Hujan Selalu Tahu Tempat yang Lemah
Hujan selalu tahu bagian rumah mana yang paling lemah.
Ia tidak peduli bagian itu baru ditambal minggu lalu, ditutup semen, dilapisi plastik, atau sudah didoakan supaya bertahan sampai ada uang.
Malam itu, hujan menemukan tujuh titik sekaligus.
“Ka! Yang deket kulkas!”
Raka menoleh.
Setetes air jatuh dari plafon.
Lalu dua.
Tiga.
Dalam beberapa detik berubah menjadi aliran tipis yang menetes tepat di depan kulkas dua pintu berwarna abu-abu yang usianya mungkin lebih tua daripada Naya.
“Ya Allah…”
Raka berlari mengambil baskom.
“Jangan yang biru!” teriak ibunya dari dapur.
Raka berhenti.
“Kenapa?”
“Itu buat rendam kerupuk!”
“Bu, rumah kita bocor!”
“Makanya ambil yang merah!”
Raka memejamkan mata dua detik.
Entah sedang mengumpulkan kesabaran atau mencoba memahami sistem prioritas ibunya.
Air kembali menetes.
Plok.
Plok.
Plok.
“Astaga.”
Ia membuang baskom biru, mengambil ember cat bekas, lalu menaruhnya di bawah kebocoran.
“Pakai itu aja!”
“Bekas cat.”
“Air hujan juga nggak mau diminum!”
Dari ruang tengah terdengar Naya tertawa.
Raka menoleh tajam.
Adiknya sedang duduk selonjoran di lantai sambil memegang ponsel. Sebuah charger menggantung dari stopkontak yang sudah ditempeli selotip hitam.
“Daripada ketawa, bantuin.”
“Aku lagi pegang colokan.”
“Colokan punya tangan?”
“Kalau aku lepas, HP mati.”
“Ya mati.”
“Besok aku kuliah.”
“Kuliah apa ngecas?”
Naya menatapnya.
“Orang pengangguran jangan galak-galak.”
Raka diam.
Tepat satu detik.
Kemudian ia menunjuk adiknya menggunakan gayung.
“Gue lempar ini, ya.”
Naya langsung bangkit.
“Eh, bercanda.”
“Bantu angkat karpet.”
“Kenapa harus aku?”
“Karena gue kakak lo.”
“Alasan paling nggak produktif sedunia.”
Mereka mengangkat karpet murah yang sudah mulai basah di salah satu sudut.
Di luar, hujan menimpa seng, genteng, talang, dan kanopi dengan suara yang saling bertabrakan.
Kontrakan keluarga Hamdan berdiri di salah satu gang sempit Kampung Cempaka—sebuah kawasan padat di pinggiran kota yang kalau pagi dipenuhi motor orang berangkat kerja dan kalau malam dipenuhi suara televisi dari rumah yang pintunya tidak pernah benar-benar tertutup.
Bangunannya berbentuk huruf L.
Delapan pintu kontrakan menghadap halaman semen yang lebarnya hanya cukup untuk dua motor berpapasan sambil sama-sama mengalah sedikit.
Dindingnya sudah berkali-kali dicat.
Hijau.
Lalu krem.
Kemudian putih.
Sekarang warnanya lebih mirip keputusan yang belum selesai.
Beberapa bagian mengelupas.
Talang depan sudah disambung menggunakan potongan seng.
Pagar besinya miring sedikit ke kiri.
Di sebelah kanan ada pohon mangga yang jarang berbuah tetapi rajin menjatuhkan daun ke saluran air.
Keluarga Raka menempati unit paling depan yang ukurannya sedikit lebih besar daripada unit lain.
Dua kamar.
Ruang tengah.
Dapur sempit.
Satu kamar mandi.
Dulu unit itu dibuat kakeknya sebagai rumah utama sebelum tanah belakang sedikit demi sedikit dibangun menjadi kontrakan.
Sekarang, dari delapan pintu, tiga kosong.
Dua sejak bulan lalu.
Satu sudah hampir empat bulan.
Dan setiap pintu kosong berarti satu hal yang sama.
Uang yang tidak masuk.
“Yang kamar depan bocor juga!”
Suara Hamdan terdengar dari teras.
Raka menoleh.
Ayahnya masuk dengan rambut basah dan kaus yang menempel di punggung.
Di tangannya ada selembar plastik lebar.
“Kenapa malah keluar, Yah?”
“Periksa talang.”
“Lagi hujan gede begini?”
“Makanya diperiksa pas hujan. Kalau panas, airnya mana?”
Raka ingin menjawab.
Tidak jadi.
Ia sudah terlalu mengenal logika bapaknya.
Hamdan meletakkan plastik di dekat pintu.
Usianya lima puluh delapan tahun, tetapi beberapa bulan terakhir membuat wajahnya terlihat lebih tua.
Rambut putih semakin banyak.
Bahu sedikit turun.
Dan yang paling membuat Raka tidak nyaman adalah kebiasaan baru ayahnya menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sederhana.
“Bengkel gimana?” tanya Raka.
Hamdan melepas sandal.
“Biasa.”
Raka mendengus kecil.
Kalau orang lain menjawab “biasa”, artinya tidak ada yang istimewa.
