat dengan ibu jarinya yang masih sedikit kotor karena bekas peralatan foto. "Oke, besok pagi saya cek lokasinya. Terima kasih," kirimnya.

Ia melirik jam tangannya—pukul lima sore lewat sedikit. Langit mulai berubah warna menjadi jingga yang pekat. Tubuhnya terasa remuk, dan bayangan rumah di pusat kota itu terasa seperti cahaya di ujung terowongan baginya. Ia ingin segera pulang, mandi, dan mungkin merayakan kabar baik ini dalam diam sebelum esok tiba.

Lihat selengkapnya