Tidak Semua Penyesalan Harus Diterima
Bagas tidak datang keesokan harinya.
Tidak juga lusa.
Sari tidak bilang lega.
Tapi setiap kali ada motor berhenti di ujung gang, tangannya tetap berhenti bekerja.
Cuma sebentar.
Jarum tertahan di atas kain.
Mata melihat ke luar.
Lalu lanjut lagi.
Raka memperhatikan.
Tidak komentar.
Ia sudah belajar sedikit.
Sedikit saja.
Hari ketiga, Sari sedang memasang resleting pada rok pelanggan ketika Lala keluar membawa buku gambar.
“Ibu.”
“Hm?”
“Papa nggak datang?”
Jarum berhenti lagi.
Sari menatap putrinya.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Kangen?”
Lala mengangkat bahu.
Gerakan kecil yang terlalu dewasa untuk umur tujuh.
“Sedikit.”
Sari mengangguk.
Tidak marah.
Tidak menunjukkan kecewa.
“Ya boleh.”
Lala duduk di lantai.
“Kalau kangen berarti harus pulang?”
Sari langsung menatap.
“Siapa bilang?”
“Temen aku bilang kalau papa sama mama berantem, nanti baikan.”
Sari meletakkan kain.
“Lala.”
“Hm?”
“Orang bisa baikan tanpa tinggal bareng lagi.”
Lala mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Sari berpikir.
Sulit menjelaskan sesuatu yang bahkan orang dewasa sering pura-pura tidak mengerti.
“Karena kadang rumah yang sama bukan tempat yang baik buat semua orang.”
Lala memandang ibunya.
“Papa jahat?”
Sari diam cukup lama.
Kemudian menggeleng.
“Papa pernah bikin hal yang nggak boleh.”
“Jahat?”
“Perbuatannya salah.”
Lala memikirkan.
“Tapi Papa masih Papa?”
“Iya.”
“Terus Ibu masih Ibu?”
Sari hampir tersenyum.
“Iya.”
Lala mengangguk.
“Ya udah.”
Ia kembali menggambar.
Bagi anak kecil, kadang jawaban tidak perlu selesai.
Cukup membuat dunia tidak runtuh.
Bagi Sari, justru setelah percakapan itu selesai, kepalanya makin ramai.
Siang itu Bagas mengirim pesan.
Tidak panjang.
Aku boleh ketemu? Di luar. Kalau kamu nggak mau, aku nggak datang.
Sari membaca berkali-kali.
Tidak langsung membalas.
Ia menaruh ponsel.
Mengambil lagi.
Menaruh lagi.
Maya yang sedang duduk di kursi plastik sambil mengoles kuteks melihat.
“Dia?”
Sari mengangguk.
“Mau datang?”
“Iya.”
“Mau lo?”
Sari diam.
Maya tidak mendesak.
Ia meniup kuku.
Beberapa detik kemudian berkata,
“Kalau bingung, jangan jawab dulu.”
Sari menatap.
“Kalau nggak dijawab, dia nunggu.”
Maya mengangkat bahu.
“Biar.”
Sari tertawa kecil.
“Lo gampang.”
“Gue bukan yang nikah sama dia.”
Kalimat itu terdengar kasar.
Tapi benar.
Maya menurunkan tangannya.
“Makanya gue nggak mau nyuruh lo ninggalin atau balik.”
Sari diam.
“Gue cuma bilang satu.”
“Apa?”
“Kalau lo mau ketemu, ketemu karena lo mau. Bukan karena kasihan.”
Sari melihat layar.
“Kalau karena Lala?”
Maya tidak langsung jawab.
“Ya itu juga alasan.”
“Tapi?”
Maya menghela napas.
“Tapi anak juga nggak harus bayar harga keputusan orang dewasa.”
Sari menatapnya.
Maya langsung mengangkat tangan.
“Udah. Gue sok bijak banget.”
Sari tertawa kecil.
“Jarang.”
“Makanya jangan dibiasain.”
Raka tahu sore itu dari Bu Nur.
“Sari mau ketemu Bagas.”
Raka yang sedang mengganti lampu lorong langsung berhenti.
“Di mana?”
“Depan.”
“Kapan?”
“Nanti.”
Raka turun dari bangku.
“Kenapa dikasih?”
Bu Nur menatap.
“Dikasih apaan?”
“Ketemu.”
Bu Nur mengerutkan dahi.
“Emangnya kamu yang punya izin?”
Raka diam.
