ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #2

PINTU 2: KAMAR

Murah, Asal Jangan Banyak Masalah

Pukul enam lewat tujuh menit pagi, ponsel Raka sudah berbunyi sembilan kali.

Bukan panggilan kerja.

Bukan kabar dari perusahaan yang pernah menerima CV-nya.

Bukan juga pesan dari teman lama yang tiba-tiba teringat punya utang dua ratus ribu kepadanya.

Semua dari iklan kontrakan.

Raka masih tidur ketika suara notifikasi kesepuluh berbunyi dari lantai.

Tit.

Ia menarik bantal menutupi kepala.

Tit.

Tit.

Tit.

“Bang.”

Raka tidak bergerak.

“Bang.”

“Apaan…”

“HP lo bunyi terus.”

“Biarin.”

“Kalau lowongan kerja?”

Raka membuka sebelah mata.

Naya berdiri di depan pintu kamar dengan rambut masih berantakan dan sikat gigi menggantung di mulut.

“Kalau lowongan kerja nggak akan chat jam enam pagi.”

“Siapa tahu HR-nya rajin.”

“HR yang rajin nggak nyari gue.”

Naya mengangkat bahu lalu pergi.

Raka memejamkan mata lagi.

Tiga detik.

Tit.

Ia langsung bangun.

“Anjing.”

Dari dapur terdengar suara Bu Nur.

“Pagi-pagi jangan ngomong binatang!”

Raka mengambil ponselnya.

Layar penuh pesan.

Mas kamar masih ada?

Bang bisa pasutri?

Boleh bawa kucing tiga?

Kamar mandi dalam?

Bisa tahunan?

Bang lokasi tepatnya di mana?

Boleh campur cowok-cewek?

Raka mengerutkan dahi.

Satu pesan terakhir berbunyi:

Kalau bayar dua minggu dulu bisa nggak, Bang? Nanti sisanya nyusul.

Ia langsung menekan layar sampai percakapan itu tertutup.

“Baru juga buka.”

Raka keluar kamar.

Bu Nur sedang membungkus nasi uduk di depan rumah.

Pagi di Kampung Cempaka sudah mulai ramai.

Motor keluar-masuk gang.

Suara sendok beradu dengan gelas dari warung Bu Lilis terdengar dari seberang.

Seorang anak berseragam sekolah berlari sambil menggigit gorengan.

Di ujung gang, tukang sayur sedang berdebat dengan seseorang soal harga tomat.

Normal.

Seolah tadi malam tidak ada surat utang delapan puluh tiga juta di meja mereka.

Raka duduk di bangku plastik dekat warung ibunya.

“Bu.”

“Hm?”

“Orang nyari kontrakan ternyata banyak juga.”

“Ya bagus.”

“Yang nggak punya duit juga banyak.”

Bu Nur mengikat bungkus nasi.

“Itu lebih banyak lagi.”

Raka menunjukkan ponselnya.

“Ini ada yang nanya bisa bawa tiga kucing.”

“Boleh.”

Raka menoleh.

“Serius?”

“Asal bayar.”

“Kalau pup di depan kamar?”

“Ya yang punya bersihin.”

“Kalau nggak?”

“Potong deposit.”

Raka menatap ibunya sebentar.

“Kayaknya Ibu cocok jadi landlord.”

Bu Nur tidak paham istilah itu.

“Apaan?”

“Pemilik kontrakan.”

“Ya dari dulu juga punya.”

“Maksud gue profesional.”

“Profesional apaan, kontrakan juga bocor.”

Raka tidak bisa membantah.

Hamdan keluar dari unit depan sambil membawa obeng kecil.

Ia belum banyak bicara sejak malam tadi.

Setelah salat Subuh, ia sudah memeriksa talang belakang, lalu berangkat ke bengkel sebentar untuk membuka pintu.

Sekarang ia kembali.

“Yang kamar satu lampunya mati,” katanya.

Raka menatap ayahnya.

“Lampu doang?”

“Ya.”

“Plafon?”

“Aman.”

“Bocor?”

“Sedikit.”

Raka langsung berdiri.

“Sedikit tuh berapa titik?”

Hamdan memandang anaknya.

“Satu.”

“Semalam rumah kita tujuh titik.”

“Itu rumah kita.”

“Kontrakan satu titik juga tetap bocor.”

“Namanya rumah lama.”

Raka mengembuskan napas.

“Kalau ada orang lihat hari ini, bilang dulu.”

Hamdan mengangguk.

“Cat depan juga udah jelek.”

“Ayah tahu.”

“Kalau tahu kenapa nggak dicat?”

“Catnya beli pakai doa?”

Raka berhenti.

Naya yang baru keluar kamar langsung menahan senyum.

Raka menunjuk ayahnya.

“Nah, ternyata bisa juga becanda.”

Hamdan berjalan ke belakang tanpa menanggapi.

Naya mendekati bangku.

“Bang, ada yang udah janjian lihat?”

“Jam sembilan katanya.”

“Siapa?”

“Nggak tahu. Namanya Martha.”

