ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #7

PINTU 7: PAGI

Suara dari Balik Pintu

Pagi di kontrakan selalu datang lebih dulu lewat suara.

Bukan cahaya.

Bukan alarm.

Bukan ayam.

Suara.

Bunyi pintu kamar mandi.

Batuk orang yang baru bangun.

Sendal diseret.

Motor distarter.

Sendok membentur gelas.

Air mengalir.

Anak kecil merengek tidak mau sekolah.

Dan, di atas semuanya, suara Bu Nur yang selalu terdengar seperti sudah bekerja tiga jam sebelum orang lain membuka mata.

“Ka! Bangun!”

Raka menarik selimut sampai menutupi kepala.

“Ka!”

Ia diam.

“Raka!”

Masih diam.

“Gas habis!”

Raka langsung membuka mata.

Itu berbeda.

Kalau cuma dipanggil, bisa ditunda.

Kalau gas habis, seluruh ekonomi pagi Bu Nur bisa lumpuh.

Raka duduk.

Rambutnya berdiri ke segala arah.

Ponsel menunjukkan 05.17.

“Ya Allah…”

Dari kamar sebelah terdengar suara Naya.

“Kenapa?”

“Gas habis.”

“Terus?”

“Bangun.”

“Kenapa aku?”

“Biar penderitaan merata.”

Naya mendengus dari balik pintu.

Raka mengambil kaus lalu keluar.

Halaman kontrakan masih gelap samar.

Langit abu-abu.

Lampu lorong belum dimatikan.

Udara pagi membawa campuran aroma tanah, sabun, minyak goreng, dan kopi.

Di depan unit keluarga, Bu Nur sudah dikelilingi panci.

Nasi uduk.

Bihun.

Telur.

Tempe.

Bakwan.

Semua sudah siap kecuali satu hal yang sangat penting:

api.

Bu Nur menunjuk tabung gas.

“Ganti.”

Raka jongkok.

“Yang cadangan?”

“Habis.”

“Lah.”

“Makanya beli.”

“Jam segini?”

“Warung depan buka.”

“Bu Lilis?”

“Iya.”

Raka melihat warung Bu Lilis.

Lampunya sudah menyala.

Ia menggeleng.

“Manusia itu tidur nggak, sih?”

Bu Nur menatapnya.

“Yang punya cicilan jarang.”

Raka diam.

Satu kalimat.

Pendek.

Tidak dramatis.

Tapi entah kenapa langsung mengenai tempat yang tidak ingin ia sentuh pagi-pagi.

Ia mengangkat tabung kosong.

“Berat juga kosong.”

“Ya namanya besi.”

“Gue kira dosa.”

“Pagi-pagi jangan sok puitis.”

Raka tertawa kecil.

Ia membawa tabung ke depan.

Di kamar empat, alarm Komang berbunyi untuk ketiga kalinya.

Nada alarmnya suara ayam berkokok.

Loudspeaker ponselnya terlalu keras.

Kukukuyuk!

Kukukuyuk!

Kukukuyuk!

Pintu kamar satu terbuka.

Bu Martha berdiri di ambang pintu dengan rambut masih terikat rapi.

“Komang!”

Tidak ada jawaban.

Kukukuyuk!

Bu Martha mengetuk pintu.

“Komang!”

Dari dalam terdengar suara berat.

“Iya…”

“Matikan itu!”

“Bangun, Bu…”

“Kalau sudah bangun kenapa bunyi lagi?”

“Belum sadar.”

Bu Martha memejamkan mata.

“Ponselmu lebih rajin daripada orangnya.”

Pintu kamar empat terbuka sedikit.

Komang muncul dengan mata setengah tertutup.

“Pagi, Bu.”

“Sudah hampir lima kali.”

“Biar rezeki nggak kelewat.”

“Rezekinya kabur dengar suara itu.”

Komang tertawa kecil.

“Maaf.”

Bu Martha kembali ke kamar.

