Ketika Bercanda Tidak Lagi Lucu
Naya biasanya pulang kerja sambil mengeluh.
Bukan karena benci kafe tempatnya kerja.
Justru karena ia cukup nyaman untuk mengeluh.
Tentang mesin espresso yang ngadat.
Tentang pelanggan yang pesan es kopi tanpa es.
Tentang anak kecil yang numpahin susu lalu ibunya pura-pura nggak lihat.
Tentang manajer shift yang punya kemampuan muncul tepat ketika semua orang lagi sibuk.
Tentang playlist kafe yang muter lagu yang sama tiga kali sehari.
Tentang tips yang kecil.
Tentang kaki pegal.
Tentang hidup.
Malam itu ia pulang tanpa cerita.
Raka yang sedang duduk di teras langsung sadar.
“Tumben.”
Naya melepas sepatu.
“Hm?”
“Nggak ngomel.”
Naya mengangkat bahu.
“Capek.”
Biasanya dari kata capek akan lanjut dua puluh menit.
Malam itu tidak.
Ia langsung masuk.
Raka melihat.
Aneh.
Bu Nur dari dapur memanggil,
“Nay, makan!”
“Nanti.”
Raka menoleh ke arah dapur.
“Nah.”
Bu Nur muncul.
“Kenapa?”
“Dia bilang nanti.”
“Terus?”
“Biasanya dia langsung makan.”
Bu Nur melihat pintu kamar Naya.
“Capek kali.”
Raka mengangguk.
Mungkin.
Ia tidak mengejar.
Setidaknya malam itu.
Besoknya sama.
Naya berangkat kuliah.
Lanjut kerja.
Pulang hampir jam sebelas.
Diam.
Tidak ada cerita pelanggan bodoh.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada video lucu yang dipaksa ditonton semua orang.
Maya yang kebetulan baru mau berangkat kerja melihat Naya masuk pagar.
“Tumben muka lo kayak habis ditagih skripsi.”
Naya hampir tersenyum.
“Belum skripsi.”
“Lebih parah berarti.”
Naya menggeleng.
Maya melihat lebih lama.
“Lo sakit?”
“Enggak.”
“Berantem sama pacar?”
“Gue nggak punya.”
“Bagus.”
Naya tertawa kecil.
Akhirnya.
Maya merasa sedikit lega.
Tapi cuma sedikit.
Karena orang yang baik-baik saja biasanya tidak perlu berusaha keras untuk tertawa.
Hari ketiga, Naya pulang lebih cepat.
Jam delapan.
Raka lagi keluar beli rokok.
Bu Nur sedang menutup warung.
Hamdan belum pulang dari bengkel.
Maya belum berangkat kerja.
Ia duduk di depan kamar sambil merapikan rambut.
Naya masuk.
Maya langsung melihat wajahnya.
“Lo kenapa?”
Naya berhenti.
“Kenapa?”
“Jangan jawab pertanyaan pakai pertanyaan.”
Naya menghela napas.
“Males.”
Maya melihat tas Naya.
Talinya sedang digenggam kuat.
Bukan dipegang.
Digenggam.
“Kerja?”
Naya mengangguk.
“Masuk?”
“Iya.”
“Pulang cepat?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Naya melihat halaman.
Bu Martha sedang di dalam.
Komang belum pulang.
Sari sedang mandi.
Tidak banyak orang.
Naya duduk di kursi plastik.
Maya tidak ngomong lagi.
Beberapa detik.
Lalu satu menit.
Naya akhirnya berkata,
“Gue kayaknya mau resign.”
Maya mengangkat alis.
“Kenapa?”
Naya menatap lantai.
“Capek.”
Maya diam.
“Capek doang?”
Naya tidak jawab.
Maya mengangguk pelan.
“Oke.”
Naya melihat.
“Oke apaan?”
“Kalau lo belum mau cerita, ya udah.”
Naya menunduk lagi.
Justru karena Maya tidak mendesak, tenggorokannya terasa makin berat.
“May.”
“Hm?”
“Kalau ada orang becanda tapi bikin lo nggak nyaman…”
Maya langsung berhenti merapikan rambut.
Wajahnya berubah.
“Siapa?”
Naya melihat.
Maya mengangkat tangan.
“Sorry.”
Ia menarik kursi.
Duduk di depan Naya.
“Lanjut.”
Naya menarik napas.
“Pelanggan.”
“Cowok?”
“Iya.”
“Sering?”
“Lumayan.”
Maya tidak menyela.
Naya melanjutkan,
“Awalnya biasa.”
“Biasa gimana?”
“Ya ngobrol. Nanya nama. Nanya kuliah di mana.”
“Hm.”
“Terus mulai manggil gue cantik.”
