ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #9

PINTU 9: NAMA

Satu Baris dalam Sistem

Dimas tidak pernah terlalu memperhatikan nama.

Di pekerjaannya, nama biasanya cuma pintu masuk menuju angka.

Ada nama.

Nomor kontrak.

Nominal tunggakan.

Hari keterlambatan.

Status janji bayar.

Alamat.

Nomor telepon.

Selesai.

Orang bisa punya cerita sepanjang satu hidup, tapi di layar kantor semuanya diringkas jadi beberapa kolom.

Pagi itu, layar tablet di meja Dimas memuat dua puluh tiga nama.

Ia duduk di lantai dua ruko kantor sambil meminum kopi sachet yang terlalu manis.

AC terlalu dingin.

Lampu putih.

Dari meja sebelah terdengar suara seorang collector lain sedang menelepon.

“Pak, saya paham, tapi tanggalnya sudah lewat.”

Di meja belakang seseorang tertawa.

Printer berbunyi.

Keyboard dipukul cepat.

Biasa.

Dimas menggulir daftar.

ARI WIBOWO.

Lewat.

SUSANTI.

Lewat.

FAJAR NUGROHO.

Lewat.

Ia memberi tanda pada alamat yang akan dikunjungi hari itu.

Lalu jempolnya berhenti.

RAKA HAMDHANI.

Dimas membaca sekali.

Tidak langsung berpikir apa-apa.

Nama Raka cukup umum.

Hamdhani juga bukan sesuatu yang aneh.

Ia hampir melanjutkan.

Kemudian melihat alamat.

KAMPUNG CEMPAKA.

Dimas berhenti.

Ia mencondongkan tubuh.

Membuka detail akun.

Nomor rumah.

RT.

RW.

Gang.

Ia membaca ulang.

Persis.

Alamat kontrakan.

Dimas meletakkan gelas.

“Anjing…”

Orang di meja sebelah menoleh.

“Kenapa?”

Dimas menggeleng.

“Enggak.”

Ia membuka data lebih lengkap.

Nama debitur.

RAKA HAMDHANI.

Alamat jaminan.

Sama.

Nomor kontak.

Dimas membandingkan dengan nomor Raka di ponselnya.

Tiga digit terakhir.

Sama.

Dimas menyandarkan tubuh ke kursi.

Tidak mungkin salah.

Ia membuka histori akun.

Tunggakan.

Keterlambatan.

Restrukturisasi pernah diajukan.

Ada catatan pembayaran yang terputus-putus.

Beberapa bulan lancar.

Kemudian turun.

Lalu berhenti.

Dimas menatap layar.

Di kepalanya langsung muncul wajah Raka.

Kaos lusuh.

Sandal.

Cara ngomong setengah nyolot kalau lagi capek.

Cara duduk di teras sambil pura-pura santai.

Cara menghitung uang sewa kamar seolah angka kecil bisa disusun jadi tembok penahan.

Dan yang paling bikin Dimas tidak nyaman adalah ingatan pada malam ketika ia pindah.

Raka bilang:

“Kerjaan lo berhenti di pintu kontrakan.”

Waktu itu gampang.

Raka bukan nama di sistem.

Sekarang, nama itu ada tepat di depan mata.

Dimas menutup detail akun.

Membuka lagi.

Seolah dengan menutup dan membuka, sesuatu bisa berubah.

Tetap sama.

Raka Hamdhani.

Alamat kontrakan.

Dimas mengambil ponsel.

Mau chat Raka.

Berhenti.

Mau telepon.

Berhenti lagi.

Ia bahkan tidak tahu harus bilang apa.

Ka, lucu nih, nama lo masuk list gue.

Tidak mungkin.

Ka, lo punya tunggakan ya?

Lebih bodoh lagi.

Dimas mengusap wajah.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Reza.

Briefing 10 menit. Semua masuk ruang depan.

Dimas mematikan layar tablet.

Untuk pertama kalinya sejak kerja, ia berharap nama seseorang hilang dari daftar sebelum sempat disentuh.

