ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #5

PINTU 5: PARFUM

Perempuan yang Selalu Pulang Pagi

Kamar tujuh kosong pada hari Selasa.

Pukul delapan pagi, salah satu penghuninya mengangkat kardus terakhir ke atas motor.

Namanya Feri.

Buruh pabrik.

Sudah tinggal di kontrakan Hamdan hampir dua tahun bersama temannya, Asep.

Mereka pindah karena perusahaan menyediakan mess baru yang lebih dekat dari tempat kerja.

“Bukan karena kontrakannya, Ka,” kata Feri sambil mengencangkan tali rafia.

Raka berdiri di depan pintu kamar.

“Iya, gue tahu.”

“Serius.”

“Iya.”

“Airnya juga sebenarnya aman.”

Raka melihat noda rembes di sudut kamar.

Feri ikut melihat.

“Ya… selain pas hujan.”

Raka menatapnya.

Feri tertawa kaku.

“Ya udah, gue jalan.”

Asep sudah menunggu di motor lain.

Bu Nur keluar membawa dua bungkus nasi uduk.

“Bawa.”

Feri menggeleng.

“Bu, nggak usah.”

“Buat jalan.”

“Udah sarapan.”

“Ya buat nanti.”

Feri akhirnya menerima.

“Makasi, Bu.”

Bu Nur mengangguk.

“Kalau nikah kasih tahu.”

Feri tertawa.

“Belum ada calonnya.”

“Makanya cari.”

Raka menoleh ke ibunya.

“Orang mau pindah juga tetap diinterogasi.”

Bu Nur menatap anaknya.

“Daripada kamu. Udah gede kerjaan ilang, pasangan juga nggak jelas.”

Feri dan Asep langsung menahan tawa.

Raka menunjuk jalan.

“Udah sana. Pergi.”

Mereka tertawa lalu melaju keluar gang.

Raka berdiri menatap kamar tujuh yang sekarang kosong.

Satu lagi.

Ia menghela napas.

Belum seminggu sejak iklan kontrakan dipasang, rumah itu seperti sedang menelan dan memuntahkan manusia dalam waktu bersamaan.

Bu Martha masuk.

Komang masuk.

Dimas masuk.

Sari dan Lala masuk.

Feri dan Asep keluar.

Hidup di kontrakan memang begitu.

Orang datang membawa kardus.

Pergi membawa kardus.

Yang tertinggal cuma bekas paku di dinding dan nomor WhatsApp yang suatu hari tidak lagi aktif.

“Bang.”

Naya berdiri di sampingnya.

“Hm?”

“Posting lagi.”

“Udah.”

“Foto kamar tujuh jelek.”

“Semua kamar kita emang nggak fotogenik.”

“Bisa diedit.”

“Jangan sampai yang dateng marah karena di foto catnya putih, aslinya krem sakit.”

Naya tertawa.

“Minimal terangin.”

Raka menyerahkan ponsel.

“Nih. Lo aja.”

Naya mengambil gambar.

Satu dari pintu.

Satu dari jendela.

Satu kamar mandi.

Kemudian ia memotret dinding dari sudut yang membuat kamar terlihat lebih luas.

Raka melihat hasilnya.

“Buset.”

“Apa?”

“Kok kayak unit apartemen.”

“Angle.”

“Penipuan.”

“Marketing.”

“Tipis bedanya.”

Naya mengunggah ulang iklan.

Kamar tujuh.

Delapan ratus ribu.

Air termasuk.

Token listrik masing-masing.

Boleh bawa kipas.

Boleh masak.

Tidak boleh membuat keributan.

Raka menambahkan satu kalimat di akhir:

Utamakan penghuni yang bisa masuk cepat.

Naya membaca.

“Kelihatan butuh duit.”

“Emang.”

“Jangan jujur-jur banget.”

“Gue bukan jual startup.”

Sore itu, pesan masuk.

Mas, kamar masih ada?

Raka membalas.

Masih.

Bisa lihat malam?

Jam berapa?

Lama tidak dibalas.

Hampir setengah jam.

Lalu:

Sekitar jam 10. Saya habis kerja.

Raka melihat jam.

Masih pukul lima.

Ia mengetik:

Boleh.

Beberapa detik kemudian:

Saya perempuan. Aman kan tinggal sendiri?

Raka berhenti.

Ia melihat halaman.

Bu Martha sedang menyapu.

Sari duduk di depan kamar menjahit sobekan seragam Lala.

Dimas belum pulang.

Komang entah di mana.

Bu Nur sedang menghitung uang dagangan.

