ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #6

PINTU 6: ATURAN

Semua Setuju untuk Tidak Ikut Campur

Raka baru tahu satu hal tentang kontrakan setelah semua kamar hampir penuh.

Semakin banyak orang tinggal di satu tempat, semakin banyak aturan yang sebelumnya tidak pernah terpikir perlu dibuat.

Misalnya:

Jangan menaruh sampah di depan kamar orang lain.

Jangan memakai sandal yang bukan milik sendiri hanya karena “mirip”.

Jangan mengambil telur dari kulkas bersama tanpa bertanya.

Dan yang paling baru—

jangan menjemur pakaian dalam tepat di depan jendela orang.

Masalah terakhir itu muncul pukul tujuh pagi.

“Ini punya siapa?”

Suara Bu Martha terdengar dari halaman.

Tidak ada yang menjawab.

Raka masih mengaduk kopi.

Komang baru pulang mengantar penumpang pertama.

Maya belum bangun.

Dimas sudah pergi kerja.

Sari sedang menyisir rambut Lala.

Naya bersiap kuliah.

Bu Martha berdiri di tengah halaman sambil menunjuk sepotong pakaian yang menggantung di tali jemuran.

“Siapa?”

Komang ikut melihat.

Kemudian perlahan menoleh ke arah kamar Maya.

“Kayaknya…”

Pintu kamar tujuh terbuka.

Maya keluar memakai daster.

Rambutnya berantakan.

Matanya masih setengah tertutup.

“Apaan, sih, Bu?”

Bu Martha menunjuk jemuran.

“Ini.”

Maya menyipit.

“Oh.”

“Punya kamu?”

“Iya.”

“Kenapa di situ?”

“Karena tali jemurannya di situ.”

Bu Martha mengambil napas.

“Di depan jendela saya.”

Maya melihat jendela Bu Martha.

Lalu melihat pakaian itu.

“Kan di luar, Bu.”

“Kalau saya buka jendela?”

“Ya lihat jemuran.”

“Itu masalahnya.”

Komang membuang muka karena bahunya sudah mulai bergerak menahan tawa.

Raka meneguk kopi.

Maya menguap.

“Bu, itu cuma celana dalam.”

“Justru.”

“Bukan spanduk partai.”

Komang batuk keras.

Bu Martha menoleh.

“Kamu jangan ketawa.”

“Saya nggak, Bu.”

“Kamu jelas ketawa.”

“Saya keselek.”

“Tidak ada yang kamu makan.”

Komang melihat gelas kopinya.

“Keselek kehidupan.”

Raka akhirnya tertawa.

Bu Martha menatap semuanya satu per satu.

Kemudian berkata,

“Kita perlu aturan.”

Raka langsung berhenti tertawa.

Entah kenapa, kalimat itu terdengar berbahaya.

Satu jam kemudian masalah bertambah.

Penghuni kamar tiga, Arif, datang membawa kunci.

“Ka.”

Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu menoleh.

“Kenapa?”

“Gue pindah hari ini.”

Raka menatapnya.

“Lah?”

“Dapet mess dari kantor.”

“Bukannya bulan depan?”

“Dimajuin.”

Raka menutup mata.

“Kenapa semua orang kalau pindah mendadak banget?”

Arif mengangkat bahu.

“Bukan gue yang atur.”

Raka menerima kunci.

“Kamar udah kosong?”

“Udah.”

“Token?”

“Sisa dua belas ribu.”

“Wah, warisan.”

Arif tertawa.

“Kalau ada paket nyasar, kabarin.”

“Kalau isinya uang gue buka.”

“Jangan.”

“Ya udah sana.”

Arif berpamitan.

Raka memandangi kamar tiga.

Kosong lagi.

Ia menghela napas panjang.

Belum sampai lima menit, ponselnya berbunyi.

Pesan dari iklan lama yang belum ia hapus.

Mas, masih ada kamar?

Raka langsung menjawab.

Baru kosong satu.

Balasan datang cepat.

Bisa lihat sekarang?

Bisa.

Saya dekat.

Raka melihat layar.

Kemudian melihat pintu kamar tiga.

“Lumayan.”

Bu Nur yang sedang menyusun gorengan menoleh.

“Apaan?”

“Ada yang mau lihat kamar.”

“Cepat.”

“Semoga nggak nanya diskon.”

Bu Nur mengangkat bahu.

“Kalau banyak nanya, kasih ke Bu Martha.”

Raka tertawa.

“Bisa nggak jadi pindah sekalian.”

Calon penghuni datang tiga puluh menit kemudian.

Namanya Adrian Setiawan.

Usianya dua puluh tiga.

Kemeja lengan pendek warna abu-abu.

Celana jeans.

Sneakers putih yang sudah tidak terlalu putih.

Satu tas ransel.

Laptop bag.

Dan sebuah pot kecil berisi tanaman yang dipegang seperti barang paling penting dalam hidupnya.

Raka membuka pagar.