Kalau Hamdan menjawab “biasa”, artinya ada masalah yang belum ingin dibicarakan.
“Biasa apaan? Ada servis masuk?”
“Ada.”
“Berapa?”
“Dua.”
“Apaan?”
“Rice cooker sama kipas.”
Raka menunggu.
“Terus?”
“Ya diperbaiki.”
“Bayar?”
Hamdan menoleh.
“Namanya servis.”
“Gue nanya bayar apa ngutang?”
“Raka.”
“Apa?”
“Bantuin rumah dulu.”
Nada Hamdan tidak tinggi.
Justru itu yang membuat Raka semakin kesal.
Selama dua minggu terakhir semua percakapan tentang uang selalu berhenti seperti itu.
Besok.
Nanti.
Lihat dulu.
Insyaallah ada jalan.
Raka mulai membenci kalimat-kalimat yang tidak memiliki angka.
Ia membutuhkan angka.
Berapa pemasukan.
Berapa utang.
Berapa lama mereka bisa bertahan.
Berapa banyak yang sebenarnya tidak ia ketahui.
“Bang.”
Naya berdiri di sampingnya sambil memegang keset.
“Apa?”
“Ini diapain?”
“Jemur.”
Naya menunjuk ke luar.
Hujan seperti ditumpahkan dari langit.
“Jemur di mana?”
Raka menatap hujan.
“Oke. Pertanyaan bagus.”
Naya tertawa lagi.
Bu Nur muncul dari dapur membawa panci kecil.
“Kalian kalau ribut jangan di depan pintu. Anginnya masuk.”
“Bu, hujannya masuk. Angin mah bonus.”
“Banyak ngomong.”
Nurhayati, lima puluh empat tahun, mengenakan daster bermotif bunga yang bagian bawahnya dilipat sampai betis.
Setiap pagi sebelum matahari benar-benar muncul, ia sudah duduk di depan kontrakan menjual nasi uduk, gorengan, kopi sachet, dan apa pun yang menurutnya bisa dijual tanpa modal terlalu besar.
Kalau dagangan habis, ia bilang rezeki.
Kalau tidak habis, ia bilang buat makan malam.
Sistem bisnis yang menurut Raka tidak akan pernah diajarkan di sekolah manajemen mana pun.
Bu Nur menaruh panci di meja.
“Nih. Makan.”
Raka melihat isinya.
Telur balado.
“Nasinnya?”
“Ambil sendiri.”
“Katanya makan.”
“Ya saya bukan restoran.”
Raka mengambil piring.
Naya ikut mendekat.
“Ibu, telurnya cuma tiga?”
“Bapak satu. Kamu satu. Kakakmu satu.”
“Ibu?”
“Saya sudah makan.”
Raka berhenti mengambil nasi.
“Kapan?”
“Tadi.”
Naya dan Raka saling pandang.
Mereka sama-sama tahu ibunya berbohong.
Bu Nur biasanya baru makan kalau semua orang selesai.
Raka mengambil satu telur lalu memotongnya menjadi dua.
Ia memindahkan setengah ke piring kecil.
“Buat Ibu.”
“Sok kaya.”
“Telur doang.”
“Makanya makan aja.”
“Bu.”
“Apa?”
“Makan.”
Bu Nur memandang anaknya sebentar.
Lalu mengambil piring itu.
“Banyak aturan sekarang pengangguran.”
Raka menghela napas.
“Kenapa semua orang malam ini seneng banget ngingetin status gue?”
“Biar nggak lupa.”
Naya langsung menunduk supaya tawanya tidak terlihat.
“Lo ketawa sekali lagi, Nay—”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu datang dari pagar depan.
Tidak keras.
Tapi cukup membuat Hamdan yang sedang membuka lemari kecil berhenti bergerak.
Raka melihat ayahnya.
Hamdan melihat pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini lebih keras.
“Siapa malam-malam begini?” Bu Nur bertanya.
Tidak ada yang menjawab.
Raka menaruh piring.
Ia berjalan ke teras.
“Ayah nunggu orang?”
“Nggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Raka berhenti.
“Ayah?”
“Buka aja.”
Hujan masih deras.
Lampu teras memantulkan air yang mengalir di halaman semen.
Raka membuka pintu depan, kemudian berjalan sampai pagar.
Seorang laki-laki berdiri di luar sambil mengenakan jas hujan hitam.
Umurnya mungkin pertengahan tiga puluhan.
Helm masih terpasang.
Sebuah tas selempang menggantung di dadanya.
“Pak Hamdan?”
Raka menatapnya.
“Bapak siapa?”
“Saya mau ketemu Pak Hamdan.”
“Urusan?”
Lelaki itu menghela napas.
Sepertinya sudah sering menghadapi pembuka percakapan seperti ini.
“Penagihan, Mas.”
Satu kata itu terasa jauh lebih keras daripada suara hujan.
Raka tidak langsung membuka pagar.
“Dari mana?”
Lelaki tersebut menyebut nama sebuah perusahaan pembiayaan yang pernah Raka dengar sekilas.
Bukan salah satu aplikasi pinjaman online yang sering muncul di iklan.
Raka mengernyit.
“Utang apa?”