ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #11

PINTU 11: DEPAN PINTU

Masalah yang Tidak Lagi Bisa Disembunyikan

Dimas datang pukul satu lewat dua belas menit.

Tidak sendiri.

Itu sudah cukup membuat Raka tahu bahwa hari itu akan berjalan jelek.

Dari teras, Raka melihat dua motor berhenti di depan pagar.

Dimas turun dari motor pertama.

Jaket abu-abu.

Tas hitam.

Wajah yang lebih kaku daripada biasanya.

Di belakangnya turun seorang laki-laki lain yang Raka belum pernah lihat.

Kemeja biru muda.

Celana bahan gelap.

Sepatu hitam.

Tas selempang.

Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan.

Raka langsung tahu.

Reza.

Bukan karena pernah bertemu.

Karena orang itu punya aura orang kantor yang datang bukan untuk minum kopi.

Bu Nur sedang melayani pembeli nasi uduk sisa siang.

Bu Martha duduk di depan kamar sambil membersihkan kacamatanya.

Komang belum pulang.

Adrian bekerja dari kamar.

Sari sedang menjahit.

Maya tidur.

Naya kuliah.

Suasana kontrakan sebenarnya biasa.

Sampai dua motor berhenti.

Dimas membuka pagar pelan.

“Ka.”

Raka berdiri.

“Gue bilang jangan siang pas orang rame.”

Dimas menghela napas.

“Gue udah mundurin dari pagi.”

Raka melihat Reza.

“Terus ini siapa?”

Reza menjawab sendiri.

“Saya Reza. Supervisor lapangan.”

Raka tersenyum hambar.

“Oh.”

Tidak ada jabat tangan.

Tidak ada basa-basi.

Reza melihat halaman.

Kemudian kembali ke Raka.

“Kita bisa ngobrol sebentar?”

Raka melipat tangan.

“Ngobrol aja.”

“Lebih enak di dalam.”

“Di sini aja.”

Dimas melihat Raka.

“Ka.”

Raka tidak menoleh.

“Di sini.”

Reza mengangguk kecil.

“Oke.”

Ia mengeluarkan map dari tas.

Raka langsung melihat.

Map lagi.

Surat lagi.

Angka lagi.

Ia mulai benci plastik bening.

“Ini terkait tunggakan atas nama Raka Hamdhani.”

Bu Nur berhenti membungkus nasi.

Raka mendengar.

Ia tidak menoleh ke ibunya.

“Gue tahu.”

Reza sedikit mengerutkan dahi mendengar gaya bahasa Raka, tapi tidak komentar.

“Kami sudah beberapa kali melakukan reminder lewat telepon.”

“Iya.”

“Dan ada komitmen pembayaran yang belum terpenuhi.”

Raka mengangguk pendek.

“Iya.”

Reza melihat lembar.

“Kita perlu kejelasan.”

Raka tertawa kecil.

“Semua orang juga.”

Reza menatap.

“Maksudnya?”

“Gue juga perlu kejelasan kapan punya uang.”

Dimas menahan napas.

Reza tetap tenang.

“Mas, saya nggak datang untuk berdebat.”

“Gue juga.”

“Kita cari solusi.”

Raka menunjuk map.

“Kalau solusinya bayar, gue udah tahu.”

Reza membuka lembar.

“Minimal hari ini ada pembayaran.”

Raka diam.

“Berapa pun?”

“Minimal ada komitmen yang nyata.”

Raka menoleh ke Dimas.

“Dia udah tahu kondisi gue.”

Dimas langsung menjawab,

“Gue udah jelasin conflict ke kantor.”

Reza menoleh sedikit ke Dimas.

“Kita nggak perlu bahas internal.”

Raka tertawa kecil.

“Enak ya.”

Reza kembali menatap Raka.

“Apa?”

“Kalau internal nggak perlu dibahas. Kalau hidup gue semua dibahas.”

Dimas mulai tidak nyaman.

“Ka, udah.”

Raka menatapnya.

“Lo jangan sekarang sok netral.”

Dimas diam.

Bu Martha yang sejak tadi duduk akhirnya berdiri.

Ia belum mendekat.

Tapi jelas mendengar.

Bu Nur menaruh bungkus nasi.

“Raka.”

“Bu, bentar.”

Bu Nur tidak lanjut.

Reza berkata,

“Mas, saya paham ini nggak nyaman.”

Raka langsung menjawab,

“Nggak. Lo nggak paham.”

Reza menghela napas.

“Kalau begini terus, susah.”

Raka tertawa lagi.

“Ya emang lagi susah.”

Nada suaranya mulai naik.

Bukan teriak.

Belum.

Tapi cukup membuat penghuni kamar lima membuka pintu.

Seorang ibu menengok.

Anaknya ikut.

Dimas melihat.

“Mas, kita masuk aja.”

Raka langsung menolak.

“Gue nggak mau orang rumah denger.”

Reza menatap sekeliling.

“Mereka udah denger.”

Raka tahu itu benar.

Dan kalimat itu membuatnya makin marah.

Dari ujung gang, Fadli baru pulang membeli es kopi.