“Adrian?”

“Iya. Raka?”

“Iya.”

Mereka berjabat tangan.

Adrian melihat deretan kontrakan.

“Ini yang delapan ratus?”

“Iya.”

“Masih?”

“Kalau lo nggak nawar, masih.”

Adrian tertawa kecil.

“Oke. Gue lihat dulu.”

Raka mengantar ke kamar tiga.

Begitu masuk, Adrian melihat jendela.

Colokan.

Sudut meja kosong.

Kemudian mengeluarkan ponsel.

Raka memperhatikan.

“Ngapain?”

“Cek sinyal.”

“Oh.”

Adrian mengangkat ponsel ke dekat jendela.

“Lumayan.”

“Kerja online?”

“Iya.”

“Apaan?”

“Desain.”

“Desain rumah?”

“Grafis.”

Raka mengangguk seperti paham.

Padahal tidak sepenuhnya.

“Logo gitu?”

“Logo, poster, konten, branding, kadang UI.”

Raka berhenti.

“Yang terakhir bahasa manusia nggak?”

Adrian tertawa.

“Desain aplikasi.”

“Oh. Nah.”

Adrian melihat kamar mandi.

“Air aman?”

“Aman.”

“Wi-Fi?”

“Belum ada.”

Adrian langsung menoleh.

“Serius?”

Raka mulai mengenali ekspresi calon penghuni yang baru menemukan kelemahan bangunan.

“Bisa pasang sendiri.”

“Fiber masuk?”

“Kayaknya.”

“Kayaknya?”

“Nanti tanya provider.”

Adrian menghela napas kecil.

“Kerja gue hampir semuanya internet.”

“Hotspot dulu.”

“Boros.”

Raka melipat tangan.

“Lo mau kontrakan delapan ratus atau coworking space?”

Adrian tersenyum.

“Fair.”

Ia memeriksa lagi.

“Boleh bawa meja?”

“Boleh.”

“Kerja malam?”

“Boleh asal nggak berisik.”

“Temen datang?”

“Boleh.”

“Pacar?”

Raka langsung menatapnya.

Adrian mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Semua orang nanya itu.”

“Berarti penting.”

“Datang boleh. Nginep jangan.”

Adrian mengangguk.

“Oke.”

Raka menunggu pertanyaan lain.

Tidak ada.

“Jadi?”

Adrian kembali melihat kamar.

“Ambil.”

Raka sedikit kaget.

“Cepat.”

“Gue udah lihat tiga tempat dari pagi. Satu panas banget. Satu kamar mandinya di luar. Satu lagi pemiliknya nanya gue kapan nikah.”

Raka mengangguk.

“Kalau di sini yang nanya nanti ibu gue.”

Adrian tertawa.

“Masih lebih oke.”

Mereka berjalan keluar.

Bu Martha sedang menyiram tanaman.

Begitu melihat Adrian, ia langsung memperhatikan pot kecil di tangannya.

“Itu apa?”

Adrian menoleh.

“Monstera mini, Bu.”

“Kenapa dibawa lihat kontrakan?”

Adrian mengangkat potnya sedikit.

“Takut ditinggal di motor.”

Bu Martha mengangguk.

“Benar.”

Raka menatapnya.

“Wah, baru kali ini ada calon penghuni lolos pemeriksaan Bu Martha dalam satu kalimat.”

Bu Martha mengabaikan.

Adrian tersenyum sopan.

“Saya Adrian, Bu.”

“Martha.”

“Salam kenal.”

Bu Martha memandang kaus kaki Adrian yang sedikit terlihat dari sepatu.

“Sepatunya nanti jangan masuk kamar kalau habis hujan.”

Adrian menoleh ke Raka.

Raka berbisik,

“Belum lima menit.”

Adrian membayar sewa dan deposit.

Tidak menawar.

Nilai plus besar di mata Raka.

Saat mengisi formulir, Adrian menulis agama: Katolik.

Raka hanya melihat sekilas.

Tidak berkomentar.

Nomor darurat ditulis:

YOHANES SETIAWAN — AYAH

Ketika Adrian menulis nama itu, tangannya berhenti sedikit.

Hanya satu detik.

Raka tidak memperhatikan.

Atau mungkin memperhatikan, tapi memilih tidak bertanya.

Setelah formulir selesai, Adrian berkata,

“Gue pindahan sore.”

“Barang banyak?”

“Lumayan.”

“Berapa kardus?”

“Empat.”

“Kasur?”

“Beli baru.”

“Meja?”

“Bawa.”

“Motor?”

“Nggak ada.”

Raka menatapnya.

“Kerja dari rumah, nggak punya motor?”

“Kenapa?”

“Langka.”

Adrian tertawa.

“Gue naik ojol.”

Komang yang kebetulan masuk pagar langsung menyahut,

“Bagus.”

Adrian menoleh.

Komang menunjuk jaketnya.

“Saya dukung gaya hidup Anda.”

Lihat selengkapnya