ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #16

PINTU 16: HARGA

Yang Dibayar untuk Bertahan

Maya tahu sesuatu sedang salah ketika Yuli menelepon sebelum ia bangun.

Pukul dua siang.

Bagi orang lain, mungkin bukan pagi.

Bagi Maya, itu seperti ditelepon jam lima subuh.

Ponselnya bergetar tiga kali di samping bantal.

Ia membuka satu mata.

Nama di layar:

Mbak Yuli

Maya mengerang.

Mengangkat.

“Halo…”

“Lo masih tidur?”

“Kalau suara gue kayak penyiar radio berarti enggak.”

“May, serius.”

Maya membuka mata satu lagi.

Nada Yuli beda.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada omelan soal jadwal.

Tidak ada suara musik dari tempat kerja.

Maya duduk.

“Kenapa?”

“Video rumah lo.”

Maya langsung sadar penuh.

“Hm.”

“Udah ke mana-mana.”

“Gue tahu.”

“Nama tempat kerja kita disebut.”

Maya menutup mata sebentar.

“Di mana?”

“Komentar. Terus ada akun yang bikin thread.”

Maya menyandarkan punggung ke dinding.

“Terus?”

“Foto lo ada.”

Maya diam.

Yuli melanjutkan,

“Ada yang ambil dari Instagram lama.”

Maya langsung membuka aplikasi lain.

Notifikasi sudah penuh.

Tag.

Permintaan mengikuti.

Pesan dari akun yang tidak dikenal.

Satu unggahan memperlihatkan potongan video kontrakan.

Di sebelahnya foto Maya sedang berada di lounge tempat kerjanya.

Caption:

TERNYATA PENGHUNI KONTRAKAN VIRAL INI KERJA DI TEMPAT HIBURAN MALAM.

Maya tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena judulnya terdengar seperti penemuan ilmiah.

Yuli masih bicara.

“May?”

“Iya.”

“Jangan upload apa-apa dulu.”

“Emang gue mau konferensi pers?”

“Gue serius.”

“Gue juga.”

Yuli menghela napas.

“Manajemen nanya.”

“Terus?”

“Gue bilang urusan pribadi lo.”

Maya sedikit diam.

“Makasih.”

“Jangan dulu.”

Maya mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

“Katanya ada beberapa tamu yang nge-tag tempat.”

Maya menatap layar.

“Ada yang komplain?”

“Belum.”

“Terus?”

“Lo tahu sendiri. Kalau sampai nama tempat kebawa…”

Maya langsung memotong.

“Gue nggak nyebut nama tempat.”

“Gue tahu.”

“Gue juga nggak bikin videonya.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

Yuli diam beberapa detik.

Maya sudah tahu jawabannya.

Di tempat kerja seperti itu, masalah tidak selalu harus salah seseorang dulu sebelum seseorang dikorbankan.

Kadang cukup dianggap merepotkan.

Yuli berkata,

“Masuk malam ini. Kita ngomong.”

Maya menghela napas.

“Gue tetap kerja?”

“Untuk sekarang.”

Untuk sekarang.

Dua kata yang paling tidak enak didengar pekerja tanpa kontrak kuat.

Maya menatap langit-langit.

“Oke.”

Telepon ditutup.

Ia tidak langsung bergerak.

Kamar tujuh sunyi.

Parfum di meja.

Tas.

Sepatu.

Kotak kosmetik.

Uang receh.

Semua masih sama.

Tapi kadang hidup tidak perlu berubah bentuk untuk terasa berbeda.

Cukup satu foto beredar.

Ketukan terdengar.

Tok.

Tok.

Maya tidak menjawab.

Tok.

Tok.

“May.”

Naya.

Maya membuka pintu.

Naya berdiri sambil membawa dua gelas es teh.

“Gue masuk?”

“Kalau bawa itu.”

Naya menyerahkan satu.

Masuk.

Maya duduk lagi di lantai.

Naya langsung melihat wajahnya.

“Kerjaan?”

Maya mengangguk.

“Kenapa?”

“Nama tempat keseret.”

Naya menghela napas.

“Anjir.”

Maya mengambil es teh.

“Bahasanya.”

“Sorry.”

“Gue bukan Bu Martha.”

Naya tertawa tipis.

Maya tidak.

Naya berhenti.

“Parah?”

“Belum tahu.”

“Bisa dipecat?”

Maya mengangkat bahu.

“Bisa.”

“Padahal lo nggak ngapa-ngapain.”

Maya tersenyum hambar.

“Dunia kerja nggak selalu nanya siapa salah.”

Naya diam.

Maya membuka ponsel.

Menunjukkan unggahan.

Naya membaca.

Mukanya langsung berubah.

“Ini siapa sih yang bikin?”

“Nggak tahu.”

“Foto lo dari mana?”

“Instagram lama.”

Naya melihat lagi.

“May.”

“Hm?”

“Kalau mau gue bantu report.”

Maya tersenyum kecil.

“Lo satu-satunya orang yang kalau panik justru kerja administratif.”

“Lumayan daripada abang gue.”

