Dua Orang dan Satu Koper
Pukul 01.47, Kampung Cempaka sudah hampir berhenti bersuara.
Warung Bu Lilis tutup sejak satu jam lalu.
Televisi dari rumah sebelah tinggal menyisakan suara pelan.
Motor yang lewat gang cuma sesekali.
Hujan sudah berhenti, tapi air masih menetes dari talang kontrakan.
Plok.
Plok.
Plok.
Raka duduk di bangku plastik depan unit rumahnya sambil memegang ponsel.
Layar menunjukkan pesan terakhir.
Mas, saya sudah dekat. Ojeknya masuk gang nggak bisa. Saya jalan dari depan.
Itu dikirim sepuluh menit lalu.
Raka sudah membalas:
Saya tunggu di pagar.
Sekarang yang ia lakukan cuma melihat ujung gang sambil menahan kantuk.
Dari kamar enam, lampu Dimas sudah mati.
Kamar empat juga gelap.
Komang sepertinya tidur.
Atau pura-pura tidur sambil nonton video, Raka tidak tahu.
Kamar Bu Martha justru masih menyala.
Orang tua, menurut Raka, punya kemampuan aneh: tidur cepat tapi juga bisa bangun kapan saja.
Pintu rumah depan terbuka.
Naya keluar sambil mengucek mata.
“Belum dateng?”
“Belum.”
“Jam berapa, sih?”
Raka menunjukkan layar.
Naya menyipit.
“Buset, udah mau jam dua.”
“Makanya tidur.”
“Gue kebangun gara-gara lo mondar-mandir.”
“Gue nggak mondar-mandir.”
“Dari tadi suara sandal lo plek-plek.”
Raka menatap sandalnya.
“Lo nguping?”
“Lo berisik.”
Naya duduk di ujung bangku.
“Cewek kan?”
“Iya.”
“Sama anak?”
“Iya.”
“Suaminya?”
“Mana gue tahu.”
Naya mengangguk pelan.
“Berarti jangan banyak nanya.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Ya kalau orang datang jam dua pagi bawa anak, biasanya bukan lagi habis piknik.”
Raka terdiam.
Naya berdiri.
“Gue masuk.”
“Hm.”
Sebelum kembali ke dalam, Naya berhenti.
“Bang.”
“Apa?”
“Jangan sotoy.”
Raka mendengus.
“Tidur sana.”
Naya masuk.
Raka kembali menatap gang.
Lalu dari jauh terlihat dua bayangan.
Seorang perempuan.
Seorang anak kecil.
Dan koper beroda yang bunyinya lebih keras daripada langkah mereka.
Krek.
Krek.
Krek.
Roda koper menghantam sambungan semen yang tidak rata.
Raka berdiri.
Perempuan itu berjalan cepat, meski dari caranya menarik koper terlihat jelas ia kelelahan.
Anak kecil di sampingnya seperti sedang tidur sambil berjalan.
Kepalanya beberapa kali hampir jatuh ke bahu sendiri.
Raka membuka pagar.
“Bu Sari?”
Perempuan itu mengangguk.
“Iya.”
Suaranya pelan.
“Maaf banget malam-malam.”
“Gapapa.”
Raka melihat anak kecil di sampingnya.
Umurnya mungkin enam atau tujuh tahun.
Rambut sebahu.
Memakai jaket merah muda, celana panjang, sandal dengan karakter kartun.
Matanya setengah tertutup.
“Anaknya?”
“Iya.”
Perempuan itu menepuk pelan pundak anaknya.
“Lala, salam dulu.”
Anak itu mengangkat wajah.
“Halo.”
Raka hampir tertawa.
“Halo.”
Sari mengangkat gagang koper.
“Kamarnya masih ada, Mas?”
“Ada.”
Raka mengambil kunci dari saku.
“Yang paling ujung.”
Sari menghela napas kecil.
“Syukur.”
Raka membuka pagar lebih lebar.
“Masuk dulu.”
Sari menarik koper.
Saat melewati Raka, lengan bajunya sedikit naik.
Cuma sebentar.
Tapi cukup.
Ada warna kebiruan samar di dekat pergelangan.
Bukan besar.
Bukan luka terbuka.
Tapi bukan sesuatu yang gampang tidak dilihat.
Raka otomatis memandang sedikit lebih lama.
Sari langsung menarik lengan bajunya turun.
Cepat.