Komang berdiri sebentar.

Kemudian menutup pintu.

Lima detik kemudian alarm berbunyi lagi.

Kukukuyuk!

Dari kamar satu terdengar,

“Komang!”

“Iya, Bu!”

Kamar enam sudah kosong.

Dimas berangkat paling pagi setelah Subuh.

Biasanya sebelum orang lain benar-benar bangun.

Pintu kamarnya selalu terkunci rapi.

Motornya tidak pernah menghalangi jalan.

Sampah dibuang tepat waktu.

Kalau dilihat dari kedisiplinannya, ia justru salah satu penghuni yang paling gampang.

Kalau tidak dihitung profesinya.

Pagi itu Raka sempat melihat Dimas berdiri dekat gerbang sebelum berangkat.

Helm sudah dipakai.

Tas selempang tergantung di dada.

Raka masih membawa tabung gas.

“Pagi.”

Dimas menoleh.

“Pagi.”

“Udah jalan?”

“Iya.”

“Cepet amat.”

“Wilayah jauh.”

Raka melihat wajahnya.

“Kemarin pulang malam.”

“Biasa.”

“Tidur berapa jam?”

“Cukup.”

Raka mengangkat alis.

“Jawaban orang yang jelas kurang tidur.”

Dimas tersenyum kecil.

“Lo juga bangun pagi.”

“Dipaksa gas.”

“Lebih serem daripada target.”

Raka tertawa.

Dimas menyalakan motor.

Sebelum pergi ia berkata,

“Ka.”

“Hm?”

“Kalau ada paket, taruh kamar aja.”

“Paket apaan?”

“Obat.”

“Buat lo?”

“Bapak.”

Raka mengangguk.

“Oke.”

Dimas pergi.

Raka melihat motornya menghilang di ujung gang.

Kemudian melihat tabung gas di tangannya.

Setiap orang ternyata pergi pagi-pagi untuk sesuatu.

Order.

Target.

Kuliah.

Warung.

Tagihan.

Obat.

Ada yang kelihatan seperti sedang mengejar rezeki.

Padahal kadang sebenarnya cuma sedang berusaha supaya satu masalah tidak bertambah.

Kamar tujuh justru baru mulai sunyi ketika kamar lain ramai.

Maya pulang pukul 05.43.

Pintu pagar dibuka pelan.

Ia masuk sambil membawa sepatu di tangan.

Riasannya masih ada, tapi tidak serapi saat berangkat.

Parfum mahalnya bercampur aroma asap rokok dari tempat kerja.

Bu Nur sedang menata dagangan.

Maya langsung berhenti.

“Pagi.”

Bu Nur menoleh.

“Baru pulang?”

“Iya.”

“Udah makan?”

Maya tertawa kecil.

“Bu, pertanyaan Ibu tiap hari cuma itu, ya?”

“Kalau orang hidup ya makan.”

“Yang lain?”

“Bayar utang.”

Maya berhenti sebentar.

“Wah, yang itu jangan pagi-pagi.”

Bu Nur tertawa.

Maya mengambil satu gorengan.

“Ini berapa?”

“Dua ribu.”

Maya menyerahkan lima ribu.

“Udah.”

Bu Nur mengembalikan tiga ribu.

“Jangan sok.”

“Seribu-dua ribu doang.”

“Ya uang tetap uang.”

Maya mengambil kembalian.

“Bu Nur kalau jadi kasir kayaknya bikin customer takut.”

“Saya bukan kasir.”

“Kelihatan.”

Maya hendak masuk kamar.

Bu Martha keluar membawa sapu.

Mereka berpapasan.

Bu Martha melihat Maya.

“Kamu belum tidur?”

Maya berhenti.

“Belum.”

“Jangan sering-sering.”

Maya mengerutkan dahi.

“Kerja saya malam, Bu.”

“Badan tetap punya batas.”

Maya memandang Bu Martha.

Lihat selengkapnya