Ia berhenti karena melihat dua motor asing di depan kontrakan.

Fadli tinggal tiga rumah dari sana.

Umurnya dua puluh lima.

Pekerjaan resminya tidak ada yang benar-benar tahu.

Kadang bikin konten kuliner.

Kadang live jual barang.

Kadang bantu edit video orang.

Kadang cuma nongkrong sambil merekam hal yang menurutnya “ada moment”.

Hari itu, dia melihat moment.

Ia mengeluarkan ponsel.

Awalnya cuma merekam dari jauh.

Tidak pakai suara.

Belum.

Reza masih bicara.

“Mas Raka, saya cuma butuh jawaban. Hari ini bisa bayar berapa?”

Raka menatap halaman.

Ia punya uang.

Sedikit.

Tapi itu uang untuk kebutuhan rumah.

Gas.

Belanja Bu Nur.

Sebagian untuk biaya kuliah Naya.

Dan sedikit cadangan kalau ada atap yang kembali rusak.

Ia bisa bayar.

Tapi setelah itu?

Raka menggeleng.

“Belum bisa.”

“Seratus?”

“Belum.”

“Lima puluh?”

Raka menatap.

“Lo serius nagih lima puluh ribu?”

Reza tetap tenang.

“Yang penting ada niat bayar.”

Raka tertawa pendek.

“Niatan gue nggak masuk sistem, kan?”

Dimas memejamkan mata sesaat.

Reza menarik napas.

“Mas, tolong jangan dibikin susah.”

Raka langsung tersulut.

“Gue yang bikin susah?”

“Bukan begitu maksud saya.”

“Terus apa?”

“Kalau ada tunggakan dan tidak ada pembayaran, ya kita harus follow up.”

“Gue tahu.”

“Kalau tahu, bantu juga.”

Raka melangkah sedikit maju.

Dimas langsung bergeser di antara mereka.

“Ka.”

Raka menatap Dimas.

“Gue nggak mau ribut.”

“Ya jangan.”

“Tapi jangan bikin gue kayak orang yang sengaja kabur.”

Dimas menjawab pelan,

“Gue nggak bilang lo kabur.”

Reza menambahkan,

“Belum ada yang bilang.”

Raka memandangnya.

“Cara lo datang aja udah kayak gue ngilang.”

Reza mulai kehilangan kesabaran.

“Mas, ini pekerjaan.”

“Ya, semua balik ke situ.”

Dimas menatap Raka tajam.

“Gue udah bilang dari awal.”

Raka langsung balik.

“Dan gue udah bilang kerjaan lo berhenti di pintu.”

“Gue udah coba.”

“Nyatanya sekarang lo di sini.”

Dimas menahan rahang.

“Gue disuruh.”

Raka tertawa hambar.

“Terus kalau disuruh semua boleh?”

Dimas diam.

Kalimat itu kena ke tempat yang tidak cuma soal kerja.

Hamdan datang dari ujung gang.

Ia membawa tas perkakas.

Jalannya melambat ketika melihat motor.

Lalu melihat Dimas.

Lalu Reza.

Wajahnya langsung paham.

“Yah.”

Raka menoleh.

Hamdan mendekat.

“Ada apa?”

Raka tertawa pendek.

“Ya itu.”

Hamdan melihat Reza.

“Saya Hamdan.”

Reza mengangguk.

“Pak.”

“Masalahnya masih yang kemarin?”

“Iya.”

Hamdan menurunkan tas.

“Yang pinjaman itu nama anak saya.”

Raka langsung menoleh.

“Ayah.”

Hamdan tidak melihatnya.

“Tapi buat kebutuhan keluarga.”

Reza mengangguk.

“Kalau begitu bisa dibicarakan, Pak.”

Raka kesal.

“Dibicarakan apaan? Dari kemarin dibicarakan mulu.”

Hamdan menatap anaknya.

“Raka.”

“Kenapa?”

“Jangan emosi.”

Kalimat itu justru membuat Raka makin panas.

“Yang bikin utang siapa?”

Semua diam.

Bu Nur langsung berdiri.

“Ka.”

Raka sadar kalimatnya kelewatan.

Tapi sudah keluar.

Hamdan tidak membalas.

Cuma menatap anaknya.

Itu lebih buruk.

Raka memalingkan muka.

Dimas melihat.

Reza juga.

Fadli dari jauh masih merekam.

Sekarang ia mulai mendekat pelan.

Bu Martha akhirnya ikut mendekat.

“Mas.”

Reza menoleh.

“Ya, Bu?”

“Kalau urusan penagihan, bisa tidak jangan di halaman?”

Reza menjawab sopan.

“Bisa, Bu. Kami dari tadi sudah minta masuk.”

Bu Martha langsung menoleh ke Raka.

Raka mendesah.

“Nah.”

Martha mengangkat alis.

“Kenapa saya?”

“Bukan.”

“Ya sudah masuk.”

Raka menggeleng.

“Gue nggak mau.”

Bu Martha menatapnya beberapa detik.

“Kamu malu?”

Lihat selengkapnya