Terlalu cepat.
Raka mengalihkan pandangan.
“Kamarnya belum sempat dibersihin banget,” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Kasur nggak ada.”
“Nanti.”
“Air masuk.”
“Iya.”
“Kamar mandi dalam.”
“Bagus.”
Raka berjalan di depan.
Lala mengikuti ibunya sambil sesekali menabrak koper.
Begitu mereka sampai di depan kamar delapan, Raka membuka pintu.
Lampu menyala.
Ruangan itu kelihatan lebih kecil kalau malam.
Dinding kusam.
Lantai keramik putih lama.
Jendela kecil.
Kamar mandi di belakang.
Ada bekas paku di dinding.
Dan sedikit bau lembap yang belum hilang.
Sari berdiri di ambang pintu.
Melihat ke dalam.
Tidak banyak ekspresi.
“Ini?”
“Iya.”
“Berapa?”
“Delapan ratus.”
Sari langsung mengangguk.
“Boleh saya masuk malam ini?”
Raka menatapnya.
Biasanya orang tanya harga.
Nawar.
Periksa kamar mandi.
Lihat sinyal.
Tanya banjir.
Tanya listrik.
Perempuan ini tidak.
Ia cuma ingin masuk.
“Boleh.”
“Depositnya?”
“Satu bulan.”
Sari sedikit diam.
“Kalau saya bayar sewa dulu malam ini?”
Raka ikut diam.
“Depositnya besok pagi.”
Ia menatap Sari.
Sari melanjutkan cepat.
“Bukan nggak ada, Mas. Cuma saya takut transfernya error. M-banking saya dari tadi susah.”
Raka masih belum menjawab.
Sari membuka tas selempangnya.
Mengeluarkan dompet.
Uang tunai.
Terlihat tidak banyak.
Ia menghitung.
Lima lembar seratus ribu.
Dua lembar lima puluh ribu.
Satu lembar dua puluh.
Beberapa puluh ribuan lain.
Jumlahnya tidak sampai delapan ratus.
Sari berhenti.
Wajahnya berubah sedikit.
“Mas…”
Raka tahu apa yang mau keluar setelah itu.
Kalimat orang yang sedang butuh waktu.
Kalimat orang yang takut ditolak.
“Bisa besok pagi saya kurangin?”
Raka melihat Lala.
Anak itu sudah duduk di lantai dekat koper.
Kepalanya bersandar ke tas ibunya.
Matanya hampir menutup.
Raka menghela napas.
“Sewa dulu aja yang ada.”
Sari langsung menatapnya.
“Serius?”
“Iya.”
“Besok pagi saya lengkapin.”
“Iya.”
“Deposit juga.”
“Iya.”
“Mas…”
“Udah.”
Sari diam.
Kemudian mengangguk.
“Makasih.”
Raka menerima uang itu.
Tidak dihitung di depan Sari.
Entah kenapa rasanya tidak enak.
“Masuk dulu aja.”
Sari membawa koper masuk.
Lala tetap duduk.
Raka menunjuk.
“Anaknya ngantuk.”
Sari menoleh.
“Lala.”
Anak itu membuka mata lagi.
“Ayo masuk.”
Lala berdiri.
Dua langkah.
Lalu berhenti.
“Bu.”
“Hm?”
“Ini rumah kita?”
Sari terdiam.
Raka juga.
Beberapa detik.
“Untuk sekarang iya.”
Lala mengangguk.
Jawaban itu rupanya cukup.
Ia masuk ke kamar.
Bu Nur muncul beberapa menit kemudian.
Raka bahkan tidak tahu sejak kapan ibunya bangun.
Ia keluar sambil memakai kerudung instan, daster, dan sandal rumah.
Di tangannya ada botol air mineral besar.
“Yang baru?”
“Iya.”
Bu Nur melihat Sari.
“Halo, Bu.”
Sari langsung berdiri.
“Malam, Bu. Maaf ganggu.”
“Ganggu apaan.”
Bu Nur melihat Lala yang sudah duduk di lantai, masih berusaha menahan mata supaya tidak tertutup.
“Anaknya berapa tahun?”
“Tujuh.”
“Udah makan?”
Sari terdiam.
Bu Nur langsung tahu.
“Belum?”
“Tadi siang.”
Raka menoleh.
“Siang?”
Sari buru-buru berkata,
“Nggak apa-apa, Bu. Nanti saya beli.”