Naya menonton video sambil mengupas bawang.

Aman?

Tidak ada CCTV.

Pagar tua.

Lampu lorong cuma tiga.

Tapi ramai.

Dan hampir semua orang suka ikut campur.

Kalau itu disebut keamanan, kontrakan mereka justru mungkin berlebihan.

Raka mengetik:

Aman. Ada ibu-ibu, keluarga, penghuni perempuan juga.

Balasan datang:

Oke. Makasih. Nama saya Maya.

Maya datang pukul sepuluh lewat dua puluh.

Bukan naik motor.

Bukan ojek.

Sebuah mobil berhenti di ujung gang karena tidak bisa masuk.

Raka melihat dari teras.

Perempuan itu berjalan menuju kontrakan sambil menarik koper ukuran sedang.

Hak sepatunya tidak terlalu tinggi.

Blus hitam.

Celana panjang warna krem.

Tas kecil menggantung di bahu.

Rambutnya terurai.

Wajahnya dirias rapi, tapi tidak berlebihan.

Yang paling dulu sampai bahkan sebelum Maya melewati pagar adalah parfumnya.

Wangi manis.

Hangat.

Mahal.

Setidaknya menurut hidung Raka yang parfum terakhirnya dibeli saat lebaran dua tahun lalu.

Bu Martha yang sedang menutup jendela kamarnya tiba-tiba bersin.

“Hacih!”

Maya berhenti.

“Maaf, Bu.”

Bu Martha menatapnya.

“Kenapa minta maaf?”

“Parfum saya kayaknya.”

Bu Martha mengusap hidung.

“Bukan kayaknya.”

Raka menahan senyum.

“Mas Raka?”

Maya menoleh.

“Iya.”

“Saya Maya.”

“Silakan masuk.”

Maya melihat halaman.

Matanya bergerak cepat.

Bukan seperti orang jijik.

Lebih seperti orang sedang mencatat.

Pintu.

Pagar.

Jarak antar kamar.

Siapa saja yang masih bangun.

Lalu ia menatap Raka.

“Kamar yang kosong?”

“Nomor tujuh.”

“Boleh lihat?”

Raka membuka pintu.

Maya masuk.

Ia memeriksa ruangan dengan cepat.

Tidak sampai lima menit.

“Air?”

“Aman.”

“Token?”

“Sendiri.”

“Pulang malam boleh?”

“Boleh.”

“Jam dua?”

“Boleh.”

“Jam tiga?”

Raka mengerutkan dahi.

“Lo kerja apa?”

Maya menoleh.

“Hospitality.”

Raka diam.

“Apaan?”

Maya tersenyum.

“Tempat hiburan.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Enggak.”

Maya membuka kamar mandi.

“Pulangnya kadang pagi.”

“Ya asal jangan berisik.”

“Gue kalau pulang cuma masuk kamar, Mas.”

“Motor?”

“Kadang ojek. Kadang dijemput.”

Raka mengangguk.

Maya menyalakan keran.

Mematikan.

Kemudian melihat plafon.

“Bocor?”

Raka menjawab jujur.

“Sedikit kalau hujan gede.”

“Sedikit tuh berapa?”

Raka tersenyum kecut.

“Kok semua orang sekarang nanya definisi sedikit?”

Maya tertawa.

“Karena biasanya landlord bilang sedikit itu air terjun mini.”

Raka mengangguk.

“Sudut situ.”

Ia menunjuk bekas rembes.

Maya melihat.

“Masih aman.”

Raka hampir lega.

“Berapa bayar?”

“Delapan ratus.”

“Deposit?”

“Sebulan.”

Maya mengeluarkan ponsel.

“Rekening?”

Raka menatapnya.

“Langsung?”

“Iya.”

“Nggak nawar?”

Maya menoleh.

“Kalau gue nawar, boleh?”

Raka teringat Dimas.

“Enggak.”

“Nah.”

Raka tertawa.

Maya transfer dua bulan sekaligus.

Sewa.

Deposit.

Lunas.

Raka memandang layar lebih lama dari sopan.

Maya mengangkat alis.

“Kurang?”

“Enggak.”

“Lebih?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Jarang ada yang langsung lunas.”

Maya memasukkan ponsel ke tas.

“Gue paling males punya utang sama orang tempat gue tidur.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi membuat Raka sedikit diam.

“Besok masuk?”

“Malam ini.”

Raka menghela napas.

“Kenapa semua orang pindahnya malam sih?”

Maya mengangkat bahu.

“Siang gue tidur.”

Lihat selengkapnya