“Dia yang mutusin.”
“Kalau nanti kenapa-kenapa?”
“Ya kita ada.”
“Bu, orang kayak gitu jangan gampang dikasih masuk.”
Bu Nur menyilangkan tangan.
“Orang kayak gimana?”
Raka langsung menjawab,
“Yang mukul.”
Bu Nur tidak membantah.
“Iya.”
“Nah.”
“Tapi Sari bukan anak kecil.”
Raka mulai kesal.
“Gue cuma jaga.”
“Jaga boleh.”
Bu Nur menunjuk.
“Ngatur jangan.”
Raka menatap ibunya.
Bu Nur kembali ke warung.
“Beda tipis kalau kamu lagi merasa paling benar.”
Raka mendengus.
Bagas datang menjelang Magrib.
Kali ini membawa sesuatu.
Bukan bunga.
Bukan hadiah mahal.
Satu kantong plastik berisi buah.
Dan satu kotak pensil bergambar kucing.
Raka melihat dari teras.
Langsung tahu untuk siapa.
Bagas berhenti di luar pagar.
Tidak masuk.
Raka menghampiri.
“Lo lagi.”
Bagas mengangguk.
“Sari bilang boleh.”
Raka menatap.
Bagas menunjukkan ponsel.
Raka tidak baca.
“Gue nggak perlu lihat.”
Bagas mengangguk lagi.
“Gue tunggu sini.”
Raka melihat kantong.
“Bawa apa?”
“Buah.”
“Buat apa?”
Bagas menahan napas.
“Mas.”
“Hm?”
“Gue datang bukan buat berantem sama lo.”
Raka langsung menjawab,
“Gue juga.”
“Ya.”
Mereka saling lihat.
Dua laki-laki sama-sama tidak percaya kalimat sendiri.
Sari keluar.
Lala di belakangnya.
Sari memakai kaus lengan panjang dan celana longgar.
Tidak berdandan.
Wajahnya tenang.
Bagas langsung melunak.
“Sar.”
Sari mengangguk.
“La.”
Lala tersenyum kecil.
“Papa.”
Bagas menunjukkan kotak pensil.
“Papa bawa ini.”
Lala menatap ibunya dulu.
Sari mengangguk.
Lala mengambil.
“Terima kasih.”
Bagas tersenyum.
“Bagus?”
Lala membuka.
“Kucing.”
“Iya.”
“Aku sukanya kelinci.”
Bagas berhenti.
Raka menunduk menahan tawa.
Bagas mengusap tengkuk.
“Papa salah.”
Lala melihat kotaknya.
“Tapi lucu.”
“Syukur.”
Sedikit ketegangan turun.
Sari berkata,
“Ngobrol di luar aja.”
Bagas mengangguk.
“Iya.”
Raka tetap berdiri.
Sari menoleh.
“Mas Raka.”
“Hm?”
“Saya bisa.”
Raka tidak bergerak.
Sari mengulangi lebih pelan.
“Saya bisa.”
Raka menahan diri.
Lalu mundur.
“Gue di teras.”
Sari mengangguk.
Mereka duduk di bangku dekat pagar.
Lala di antara Sari dan Bagas.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Bagas menyerahkan buah.
“Buat kalian.”
Sari menerima tanpa komentar.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lala sibuk dengan kotak pensil.
Bagas akhirnya berkata,
“Sekolah gimana?”
Lala menjawab,
“Dapat bintang.”
“Serius?”
Lala mengangguk.
“Matematika.”
Bagas tersenyum.
“Hebat.”
Sari melihat.
Ada sesuatu di wajah Bagas ketika bicara pada Lala.
Sesuatu yang dulu ia kenal baik.
Sabar.
Lembut.
Laki-laki yang pernah begadang saat Lala demam.
Yang pernah berjalan tiga kilometer karena motor mogok cuma buat beli susu.
Yang pernah menunggu Sari selesai menjahit sampai tengah malam sambil bikin teh.
Semua itu juga nyata.
Itulah yang membuat semuanya sulit.
Kalau Bagas hanya buruk, mungkin pergi akan terasa lebih sederhana.
Bagas menatap Sari.
“Aku udah mulai kerja lagi.”
Sari mengangguk.
“Di mana?”
“Bengkel temen.”
“Yang di Jatibening?”
“Iya.”
“Bagus.”
Bagas terlihat sedikit lega karena Sari masih mau bertanya.
“Belum tetap.”
“Ya.”
“Tapi ada.”
Sari mengangguk.