ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #13

PINTU 13: TAMU

Setelah Viral, Semua Orang Merasa Kenal

Hari kedua setelah video itu menyebar, kontrakan tidak lagi punya pagi yang biasa.

Jam enam lewat sedikit, seseorang sudah berdiri di depan pagar.

Laki-laki.

Umur sekitar tiga puluhan.

Kaos hitam.

Celana pendek.

Membawa ponsel di tangan.

Raka yang sedang membantu Bu Nur mengangkat termos langsung melihat.

“Cari siapa?”

Laki-laki itu tersenyum.

“Bang Raka ya?”

Raka berhenti.

Pertanyaan itu sekarang cukup membuat bahunya tegang.

“Iya.”

“Wah, bener.”

“Kenapa?”

Laki-laki itu melihat ke dalam halaman.

“Gue lihat video.”

Raka menghela napas.

“Terus?”

“Cuma penasaran.”

“Penasaran apaan?”

Laki-laki itu tertawa kecil.

“Ya tempatnya.”

Raka menatap.

“Sekarang udah lihat.”

“Oh.”

Laki-laki itu masih berdiri.

Raka menunjuk jalan.

“Udah?”

Laki-laki itu sadar.

“Iya, Bang.”

Ia pergi.

Bu Nur dari belakang berkata,

“Kenapa sih orang kalau penasaran harus datang?”

Raka menjawab,

“Kalau cuma penasaran di rumah, nggak seru kali.”

Bu Nur mendengus.

“Kurang kerjaan.”

Raka menoleh.

“Yang itu gue setuju.”

Belum sampai sepuluh menit, datang lagi.

Dua anak muda.

Bawa motor.

Salah satunya bertanya,

“Bang, boleh foto depan sini?”

“Enggak.”

“Cuma bentar.”

“Enggak.”

“Buat story doang.”

Raka melihat mereka.

“Kalau gue foto depan rumah lo terus masukin story, boleh?”

Anak itu terdiam.

“Ya…”

“Nah.”

Mereka pergi.

Raka menutup pagar lebih keras dari perlu.

Dari kamar satu, Bu Martha keluar.

“Jangan dibanting.”

Raka menoleh.

“Bu.”

“Engselnya tua.”

“Yang datang bikin emosi.”

“Engselnya tidak salah.”

Raka mengusap wajah.

“Pagi-pagi udah capek.”

Bu Martha mengangguk.

“Makanya jangan buka internet dulu.”

Raka menatap.

“Bu Martha tahu istilah buka internet?”

Bu Martha menatap balik.

“Saya pensiun, bukan meninggal.”

Raka tertawa kecil.

Sedikit.

Itu membantu.

Masalahnya, tidak semua tamu datang karena ingin menonton.

Jam tujuh lebih dua puluh, seorang bapak datang membawa map.

Bukan mau foto.

Bukan mau bikin konten.

Ia berdiri dekat warung Bu Nur sambil bertanya,

“Di sini bisa konsultasi utang?”

Raka memejamkan mata.

“Enggak.”

Bapak itu terdiam.

“Bukan?”

“Kontrakan.”

“Oh.”

Bu Nur menatap Raka.

Raka langsung tahu ekspresi ibunya.

“Bu, jangan.”

Bu Nur tetap bertanya,

“Masalahnya apa, Pak?”

Raka menoleh.

“Bu.”

“Udah datang.”

Bapak itu terlihat malu.

“Enggak, Bu. Saya kira…”

Raka menunjuk kursi.

“Duduk aja deh.”

Ia sendiri tidak tahu kenapa akhirnya bilang begitu.

Bapak itu duduk.

Namanya Hendra.

Dua bulan tidak kerja.

Pinjam uang dari tiga aplikasi.

Awalnya cuma buat bayar listrik dan motor.

Kemudian pinjam baru buat tutup lama.

Raka mendengar.

Tidak banyak komentar.

Dimas kebetulan keluar kamar.

Sudah siap kerja.

Ia melihat orang asing duduk.

Raka langsung menatap.

“Jangan.”

Dimas mengangkat alis.

“Apaan?”

“Jangan kerja.”

Dimas melihat map di tangan Hendra.

Lalu Raka.

“Gue cuma mau lewat.”

Hendra menoleh.

Melihat jaket dan tas Dimas.

Wajahnya berubah sedikit.

Raka langsung berkata,

“Tenang. Dia penghuni.”

Dimas menatap Raka.

Raka memperbaiki,

“Dan kerjaannya collector.”

Hendra langsung duduk lebih tegak.

Dimas menghela napas.

“Ka.”

“Gue jujur.”

Hendra berdiri.

“Saya pulang aja.”

Dimas cepat berkata,

“Pak.”

Hendra berhenti.

Dimas melihat mapnya.

“Kalau mau, jangan kasih data pribadi ke orang sembarangan.”

Hendra mengangguk.

