ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #12

PINTU 12: VIRAL

Dua Menit yang Tidak Menceritakan Semuanya

Fadli membuka pintu rumah dengan wajah orang yang tahu dirinya akan dimarahi, tapi belum tahu seberapa parah.

Raka berdiri di depan.

Dimas di sebelahnya.

Dua-duanya diam.

Itu justru lebih bikin Fadli gugup.

“Bang…”

Raka menunjukkan ponsel.

Video masih berjalan.

Jumlah penonton naik terus.

“Apaan ini?”

Fadli menelan ludah.

“Video tadi.”

“Gue tahu video tadi.”

Raka mendekat sedikit.

“Gue nanya, ngapain lo upload?”

Fadli menggaruk leher.

“Ya… gue kira—”

“Jangan mulai pakai ‘gue kira’.”

Dimas berdiri dengan tangan di saku.

Wajahnya lebih tenang daripada Raka.

Tapi suaranya dingin.

“Lo rekam dari kapan?”

Fadli menoleh.

“Pas mulai rame.”

“Tanpa izin?”

Fadli diam.

Dimas mengangguk kecil.

“Oke.”

Fadli buru-buru berkata,

“Bang, gue nggak niat jelek.”

Raka tertawa pendek.

“Gue paling males kalimat itu.”

“Serius.”

“Lo upload muka gue, muka dia, rumah gue.”

“Rumah kan kelihatan dari luar.”

Raka menatap.

Fadli sadar jawabannya salah.

“Bukan gitu maksud gue.”

“Terus?”

Fadli memegang ponselnya.

“Gue kira cuma masuk FYP kecil-kecilan.”

Raka mengangkat alis.

“FYP kecil-kecilan?”

“Iya.”

“Emang ada?”

Fadli tidak jawab.

Dimas mengambil ponselnya sendiri.

“View berapa?”

Fadli melihat layar.

“Seratus empat puluh ribu.”

Raka menoleh cepat.

“Apaan?”

“Sekarang.”

“Barusan lima puluh.”

“Naik.”

Raka mengusap wajah.

“Anjir.”

Dimas membuka kolom komentar.

Ratusan.

Mungkin ribuan.

Potongan opini.

Tebakan.

Penghakiman.

Meme.

Akun-akun yang bahkan tidak tahu Kampung Cempaka ada di mana ikut bicara seperti sudah tinggal di situ sejak kecil.

Raka membaca beberapa.

Yang utang kok galak.

Debt collectornya malah ngontrak di tempat debitur, plot twist banget.

Kasihan bapaknya.

Pasti banyak dramanya itu rumah.

Coba spill penghuni lainnya.

Raka berhenti.

Yang terakhir membuat wajahnya berubah.

“Spill penghuni?”

Fadli mendekat.

“Mana?”

Raka menunjukkan.

Fadli tertawa kecil.

Salah.

Raka langsung menatap.

Fadli berhenti.

“Maaf.”

Dimas berkata,

“Hapus.”

Fadli tidak langsung bergerak.

Raka mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

“Kalau dihapus…”

Raka menatap tajam.

“Apa?”

Fadli menghela napas.

“Udah banyak yang save.”

Dimas diam.

Fadli melanjutkan,

“Udah direpost juga.”

Raka melihat layar.

Ada akun lain mengunggah ulang.

Ada yang memberi caption baru.

Ada yang menambahkan musik lucu.

Ada yang memotong bagian Raka menyuruh Dimas pergi.

Ada yang cuma mengambil ekspresi Hamdan saat menandatangani kertas.

Dua menit kejadian tadi siang sudah pecah jadi belasan versi.

Setiap versi punya cerita sendiri.

Dan tidak satu pun benar-benar lengkap.

“Ya tetap hapus,” kata Dimas.

Fadli mengangguk.

“Oke.”

Ia menekan beberapa tombol.

Video hilang dari akun utamanya.

Raka tidak merasa lega.

Sama sekali.

“Udah.”

Dimas menatapnya.

“Beneran?”

“Iya.”

Raka berkata,

“Kalau ada lagi?”

“Gue nggak bisa kontrol.”

“Nah.”

Raka tertawa hambar.

“Enak banget ya.”

Fadli menghela napas.

“Bang, gue minta maaf.”

Raka diam.

“Serius.”

Dimas menatap Fadli cukup lama.

“Lo tahu masalahnya apa?”

Fadli mengangguk.

“Privasi.”

Dimas menggeleng.

“Bukan cuma itu.”

Fadli diam.

“Lo bikin satu potongan seolah-olah lo tahu seluruh hidup orang di situ.”

Fadli menunduk sedikit.

Dimas melanjutkan,

“Lo tahu kenapa dia punya utang?”