Maya masih diam.
“Terus bilang kalau gue senyum dia tambah kopi lagi.”
“Terus?”
Naya memainkan ujung tas.
“Awalnya gue kira ya… emang pelanggan rese aja.”
“Ya.”
“Terus mulai ngomong aneh.”
Maya menunggu.
Naya menelan ludah.
“Kayak nanya gue pulang jam berapa.”
“Hm.”
“Naik apa.”
“Hm.”
“Terus bilang mau anter.”
Maya menghela napas kecil.
Naya melanjutkan.
“Gue bilang nggak usah.”
“Terus?”
“Dia ketawa.”
“Ngomong apa?”
Naya diam beberapa detik.
“Katanya gue sok jual mahal.”
Maya menatapnya.
“Udah dari kapan?”
“Dua mingguan.”
“Lo cerita ke siapa?”
“Belum.”
Maya mengerutkan dahi.
“Di tempat kerja nggak ada yang lihat?”
“Ada.”
“Terus?”
Naya tertawa hambar.
“Katanya dia emang gitu.”
Maya tidak ikut tertawa.
“Siapa yang bilang?”
“Supervisor shift.”
“Cowok?”
“Cewek.”
Maya mengangguk perlahan.
Naya melanjutkan,
“Katanya jangan terlalu dipikirin. Dia pelanggan lama.”
Maya bersandar.
“Lanjut.”
Naya melihat Maya.
“Kenapa lo yakin ada lanjutannya?”
“Karena lo mau resign.”
Naya diam.
Lalu berkata lebih pelan,
“Dua hari lalu dia pegang pinggang gue.”
Maya langsung menegakkan tubuh.
Naya cepat melanjutkan,
“Cuma sebentar.”
Maya menatap tajam.
“Jangan ngomong ‘cuma’.”
Naya berhenti.
Maya menarik napas.
“Sorry. Lanjut.”
Naya memandang ujung sepatunya.
“Gue lagi ambil gelas. Dia lewat belakang.”
Maya diam.
“Terus dia pegang.”
“Lo bilang apa?”
“Gue langsung minggir.”
“Hm.”
“Dia ketawa.”
“Hm.”
“Katanya, ‘Santai aja kali. Bercanda.’”
Maya menutup mata sebentar.
Naya melihat.
“May.”
“Iya.”
“Jangan marah dulu.”
“Gue nggak marah sama lo.”
Naya mengangguk.
Maya menurunkan suara.
“Terus hari ini?”
Naya menggigit bibir.
“Dia datang lagi.”
“Pegang lagi?”
“Enggak.”
Maya menunggu.
“Dia bilang gue kalau pakai seragam lebih cakep.”
“Hm.”
“Terus nanya dalemannya warna apa.”
Maya diam.
Naya tertawa kecil.
Aneh.
Bukan karena lucu.
“Gue langsung tinggal.”
Maya masih tidak bicara.
“Supervisor gue malah bilang, ‘Ya ampun, dia becanda doang.’”
Maya memandang Naya.
“Makanya lo pulang.”
Naya mengangguk.
“Gue bilang pusing.”
Maya mencondongkan tubuh.
“Lo takut?”
Naya langsung menjawab,
“Enggak.”
Maya tidak membantah.
Naya sendiri yang akhirnya berkata,
“Sedikit.”
Maya mengangguk.
“Ya.”
Naya menatapnya.
“Gue jadi ngerasa lebay.”
Maya langsung menjawab,
“Enggak.”
“Orang lain kayak biasa aja.”
“Bukan patokan.”
“Tapi kalau emang dia cuma becanda?”
Maya menatap Naya lama.
Lalu berkata,
“Kalau cuma satu orang yang ketawa, itu bukan becanda yang bagus.”
Naya diam.
Maya melanjutkan,
“Dan kalau lo udah bilang nggak nyaman, berhenti ya berhenti.”
Naya memandang ke halaman.
“Gue belum bilang langsung.”
“Ke dia?”
“Iya.”
“Lo harus?”
Naya mengerutkan dahi.
Maya mengangkat bahu.
“Kenapa harus lo yang ngajarin orang dewasa jangan pegang orang sembarangan?”
Naya tidak jawab.
Maya mengambil napas.
“Lo mau ngapain?”
Naya langsung berkata,
“Gue nggak tahu.”
“Oke.”
“Gue cuma pengen cerita dulu.”
Maya mengangguk.
“Ya udah.”
Itu saja.
Tidak ada strategi.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada kalimat “lo harus”.
Untuk pertama kalinya tiga hari terakhir, Naya merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Masalahnya, Raka pulang lima menit kemudian.
Ia masuk pagar sambil membawa rokok.