Briefing pagi selalu sama.

Target.

Persentase.

Area prioritas.

Akun yang harus didorong.

Janji bayar yang harus ditagih.

Reza berdiri di depan layar besar.

“Gue nggak mau ulang kejadian minggu lalu.”

Beberapa orang diam.

“Banyak janji bayar, realisasinya jeblok.”

Reza menunjuk grafik.

“Yang ini wilayah tim kita.”

Garis merah turun.

“Kalau turun terus, yang ditanya bukan debitur. Gue.”

Seseorang di belakang berkata,

“Nasib supervisor.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Reza menatap.

“Ketawa aja. Nanti kalau insentif dipotong baru nangis berjamaah.”

Ruangan langsung lebih tenang.

Dimas melihat daftar cetak di tangannya.

Nama Raka ada di baris ketujuh.

Baris tujuh.

Tidak besar.

Tidak tebal.

Tidak pakai warna merah.

Cuma satu nama.

Tapi rasanya seperti paling mencolok.

Reza melanjutkan.

“Area Cempaka siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Collector di sampingnya menyenggol siku.

“Dim.”

Dimas angkat tangan.

“Gue.”

Reza melihat tabel.

“Cempaka ada beberapa prioritas.”

Dimas menatap kertas.

Reza menyebut dua nama dulu.

Bukan Raka.

Lalu nama ketiga.

“Raka Hamdhani.”

Dimas mengangkat wajah.

“Yang tunggakannya udah masuk serius.”

Dimas diam.

Reza melanjutkan.

“Alamat jelas. Jaminan jelas. Jangan terlalu banyak main telepon. Kunjungan.”

Dimas menarik napas.

“Mas.”

“Hm?”

“Bisa dialih?”

Reza berhenti.

Seluruh ruangan tidak langsung diam, tapi beberapa kepala menoleh.

“Kenapa?”

“Conflict.”

Reza mengerutkan dahi.

“Conflict apaan?”

“Kenal.”

“Saudara?”

“Bukan.”

“Teman dekat?”

Dimas ragu.

“Tempat tinggal gue.”

Reza menatapnya.

“Apa?”

“Gue ngontrak di alamat itu.”

Beberapa orang langsung bereaksi kecil.

“Wah.”

“Buset.”

Ada yang tertawa pendek.

Reza tidak.

“Lo ngontrak di tempat debitur?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Baru.”

“Dia tahu lo collector?”

“Tahu.”

“Masalah?”

“Belum.”

Reza menatap Dimas lama.

“Terus lo minta dialih?”

“Iya.”

“Karena?”

“Biar nggak campur.”

Reza menghela napas.

“Dim.”

“Hm.”

“Lo kerja di collection.”

“Iya.”

“Kalau tiap kenal orang terus minta dialih, sistemnya gimana?”

“Ini bukan kenal biasa.”

“Kenapa? Dia tidur sekamar sama lo?”

“Ya enggak.”

“Berarti masih bisa.”

Dimas menahan kesal.

“Mas, gue tinggal di sana.”

Reza menatap kertas di tangannya.

“Alamat lo sekarang sama?”

“Iya.”

“Lebih bagus.”

Dimas langsung melihat Reza.

“Apanya yang bagus?”

“Gampang follow up.”

Beberapa orang di ruangan tertawa.

Dimas tidak.

Reza menyadari itu.

Nada suaranya turun sedikit.

“Gue ngerti nggak enak.”

“Bukan soal nggak enak.”

“Terus?”

“Batas.”

Reza menghela napas.

“Lo yang bilang pekerjaan ya pekerjaan.”

“Iya.”

“Nah.”

“Justru.”

Dimas menunjuk kertas.

“Kalau gue nagih orang yang rumahnya gue tempatin, itu udah campur.”

Reza diam beberapa detik.

Kemudian mengambil tablet.

“Gue cek dulu.”

Dimas menunggu.

Reza menggulir.

Lihat selengkapnya