Fadli tidak jawab.

“Lo tahu kenapa gue kerja nagih?”

Diam.

“Lo tahu bapaknya lagi sakit atau enggak?”

Fadli menatap.

“Enggak.”

“Nah.”

Dimas mengangguk.

“Masalahnya itu.”

Raka menoleh sedikit.

Untuk pertama kalinya malam itu ia tidak merasa sedang berdiri di sisi berlawanan dengan Dimas.

Fadli berkata pelan,

“Gue salah.”

Raka menarik napas.

“Ya udah.”

Fadli mengangkat kepala.

“Udah?”

“Gue capek.”

Raka menunjuk ponselnya.

“Tapi kalau lo bikin konten rumah gue lagi tanpa ngomong…”

Fadli cepat mengangguk.

“Nggak.”

“Gue serius.”

“Iya.”

Raka berbalik.

Dimas ikut.

Sebelum mereka pergi, Fadli memanggil.

“Bang.”

Raka berhenti.

“Video itu sekarang udah ada di beberapa akun besar.”

Raka tidak menoleh.

Fadli melanjutkan,

“Kayaknya besok malah makin rame.”

Raka menutup mata sebentar.

“Bagus.”

“Bang…”

“Bagus buat algoritma.”

Ia berjalan pergi.

Dimas menyusul.

Sepanjang jalan pulang, keduanya diam.

Beberapa rumah masih menyala.

Dari satu teras terdengar orang tertawa sambil melihat ponsel.

Raka tidak mau tahu video apa yang sedang mereka lihat.

Dimas akhirnya berkata,

“Gue minta maaf soal tadi siang.”

Raka menoleh.

“Kenapa sekarang?”

“Karena kalau nunggu semuanya normal, kayaknya kelamaan.”

Raka tersenyum tipis.

“Gue juga.”

Dimas melihat.

“Apaan?”

“Gue kelewatan.”

Dimas mengangguk.

“Ya.”

Raka langsung menatap.

“Enak banget.”

Dimas tertawa kecil.

“Lo maunya gue bilang enggak?”

“Minimal sopan.”

“Oke.”

Dimas memasukkan tangan ke saku.

“Lo kelewatan, tapi gue juga kesel.”

“Nah.”

“Udah.”

Mereka terus berjalan.

Tidak damai sepenuhnya.

Tapi retaknya sudah tidak selebar tadi siang.

Sampai mereka melihat kontrakan.

Tiga orang berdiri di depan pagar.

Satu memegang ponsel.

Dua lain saling berbisik.

Raka langsung berhenti.

“Apaan lagi.”

Dimas menatap.

“Mau lihat.”

“Lihat apaan?”

“Rumah.”

Raka tertawa kering.

“Ini kebun binatang?”

Mereka mendekat.

Salah satu pemuda berkata,

“Bang, ini yang viral ya?”

Raka langsung membuka pagar.

“Bukan.”

Pemuda itu melihat ponsel.

“Kayaknya sama.”

Raka menoleh.

“Kalau sama terus?”

Pemuda itu agak mundur.

“Enggak, Bang. Cuma nanya.”

“Ya udah, sekarang udah tahu.”

Raka masuk.

Dimas menutup pagar.

Untuk pertama kalinya pagar tua itu terasa terlalu rendah.

Di dalam, semuanya sudah menunggu.

Naya.

Bu Nur.

Hamdan.

Bu Martha.

Komang.

Maya.

Adrian.

Sari.

Lala sudah tidur.

Tidak ada yang sedang makan.

Tidak ada yang bercanda.

Raka duduk.

“Hapus?”

Naya bertanya.

“Yang asli.”

“Repost?”

Raka mengangkat bahu.

“Banyak.”

Adrian menunjukkan ponsel.

“Udah masuk X.”

Raka langsung menatap.

“Serius?”

“Udah.”

Maya mengambil ponselnya sendiri.

“Gue tadi lihat ada akun yang upload ulang.”

Komang berkata,

“Caption-nya lebih parah.”

Bu Martha mengerutkan dahi.

“Apanya?”

Komang membaca pelan.

“‘Rumah kontrakan penuh orang bermasalah.’”

Hening.

Raka tertawa pendek.

“Bagus.”

Maya melihat.

“Bagus apaan?”

“Sekalian aja bikin banner.”

Bu Nur menghela napas.

“Jangan becanda.”

Raka berhenti.

Adrian masih melihat layar.

Lalu ekspresinya berubah.

“Eh.”

Maya langsung menoleh.

“Kenapa?”

Adrian tidak jawab.

Maya bangkit.

“Kenapa?”

Adrian ragu.

“Nama lo disebut.”

Maya berhenti.

“Nama gue?”

Lihat selengkapnya