“Termasuk saya.”

Raka menatap Dimas.

Dimas melanjutkan,

“Kalau memang ada pinjaman, cari kanal resmi. Jangan bayar ke nomor orang yang nggak jelas.”

Hendra mengangguk lagi.

Dimas sudah mau pergi.

Lalu berhenti.

“Dan jangan pinjam baru buat tutup lama kalau masih bisa berhenti.”

Raka mengangkat alis.

Hendra bertanya,

“Kalau udah telanjur?”

Dimas diam sebentar.

“Ya pelan-pelan beresin satu-satu.”

Hendra mengangguk.

“Terima kasih.”

Dimas melihat jam.

“Gue telat.”

Ia pergi.

Raka berdiri menatap punggungnya.

Bu Nur tersenyum kecil.

Raka langsung berkata,

“Jangan.”

“Apa?”

“Jangan lihat gue kayak gitu.”

“Kayak apa?”

Raka tidak jawab.

Menjelang siang, kontrakan mulai diperlakukan seperti tempat wisata kecil.

Ada yang lewat pelan.

Ada yang berhenti pura-pura beli gorengan.

Ada yang ternyata memang cuma beli gorengan.

Bu Nur tetap jualan.

Malah lebih ramai.

Naya bilang kalau mau jujur, video viral itu bikin penjualan naik.

Bu Nur tidak suka istilah itu.

“Bukan karena viral.”

“Terus?”

“Karena nasi uduknya enak.”

Naya tersenyum.

“Ya iya.”

Maya yang baru bangun ikut keluar.

Rambutnya diikat sembarangan.

Tidak pakai make-up.

Ia membeli kopi.

Dua perempuan di ujung warung berbisik.

Raka mendengar.

Salah satu berkata pelan,

“Itu bukan yang katanya kerja malam itu?”

Maya juga dengar.

Ia berhenti.

Raka melihat.

Bu Nur melihat.

Maya memegang gelas.

Lalu menoleh ke dua perempuan itu.

“Bu.”

Mereka langsung diam.

Maya tersenyum.

“Kalau mau nanya, nanya aja.”

Perempuan pertama cepat berkata,

“Enggak kok.”

Maya mengangguk.

“Ya udah.”

Ia kembali minum kopi.

Tidak marah.

Tidak nyolot.

Justru itu yang membuat dua perempuan tadi terlihat lebih malu.

Setelah mereka pergi, Raka berkata,

“Lo gapapa?”

Maya menatap.

“Kenapa?”

“Ya tadi.”

Maya mengangkat bahu.

“Kalau tiap orang ngomong gue tanggepin, gue nggak sempat kerja.”

Bu Nur menyerahkan gorengan.

“Makan.”

Maya menerima.

“Gratis?”

“Bayar.”

Maya tertawa.

“Kirain lagi prihatin.”

“Prihatin bukan berarti warung tutup.”

Maya tersenyum kecil.

“Bagus.”

Adrian kena dengan cara lain.

Sebuah motor berhenti.

Seorang laki-laki muda turun.

Tidak bawa kamera.

Tidak kelihatan mau bikin konten.

Ia berdiri dekat pagar.

“Adrian ada?”

Raka langsung curiga.

“Siapa?”

“Temen.”

“Namanya?”

“Kevin.”

Raka menatapnya.

“Adrian tahu lo datang?”

Kevin menggeleng.

Raka menyandarkan badan ke pagar.

“Ya chat dulu.”

Kevin menghela napas.

“Bang, gue kenal dia.”

“Gue juga sekarang.”

Kevin tertawa kecil.

Raka tidak.

Akhirnya Kevin mengeluarkan ponsel.

Mengetik.

Tidak lama, Adrian keluar kamar.

Wajahnya langsung berubah ketika melihat Kevin.

“Ngapain lo ke sini?”

Kevin mengangkat tangan.

“Gue cuma mau lihat lo.”

“Kenapa?”

“Ya… karena video.”

Adrian memejamkan mata.

“Kenapa semua orang mikir video bikin mereka punya hak datang?”

Kevin terdiam.

“Gue khawatir.”

Adrian tertawa pendek.

“Dari kapan?”

“Dri—”

“Jangan.”

Kevin berhenti.

Adrian menatap Raka.

“Gue keluar bentar.”

Raka mengangguk.

Adrian pergi dengan Kevin.

Bu Martha keluar membawa kain lap.

“Siapa?”

“Temennya Adrian.”

Bu Martha melihat ke ujung gang.

“Teman baik?”

Raka mengangkat bahu.

“Entah.”

Bu Martha mengangguk.

“Ya.”

Ia masuk lagi.

Raka tersenyum kecil.

“Tumben nggak nanya banyak.”

Bu Martha menoleh.

“Dia bukan murid saya.”

Sari justru hampir tidak keluar kamar.

Sejak pagi.

Lihat selengkapnya