ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #3

PINTU 3: SERAGAM

Pekerjaan yang Tidak Dibawa Pulang

Ada jenis pekerjaan yang bisa diketahui hanya dari seragamnya.

Polisi punya warna sendiri.

Satpam punya peluit dan sepatu hitam.

Kurir membawa paket.

Pengemudi ojol datang bersama jaket yang warnanya bahkan bisa dikenali dari ujung gang.

Pekerjaan Dimas tidak punya seragam resmi.

Tapi entah kenapa, ketika lelaki itu berhenti di depan pagar kontrakan, Raka langsung merasa ia pernah melihat orang seperti itu berdiri di depan rumah orang lain.

Motor hitam.

Jaket abu-abu gelap.

Celana panjang.

Sepatu lapangan.

Tas selempang hitam.

Tubuh besar.

Rambut dipotong pendek.

Dan wajah yang tidak terlihat marah, tapi seperti sudah terbiasa membuat orang lain gugup.

Dimas mematikan mesin motor.

“Mas Raka?”

Raka yang sedang memasukkan gorengan ke mulut berhenti mengunyah.

“Iya.”

“Saya yang tadi telepon soal kamar.”

Raka mengernyit.

“Yang nomor belakangnya empat empat?”

“Betul.”

“Oh.”

Raka membuka pagar.

Dimas masuk.

Matanya langsung melihat deretan kamar.

Bu Martha sedang menyapu depan kamarnya.

Komang duduk jongkok di dekat motor sambil memasang dudukan ponsel.

Bu Nur masih melayani pembeli terakhir sebelum menutup warung sore.

Dimas mengangguk kepada semua orang yang melihatnya.

“Sore.”

Komang membalas.

“Sore, Bang.”

Bu Martha hanya mengangguk.

Raka menunjuk ke kamar paling ujung yang lampunya belum menyala.

“Yang kosong tinggal satu yang siap ditempatin.”

“Boleh lihat?”

“Boleh.”

Raka berjalan duluan.

Dimas mengikuti.

Di belakang, Komang memperhatikan mereka sampai Naya keluar dari rumah depan.

“Siapa?”

“Calon penghuni.”

Naya melihat Dimas dari jauh.

“Serem.”

Komang menoleh.

“Jangan judging dari muka.”

Naya melihat Komang.

“Lo juga tadi bilang serem.”

“Saya bilang auranya tegas.”

“Lima detik lalu?”

“Dalam hati.”

Naya mendengus.

Kamar enam tidak banyak berubah sejak terakhir difoto Raka.

Tiga kali empat.

Dinding krem.

Kamar mandi di belakang.

Jendela menghadap halaman.

Ada satu bekas lubang paku dekat pintu dan noda lembap di sudut plafon yang sudah dicat ulang Hamdan pagi tadi.

Dimas masuk tanpa banyak komentar.

Berbeda dari Bu Martha yang memeriksa keran seperti auditor properti dan Komang yang lebih dulu mencari sinyal Wi-Fi, Dimas hanya berdiri sebentar di tengah kamar.

“Air aman?”

“Aman.”

“Listrik?”

“Token sendiri.”

“Parkir motor?”

“Depan kamar boleh, asal nggak nutup jalan.”

“Berapa?”

“Delapan ratus.”

Dimas mengangguk.

“Deposit?”

“Satu bulan.”

“Oke.”

Raka menunggu.

Dimas tidak menawar.

Tidak mengeluh.

Tidak meminta diskon.

Justru itu yang membuat Raka sedikit curiga.

“Langsung oke?”

Dimas melihatnya.

“Kenapa?”

“Biasanya orang nawar.”

“Kalau gue nawar, boleh?”

“Enggak.”

“Nah.”

Raka tertawa kecil.

Dimas membuka kamar mandi.

Melihat sebentar.

Menutup lagi.

“Masuk kapan?”

“Kalau cocok, malam ini juga bisa.”

Raka mengangguk.

“Mau sendiri?”

“Iya.”

“Kerja sekitar sini?”

“Lumayan.”

“Apa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Ia justru mengeluarkan ponsel.