Bu Nur yang sedang menyusun gorengan tiba-tiba menoleh.

“Martha?”

“Iya.”

“Orang Kristen?”

Raka menatap ibunya.

“Emang dari nama bisa langsung keluar data KTP?”

“Ya biasanya.”

“Terus kenapa?”

“Ya nggak kenapa.”

Bu Nur melanjutkan pekerjaannya.

Raka tersenyum kecil.

“Ibu penasaran.”

“Enggak.”

“Penasaran.”

“Bantuin angkat termos sana.”

Itu cara Bu Nur mengakhiri percakapan kalau mulai ketahuan ingin tahu.

Jam sembilan kurang sepuluh, Raka sudah menyapu halaman kontrakan untuk kedua kalinya.

Bukan karena kotor.

Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa sambil menunggu.

Pintu kamar satu dibuka lebar.

Kamar itu kosong sekitar sebulan.

Ukurannya tiga kali empat.

Ada kamar mandi kecil di belakang.

Ventilasi berbentuk kotak-kotak beton.

Cat dinding krem sudah mulai kusam.

Satu jendela menghadap halaman.

Kasur tidak tersedia.

Kipas tidak tersedia.

Lemari juga tidak.

Yang tersedia hanya ruangan, kamar mandi, satu lampu, satu colokan, dan doa semoga penyewanya tidak rewel.

Naya berdiri di pintu sambil membawa pengharum ruangan.

“Semprot?”

“Semprot.”

Naya menyemprot.

Raka langsung batuk.

“Buset. Lo mau sewain kamar apa ngusir jin?”

“Biar wangi.”

“Sedikit.”

“Udah.”

“Udah apaan, paru-paru gue rasa ikut pindah.”

Naya tertawa.

Dari depan terdengar suara Bu Nur.

“Ka! Ada yang cari!”

Raka menepuk-nepuk bajunya.

Naya melihat.

“Kenapa?”

“Biar rapi.”

“Lo kayak sales KPR.”

“Diam.”

Raka keluar.

Ia sudah membayangkan calon penyewa mahasiswa.

Atau pekerja pabrik.

Atau pasangan muda.

Yang berdiri di depan pagar justru seorang perempuan sekitar enam puluh empat tahun mengenakan blus biru tua, celana kain hitam, sepatu datar, dan membawa tas tangan cukup besar.

Rambutnya dipotong pendek.

Kacamata bingkai tipis.

Wajahnya tegas.

Terlalu tegas untuk seseorang yang baru pertama kali datang.

“Raka?” tanyanya.

“Iya, Bu.”

“Saya Martha.”

Raka langsung berdiri lebih tegak.

“Oh. Iya, Bu. Yang chat tadi.”

“Saya tidak chat. Saya WhatsApp.”

Raka diam sebentar.

“…iya.”

Perempuan itu menatap papan nomor kontrakan.

“Kamar yang disewakan?”

“Di dalam, Bu.”

Bu Martha masuk tanpa menunggu terlalu lama.

Ia melihat halaman.

Pagar.

Talang.

Pohon mangga.

Motor penghuni lain.

Kemudian berhenti di depan selokan.

“Ini kalau hujan besar meluap?”

“Jarang, Bu.”

“Jarang itu pernah?”

Raka menggaruk pipi.

“Pernah.”

“Berapa tinggi?”

“Mata kaki.”

“Di kamar?”

“Enggak. Halaman.”

Bu Martha mengangguk.

Bukan puas.

Lebih seperti sedang menyimpan data.

Raka mengantar ke kamar satu.

Begitu masuk, Bu Martha berdiri di tengah ruangan tanpa bicara.

Ia melihat plafon.

Dinding.

Jendela.

Kamar mandi.

Kemudian memencet sakelar lampu.

Lampu menyala.

Mematikan.

Menyalakan lagi.

Raka mulai gugup.

“Lampunya baru, Bu.”

“Katanya tadi mati?”

Raka menoleh ke Naya.

Naya langsung mengangkat kedua tangan.

“Bukan saya yang ngomong.”

Raka kembali ke Bu Martha.

“Baru diganti.”

Bu Martha menuju kamar mandi.

Membuka keran.

Air keluar.

Ia menunggu lima detik.

“Tekanannya lumayan.”

Raka hampir tertawa.

“Alhamdulillah.”

Bu Martha menoleh.

“Kok alhamdulillah?”

“Ya… airnya keluar.”

“Saya cuma bilang tekanannya lumayan.”

“Iya.”

“Jangan cepat puas. Nanti rusak.”

Raka melirik Naya.

Naya menggigit bibir supaya tidak tertawa.

Bu Martha keluar dari kamar mandi.

“Berapa sewanya?”

“Delapan ratus lima puluh.”

“Di iklan delapan ratus.”

Raka berhenti.

Ia lupa harga yang dipasang malam tadi.

Naya langsung menoleh ke arah lain.

“Yang delapan ratus itu… harga promo.”

Bu Martha menatapnya.

“Promo apa?”

Raka berpikir cepat.

“Posting malam.”

“Memangnya kalau pagi naik?”

Lihat selengkapnya