Uang Kecil yang Terasa Besar
Dimas sudah terbiasa mengetuk pintu orang.
Tok.
Tok.
Tok.
Kadang pintunya langsung dibuka.
Kadang ada yang pura-pura tidak di rumah.
Kadang terdengar suara televisi dari dalam, tapi tidak ada yang menjawab.
Kadang orang yang ditagih justru keluar sambil marah lebih dulu, seolah kemarahan bisa menghapus angka di sistem.
Dimas hafal semuanya.
Yang ia tidak pernah benar-benar hafal adalah wajah orang setelah mendengar jumlah yang harus dibayar.
Pagi itu, rumah yang ia datangi ada di ujung gang kecil dekat pasar.
Catnya hijau muda.
Pudar.
Di depan rumah ada motor matic tua dengan tas ojol tergantung di stang.
Seorang laki-laki keluar.
Usianya sekitar akhir tiga puluhan.
Kaos oblong.
Celana pendek.
Mata seperti kurang tidur.
“Iya?”
Dimas menunjukkan identitas kerja.
“Pak Arman?”
Laki-laki itu langsung tahu.
Wajahnya berubah.
“Masuk dulu, Bang.”
Dimas tidak masuk.
“Di sini aja, Pak.”
Arman mengangguk.
Ia menutup pintu setengah.
Dimas membuka data di ponsel.
“Untuk hari ini ada tunggakan tiga juta seratus empat puluh.”
Arman mengusap wajah.
“Iya.”
“Sudah pernah dikasih kelonggaran dua kali.”
“Iya.”
“Terakhir janji tanggal lima.”
“Iya.”
Dimas berhenti.
“Pak.”
Arman melihatnya.
“Kalau semua jawabannya iya, saya nggak tahu mau ngomong apa lagi.”
Arman tertawa kecil.
Hambar.
“Gue juga nggak tahu, Bang.”
Dimas menatapnya.
Biasanya, kalau sudah begini, ia akan masuk ke kalimat standar.
Bapak tetap punya kewajiban.
Kami minta komitmennya.
Jangan menunggu sampai ada tindakan lanjutan.
Kalimat-kalimat yang sudah begitu sering ia ucapkan sampai kadang ia sendiri tidak lagi mendengar artinya.
Tapi pagi itu, sebelum Dimas sempat bicara, Arman menunjuk motor di depan.
“Gue narik.”
Dimas mengangguk.
“Kelihatan.”
“Seminggu ini order sepi.”
“Semua orang bilang begitu.”
Arman tidak tersinggung.
“Iya.”
Ia mengambil dompet.
Membuka.
Mengeluarkan dua lembar uang.
Lima puluh ribu.
Lima puluh ribu.
“Gue punya seratus.”
Dimas melihat uang itu.
“Seratus ribu?”
“Iya.”
“Pak, tunggakannya tiga juta lebih.”
“Gue tahu.”
“Seratus ribu bahkan belum nutup…”
Dimas berhenti.
Arman mengangkat tangan.
“Gue tahu.”
Nada suaranya bukan marah.
Capek.
Dimas melirik ponsel.
Target pembayaran minimal untuk akun seperti ini jauh di atas angka itu.
“Pak, minimal hari ini lima ratus.”
Arman tertawa pendek.
“Kalau gue punya lima ratus, gue kasih.”
“Cari dulu.”
“Cari dari mana?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Arman menunjuk rumahnya.
“Lo mau lihat kulkas gue?”
“Buat apa?”
“Biar tahu isinya.”
“Gue nggak urusan sama kulkas.”
“Nah.”
Arman tersenyum.
“Perusahaan lo juga nggak urusan sama kulkas gue.”
Dimas diam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi kena.
Arman memasukkan uang kembali ke dompet.
Dimas langsung berkata,
“Jangan dimasukin lagi.”
Arman menatapnya.
“Ambil?”
Dimas mengangguk.
“Seratus dulu.”
Arman sedikit kaget.