Ada panggilan masuk.

Nama di layar terlihat sekilas.

REZA KANTOR

Dimas menekan tombol jawab.

“Iya, Mas.”

Nada suaranya berubah.

Lebih kaku.

Lebih formal.

“Sudah saya kunjungi.”

Ia berjalan ke dekat jendela.

“Belum ada pembayaran.”

Diam.

“Iya.”

Diam lagi.

“Nggak, saya sudah sampaikan jatuh temponya.”

Raka yang awalnya tidak berniat mendengarkan otomatis memasang telinga.

Dimas melihat ke arah halaman.

“Besok saya follow up lagi.”

Suara dari telepon terdengar cukup keras, tapi tidak jelas.

Dimas menarik napas.

“Iya, Mas. Saya ngerti target.”

Beberapa detik kemudian telepon ditutup.

Dimas memasukkan ponsel ke saku.

Raka berdiri bersandar pada kusen.

“Sales?”

Dimas menoleh.

“Bukan.”

“Marketing?”

“Bukan.”

“Kerja apa?”

Dimas sedikit ragu.

Bukan seperti orang malu.

Lebih seperti orang yang sudah tahu apa reaksi setelah menjawab.

“Collector.”

Raka tidak bergerak.

“Collector apaan?”

Dimas menatapnya.

“Lapangan.”

Raka perlahan berdiri tegak.

“Debt collector?”

“Field collector.”

Raka tertawa kecil tanpa humor.

“Bahasa Inggris bikin kedengerannya lebih bagus, ya?”

Dimas tidak tersinggung.

“Lumayan.”

Raka menatap tas selempang hitamnya.

Mendadak semuanya masuk akal.

Motor.

Sepatu.

Telepon tadi.

Cara bicara.

Wajah yang seperti sudah terbiasa berdiri di depan pintu orang.

Dimas mengerti perubahan ekspresi Raka.

“Kalau jadi masalah, bilang aja.”

Raka belum menjawab.

Dimas melanjutkan.

“Gue cari tempat tinggal, bukan cari debitur.”

“Kerja di leasing?”

“Perusahaan pembiayaan.”

“Pinjol?”

“Bukan pinjol.”

“Bedanya buat orang ditagih apa?”

Dimas menatap Raka beberapa saat.

“Kadang nggak banyak.”

Jawaban itu justru membuat Raka tidak nyaman.

Kalau Dimas membela pekerjaannya habis-habisan, mungkin Raka bisa langsung tidak suka.

Tapi lelaki itu terdengar terlalu sadar tentang pekerjaannya sendiri.

Raka memasukkan tangan ke saku.

“Gue pikir-pikir dulu.”

“Oke.”

Dimas tidak memaksa.

Ia berjalan keluar kamar.

Raka mengikuti.

Ketika sampai halaman, Bu Nur langsung menyapa.

“Gimana, Mas? Cocok?”

Dimas menjawab sopan.

“Cocok, Bu.”

Raka buru-buru menyela.

“Belum jadi.”

Bu Nur menatap anaknya.

“Kenapa?”

“Nanti.”

Dimas mengenakan kembali jaketnya.

“Saya tunggu kabar aja, Mas.”

“Nomor lo gue simpan.”

“Siap.”

Dimas mengangguk kepada Bu Nur.

“Permisi, Bu.”

“Lho, nggak jadi?”

“Belum.”

Dimas berjalan menuju pagar.

Komang yang masih duduk dekat motor melirik Raka.

Setelah Dimas pergi, Bu Nur langsung bertanya,

“Kenapa?”

Raka melihat motor Dimas menghilang di ujung gang.

“Debt collector.”

Bu Nur berhenti.

“Oh.”

Komang mengangkat kepala.

“Wah.”

Naya yang baru keluar sambil membawa gelas ikut mendengar.

“Serius?”

“Field collector katanya.”

Komang mengangguk.

“Field collector itu debt collector yang pakai LinkedIn.”

Raka hampir tertawa, tapi tidak jadi.

Bu Martha keluar membawa sapu.

“Kenapa kalau debt collector?”

Lihat selengkapnya