Maya tertawa sedikit.

“Nah, itu.”

Naya membantu melaporkan beberapa unggahan.

Tidak banyak gunanya.

Satu hilang.

Tiga muncul.

Internet punya kemampuan berkembang biak kalau diberi gosip.

Yang Maya takutkan bukan orang kantor.

Bukan tetangga.

Bukan pelanggan.

Bukan bahkan Bu Martha.

Yang Maya takutkan cuma satu orang.

Rio.

Sejak semalam pesannya belum ia balas.

Kak, ini bener tempat kakak tinggal?

Lalu pagi tadi:

Kak kok nggak jawab?

Maya melihat dua pesan itu lagi.

Naya memperhatikan.

“Adik lo?”

Maya mengangguk.

“Dia tahu kerjaan lo?”

“Katanya gue supervisor restoran.”

Naya diam.

“Katanya?”

Maya melihat.

“Ya gue yang bilang.”

“Oh.”

Maya tertawa pendek.

“Supervisor. Keren, kan?”

“Lumayan.”

“Punya kemeja putih juga gue.”

Naya tidak ikut bercanda.

“Kenapa bohong?”

Maya memutar sedotan.

“Karena dia enam belas tahun.”

“Terus?”

“Karena gue nggak mau dia mikirin kerjaan gue.”

Naya diam.

Maya melanjutkan,

“Dia cuma perlu sekolah.”

“Hm.”

“Nilainya udah jelek tanpa mikirin gue.”

Naya tersenyum sedikit.

Maya melihat layar lagi.

“Gue pikir selama dia dapat uang sekolah, makan, seragam, udah.”

“Belum tentu.”

Maya mengangkat alis.

Naya langsung mengangkat tangan.

“Gue bukan ceramah.”

“Bagus.”

“Cuma…”

Naya mencari kata.

“Orang kadang lebih sakit karena dibohongin daripada karena kebenarannya.”

Maya terdiam.

Lalu menatap Naya.

“Lo umur dua puluh udah ngomong kayak Bu Martha.”

Naya tertawa.

“Lingkungan.”

Maya akhirnya membalas:

Iya. Itu tempat kakak tinggal.

Tidak sampai satu menit.

Rio menelepon.

Maya melihat layar.

Tidak mengangkat.

Telepon mati.

Masuk lagi.

Naya berdiri.

“Gue keluar.”

Maya menahan.

“Jangan.”

Naya berhenti.

“Duduk aja.”

“Yakin?”

“Kalau gue mati, minimal ada saksi.”

Naya duduk lagi.

Maya mengangkat.

“Halo.”

Suara Rio langsung keluar.

“Kak.”

“Hm?”

“Itu bener?”

“Yang mana?”

“Jangan gitu.”

Maya menutup mata.

“Oke.”

Rio diam beberapa detik.

“Temen gue kirim.”

Maya langsung membuka mata.

“Temen sekolah?”

“Iya.”

“Siapa?”

“Bukan masalahnya.”

Maya berhenti.

Rio jarang bicara seperti itu.

“Kak kerja di situ?”

Maya tidak jawab.

“Kak.”

“Iya.”

Hening.

Maya mendengar suara kendaraan dari sisi Rio.

Mungkin dia sedang di luar rumah.

“Restoran?”

Maya menelan ludah.

“Bukan.”

“Terus?”

Maya tidak tahu cara membuat kalimatnya enak.

Jadi ia memilih tidak membuatnya enak.

“Tempat hiburan malam.”

Rio diam.

Maya melanjutkan,

“Gue nemenin tamu. Minum. Ngobrol.”

Masih diam.

“Kadang ada komisi.”

Rio akhirnya berkata,

“Komisi apa?”

Maya melihat Naya.

Naya langsung menunduk, memberi ruang meskipun masih di sana.

Maya menatap dinding.

“Minuman.”

“Hm.”

“Booking.”

“Hm.”

Maya tahu Rio belum bertanya bagian yang paling ia takutkan.

Lalu akhirnya keluar.

“Temen gue bilang…”

Rio berhenti.

Maya menunggu.

“Katanya kakak juga…”

Suaranya mengecil.

Maya menutup mata.

“Kadang.”

Rio diam.

Panjang.

Tidak ada yang bergerak di kamar.

Maya mendengar napas adiknya.

“Kenapa?”

Pertanyaan itu tidak marah.

Justru terdengar seperti anak kecil.

Maya benci itu.

“Rio.”

“Kenapa, Kak?”

“Karena butuh duit.”

“Segitunya?”

Maya langsung defensif.

“Jangan mulai.”

“Gue nanya.”

“Ya karena butuh.”

“Buat apa?”

Maya tertawa pendek.

“Lo serius nanya?”

Rio terdiam.

Maya melanjutkan,

“SPP lo.”

Naya mengangkat wajah sedikit.

“Buku.”

Maya mulai menghitung tanpa sengaja.

“Laptop bekas yang lo minta.”

Rio diam.

“Les waktu kelas sembilan.”

Diam.

“Uang daftar sekolah.”

Diam.

Lihat selengkapnya