“Bisa?”
“Masuk pembayaran.”
“Terus sisanya?”
“Ya tetap ada.”
“Bunganya?”
Dimas menghela napas.
“Pak, jangan tanya saya kayak saya yang bikin produknya.”
Arman tertawa kecil.
“Ya gue nanya karena lo yang datang.”
“Iya.”
Dimas menerima uang.
Memproses pembayaran.
Seratus ribu.
Angka kecil muncul di layar.
Sisa utang masih panjang.
Arman berdiri di depan pintu.
“Bang.”
“Hm?”
“Gue bukan nggak mau bayar.”
Dimas tidak menjawab.
“Serius.”
“Iya.”
“Kadang gue malu kalau liat nomor kantor lo masuk.”
“Kenapa?”
“Karena anak gue suka lihat HP.”
Dimas mengangkat wajah.
Arman melanjutkan,
“Dia udah bisa baca.”
Dimas melihat ke dalam rumah.
Ada tas sekolah kecil tergantung di tembok.
Ia menurunkan ponsel.
“Pak.”
“Hm?”
“Besok jangan janji kalau nggak yakin.”
Arman mengangguk.
“Gue usahain.”
“Bukan usahain.”
Dimas menatapnya.
“Kalau tiga hari lagi cuma ada seratus, bilang seratus. Jangan janji lima ratus biar gue pulang.”
Arman diam.
Dimas memasukkan ponsel ke saku.
“Gue lebih kesel dibohongin daripada dibayar kecil.”
Arman mengangguk lagi.
Kali ini lebih pelan.
“Siap.”
Dimas pergi.
Di atas motor, sebelum menyalakan mesin, ia membuka dashboard.
Jumlah pembayaran hari itu:
Rp100.000
Target:
masih jauh.
Sangat jauh.
Ponselnya langsung berbunyi.
Reza.
Dimas melihat nama itu beberapa detik.
Kemudian mengangkat.
“Iya, Mas.”
“Masuk seratus?”
“Iya.”
“Seratus ribu?”
“Iya.”
“Dimas.”
“Hm.”
“Itu akun tiga juta.”
“Gue tahu.”
“Terus lo terima seratus?”
“Daripada nol.”
Suara Reza berubah.
“Lo jangan main jadi relawan.”
Dimas menghela napas.
“Dia narik ojol.”
“Terus?”
“Lagi nggak ada.”
“Semua orang lagi nggak ada.”
“Ya emang.”
“Dimas.”
Dimas diam.
Reza melanjutkan.
“Gue butuh angka.”
“Gue juga.”
“Kalau sampai sore progres lo masih begini, gue geser akun lo ke orang lain.”
Dimas menatap jalan.
“Ya geser.”
Reza diam.
Dimas sadar mulutnya terlalu cepat.
“Bukan gitu maksud gue.”
“Nah.”
Nada Reza makin dingin.
“Jangan sok berani kalau insentif masih lo butuhin.”
Panggilan ditutup.
Dimas melihat layar.
Kemudian helm.
Kemudian motor.
Ia menyalakan mesin.
Hari masih panjang.
Kunjungan kedua lebih mudah.
Seorang pegawai minimarket.
Bayar tiga ratus ribu.
Kunjungan ketiga tidak ketemu.
Keempat janji malam.
Kelima marah-marah.
Keenam pura-pura tidak kenal.
Ketujuh memberi dua ratus lima puluh.
Kedelapan meminta waktu.
Kunjungan kesembilan membuat Dimas menunggu hampir satu jam di bawah pohon.
Pukul satu siang, ia duduk di warung mi ayam.
Tidak lapar.
Tapi tubuhnya butuh sesuatu.
Ponsel berbunyi lagi.
Pesan dari rumah sakit.
Mohon memastikan jadwal kontrol pasien atas nama Sugeng Prayoga.
Ayahnya.
Dimas membuka rekening.
Saldo tidak besar.
Belum cukup.