Kirana menarik napas panjang, berusaha meredakan detak jantungnya yang berpacu seirama dengan deru mesin motor matiknya. Dengan gerakan anggun namun terburu-buru, ia turun dan mulai mendorong motornya masuk melewati pagar besi yang ia buka sesedikit mungkin. Matanya langsung tertuju pada motor custom milik Rio yang sudah terparkir di sudut teras.
"Ternyata Rio sudah pulang," batin Kirana cemas. "Bagaimana ini? Aku harap dia sudah tertidur pulas."
Ia melirik jam tangan peraknya—pukul 11.00 malam tepat. Sebagai seorang teller bank, jam kerjanya memang sering kali tidak masuk akal. Meski gerbang bank ditutup pukul tiga sore, tugas Kirana justru baru benar-benar dimulai setelahnya. Ia harus melakukan settlement atau penyeimbangan kas.
Tadi sore, ada selisih angka yang cukup besar di laporannya. Kirana harus membongkar kembali ribuan slip setoran, menghitung ulang tumpukan uang fisik yang mulai terasa lengket di jarinya, dan menyisir setiap transaksi digital hingga satu rupiah terakhir. Baginya, uang bank bukan sekadar kertas, tapi tanggung jawab yang mempertaruhkan integritasnya. Selisih satu perak pun berarti ia belum boleh pulang. Kelelahan mental itu kini membekas di wajahnya yang tetap terlihat cantik namun tampak sangat pucat di bawah lampu teras yang temaram.
Biasanya, Kirana-lah yang akan berdiri di depan pintu dengan wajah dingin jika Rio pulang di atas jam sepuluh. Namun malam ini, posisinya berbalik. Ia merasa seperti seorang prajurit yang kalah perang, pulang dengan seragam bank yang masih melekat pas di tubuhnya, namun bahunya sudah terkulai lemas.
Dengan sangat hati-hati, Kirana memasukkan kunci pintu, berharap suara klik sekecil apa pun tidak akan membangunkan laki-laki yang biasanya ia marahi itu. Ia tidak tahu, bahwa di balik dinding kamar sebelah, Rio juga sedang meringkuk di balik selimut, sama-sama merasa bersalah karena tidak mencuci muka demi menghindari pertemuan dengannya.
Pagi itu, alarm di ponsel Kirana berbunyi tepat pukul lima subuh. Meski matanya terasa berat akibat lembur hingga tengah malam, disiplin sebagai pegawai bank sudah mendarah daging. Ia segera beranjak dari kasur, merapikan sprei hingga tanpa kerutan, lalu melangkah menuju dapur yang masih remang.
Di dapur, terdapat sebuah magic com atau pemanas nasi yang menjadi "wilayah netral" bagi mereka. Aturannya jelas: masing-masing membeli beras sendiri dan kebutuhan dapur lainnya, namun untuk nasi, mereka menyumbangkan takaran beras yang sama agar bisa dimakan bersama.
Hari ini Selasa, giliran Kirana yang bertugas memasak nasi dan menyiapkan sarapan sederhana. Sementara ia mencuci beras, matanya sempat melirik ke arah pintu kamar Rio yang masih tertutup rapat.
"Entah jam berapa sebenarnya dia pulang semalam," batin Kirana sambil menekan tombol cook.
Bagi Kirana, sarapan adalah satu-satunya momen ia menyentuh peralatan dapur. Makan siang dan malam selalu ia habiskan di kantin atau ruang istirahat kantor. Sedangkan Rio? Kirana benar-benar tidak mau tahu pria itu makan di mana atau bersama siapa.
Suasana dapur pagi itu sunyi, hanya diiringi suara gemericik air saat Kirana mencuci piring bekasnya sendiri. Di rumah ini, piring dan peralatan makan adalah tanggung jawab masing-masing—siapa yang memakai, dia yang mencuci. Untuk urusan pakaian pun sama, meskipun mereka lebih sering menggunakan jasa laundry kiloan yang berbeda demi menjaga privasi.
Kirana menyelesaikan suapan terakhirnya dengan terburu-buru. Setelah mencuci piring dan gelasnya sendiri hingga mengkilap—sesuai standar kebersihan bank tempatnya bekerja—ia bergegas masuk ke kamar untuk menyiapkan perlengkapan mandinya. Ia sedikit lama di dalam kamar karena harus memastikan seragamnya tidak ada kerutan sedikit pun dan menata isi tas kerjanya agar tidak ada dokumen yang tertinggal.
Setelah merasa siap, Kirana keluar kamar sambil menyampirkan handuk putih bersih di bahunya. Ia melangkah mantap menuju kamar mandi, membayangkan kesegaran air dingin yang akan menghapus rasa lelah lemburnya semalam. Namun, saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu, suara gemericik air dan bunyi shower sudah terdengar dari dalam.
Kirana terpaku. Pintu kamar mandi terkunci rapat.