Orang yang Menagih dan Orang yang Ditagih
Dimas mulai menghindari Raka sejak pagi.
Masalahnya, tinggal di kontrakan kecil membuat menghindari seseorang terasa seperti mencoba menghindari suara azan dari musala ujung gang.
Bisa.
Tapi aneh.
Pukul lima lewat dua puluh, Dimas sudah keluar kamar.
Raka baru saja bangun karena Bu Nur meminta tolong mengangkat galon.
Mereka berpapasan di lorong.
Dimas mengangguk.
“Pagi.”
Raka membalas pendek.
“Pagi.”
Tidak ada pembicaraan soal kantor.
Tidak ada pembicaraan soal kunjungan.
Tidak ada pembicaraan soal nama Raka yang sekarang duduk di salah satu baris sistem perusahaan.
Dimas memakai sepatu.
Helm.
Tas.
Berangkat.
Raka berdiri sambil memegang galon.
Bu Nur melihat dari dapur.
“Kenapa?”
“Apaan?”
“Kalian berdua.”
“Kenapa?”
“Kayak habis rebutan warisan.”
Raka mengangkat galon.
“Enggak.”
Bu Nur mengangguk pelan.
“Oh.”
Raka menoleh.
“Oh apaan?”
“Kalau bilang enggak dua kali biasanya iya.”
“Bu.”
“Apa?”
“Galonnya berat.”
“Ya jangan diajak debat.”
Raka menghela napas.
Siang hari, pesan dari Dimas masuk.
Gue belum visit.
Raka membaca.
Tidak dibalas.
Beberapa menit kemudian:
Lagi dicoba pindah.
Raka tetap diam.
Sore:
Kalau ada telepon kantor, angkat aja. Jangan di-skip.
Raka mengetik:
Gue tahu.
Balasan cepat.
Jangan marah ke gue.
Raka berhenti.
Lalu menghapus teks yang sempat ia ketik.
Akhirnya cuma membalas:
Gue nggak marah.
Dimas mengirim satu stiker tertawa.
Raka mendengus.
Karena semua orang yang menulis “gue nggak marah” biasanya sedang marah.
Malam itu masalah lain muncul.
Bukan utang.
Listrik.
Raka berdiri di tengah halaman sambil memegang catatan kecil.
“Dimas belum bayar listrik tambahan.”
Komang yang sedang makan gorengan langsung menoleh.
“Lah.”
Maya keluar kamar sambil mengikat rambut.
“Debt collector nunggak listrik?”
Komang meletakkan gorengan.
“Ini berita.”
Raka menghela napas.
“Bukan nunggak. Baru belum bayar.”
“Berapa?” tanya Maya.
“Seratus dua puluh.”
Komang menepuk meja.
“Bang, ini konsepnya debt collector atau debt contributor?”
Maya langsung tertawa keras.
Raka juga tidak bisa menahan.
Bu Martha keluar.
“Ada apa?”
Komang menunjuk kamar Dimas.
“Bang Dimas belum bayar listrik.”
Bu Martha mengangkat alis.
“Yang kerja menagih orang?”
“Iya.”
Bu Martha menahan senyum.
“Menarik.”
Raka menggeleng.
“Gue tagih malam ini.”
Komang berdiri seolah memberi penghormatan.
“Sejarah.”
“Lo jangan ikut.”
“Gue saksi.”
Raka berjalan ke kamar enam.
Mengetuk.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Tok.
Tok.
Masih tidak ada.
Raka mengecek ponsel.
Dimas belum pulang.
Maya berseru dari belakang,
“Bang, jangan lupa pakai kalimat ‘kami hanya mengingatkan kewajiban’.”
Komang menambahkan,
“Terus kasih deadline.”
Raka menoleh.
“Gue lempar sandal ya.”
Maya tertawa.
Bu Martha masuk kamar sambil geleng-geleng kepala.
Dimas pulang hampir pukul sebelas.
Raka masih duduk di halaman.
Ia sengaja menunggu.
Bukan karena listrik.
Setidaknya bukan cuma listrik.
Motor Dimas masuk.
Mesin mati.
Helm dilepas.
Dimas langsung melihat Raka.
“Ada apa?”
Raka berdiri.
“Listrik.”
Dimas berhenti.
“Listrik?”
“Seratus dua puluh.”
Dimas memejamkan mata.
“Anjir.”
Raka melipat tangan.
“Kenapa?”
“Lupa.”
Raka menatap.
“Serius?”
“Serius.”
Dimas mengeluarkan ponsel.
“Transfer sekarang.”
Raka tidak bergerak.
Dimas membuka mobile banking.
“Nomor rekening?”
“Lo punya.”
“Iya.”
Dimas transfer.
Notifikasi masuk.
Rp120.000.
Raka menunjukkan layar.
“Lunas.”
Dimas tersenyum kecil.
“Berasa nggak?”
“Apanya?”
“Ditungguin orang cuma gara-gara utang.”
Raka diam.
Dimas sadar kalimatnya salah waktu.
“Gue nggak nyindir.”
“Ya.”
“Serius.”
Raka memasukkan ponsel ke saku.
“Besok lo visit?”
Dimas menghela napas.
“Belum tahu.”
“Gue nanya simpel.”
“Gue juga belum dapat jawaban.”
Raka menatapnya.
Dimas duduk.
“Gue udah minta pindah.”
“Terus?”
“Reza bilang tetap area gue.”
“Ya udah.”
“Ya udah apaan?”
“Lakuin aja.”
Dimas menatap Raka.
“Lo beneran ngomong gitu?”
“Kerjaan lo, kan?”
“Ka.”
Raka menahan kesal.
“Gue capek nungguin sesuatu yang nggak jelas. Kalau emang mau datang, datang.”
Dimas tidak menjawab.
“Kalau mau nagih, nagih.”
Dimas mengerutkan dahi.
“Lo mau bikin gue gampang atau bikin diri lo sendiri marah?”
Raka tertawa pendek.
“Gue juga nggak tahu.”
Beberapa detik hening.
Kemudian Raka berkata,
“Pokoknya jangan depan orang banyak.”
Dimas mengangguk.
“Gue coba.”
“Jangan pakai ‘coba’.”
“Lo juga tau gue nggak bisa jamin.”
Raka memalingkan muka.
Dimas masuk kamar.
Pintu tertutup.
Dan seperti biasa, tidak ada masalah yang benar-benar selesai.
Cuma dipindah ke besok.
Besok datang bersama udara panas.
Tidak hujan.
Atap tidak bocor.
Tapi kepala Raka tetap terasa penuh.
Pukul sembilan, ia sedang membantu Bu Nur mengantar dua bungkus nasi ke warung sebelah ketika Dimas belum terlihat.
Raka tidak tahu apakah lega atau justru makin tegang.
Pukul sepuluh.
Masih belum.
Pukul sebelas.
Ponsel Raka berbunyi.
Nomor kantor.
Ia angkat.
“Halo.”
“Dengan Bapak Raka Hamdhani?”
Suara perempuan.
Bukan Dimas.