ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #17

PINTU 17: LABEL

Nama yang Diberikan Orang Lain

Adrian tahu sesuatu sudah sampai ke keluarganya ketika ayahnya berhenti mengirim pesan panjang.

Biasanya Yohanes Setiawan tidak pernah singkat.

Kalau bertanya makan, bisa tiga baris.

Kalau mengingatkan misa, ada salam pembuka, jam, nama gereja, dan satu kalimat penutup.

Kalau marah, lebih panjang lagi.

Pagi itu cuma ada satu pesan.

Pulang. Kita bicara.

Adrian membaca sambil duduk di depan laptop.

Tidak membalas.

Lima menit kemudian masuk lagi.

Papa tunggu.

Tetap tidak dibalas.

Adrian membuka file desain.

Logo sebuah toko roti.

Ia menggeser huruf.

Membesarkan ikon.

Mengecilkan lagi.

Tidak ada yang terlihat benar.

Ponsel berbunyi.

Bukan ayahnya.

Nomor tak dikenal.

Bener lo yang di video itu?

Adrian blok.

Nomor lain.

Anjir, jadi selama ini bener?

Blok.

Instagram.

Pesan baru.

Gay ya?

Blok.

Komentar.

Pantes.

Adrian berhenti.

Pantes apa?

Ia hampir membalas.

Tidak jadi.

Komentar itu dihapus.

Lalu muncul satu lagi dari akun berbeda.

Kasihan keluarganya.

Adrian menatap lebih lama.

Yang satu ini aneh.

Bukan hinaan paling kasar.

Justru karena terdengar seperti iba.

Seolah hidup Adrian adalah kecelakaan yang harus ditanggung orang lain.

Ia menutup aplikasi.

Laptop masih terbuka.

Logo roti masih sama.

Adrian bersandar.

Dari luar kamar terdengar suara Komang.

“Bang!”

Adrian tidak menjawab.

“Bang Adrian!”

“Apa?”

“Kopi?”

“Enggak.”

“Gratis.”

Adrian membuka pintu.

Komang berdiri membawa dua gelas plastik.

“Dari mana gratis?”

“Bu Nur salah bikin.”

Dari warung terdengar suara Bu Nur,

“SAYA NGGAK SALAH BIKIN!”

Komang menoleh.

“Diskon.”

Bu Nur menjawab,

“BAYAR!”

Adrian tertawa kecil.

Komang menyerahkan kopi.

“Ambil.”

Adrian menerima.

“Berapa?”

“Udah gue bayar.”

“Kenapa?”

Komang mengangkat bahu.

“Muka lo butuh kafein.”

Adrian menatapnya.

“Segitu kelihatan?”

“Lumayan.”

Adrian duduk di depan kamar.

Komang ikut.

Tidak bertanya.

Itu salah satu hal yang Adrian suka dari Komang.

Lelaki itu bisa kepo luar biasa soal hal tidak penting, tapi kadang tahu kapan harus diam.

Mereka minum.

Setelah beberapa menit, Komang berkata,

“Bali kalah.”

Adrian menoleh.

“Apaan?”

“Semalam.”

“Bali lawan siapa?”

Komang melihat.

“Lo nggak nonton bola?”

“Kerja.”

“Manusia macam apa?”

Adrian tertawa.

“Nah, akhirnya ada yang ngehina gue karena alasan normal.”

Komang berhenti.

Menoleh.

Adrian masih tersenyum, tapi tidak lebar.

Komang mengangguk pelan.

“Internet?”

“Hm.”

“Parah?”

“Biasa.”

Komang mengerutkan dahi.

“Biasa itu parah berarti.”

Adrian minum.

“Banyak yang tiba-tiba kenal gue.”

“Efek viral.”

“Banyak yang tiba-tiba peduli keluarga gue.”

Komang mengangguk.

“Padahal bayar kontrakan nggak bantu.”

Adrian tertawa kecil.

Komang menatap halaman.

“Kalau capek baca, jangan baca.”

Adrian langsung berkata,

“Bu Martha juga bilang gitu.”

“Wah.”

Komang berdiri.

“Berarti saya resmi tua.”

Adrian tertawa lagi.

Sedikit lebih lepas.

Siang hari, Yohanes menelepon.

Adrian melihat nama ayahnya sampai dering hampir berhenti.

Akhirnya diangkat.

“Halo.”

Suara ayahnya terdengar datar.

“Di mana?”

“Kontrakan.”

“Papa tahu.”

Adrian diam.

“Bisa pulang hari ini?”

“Buat apa?”

“Kita bicara.”

“Bisa lewat telepon.”

“Adrian.”

Nada itu.

Nada ketika ayahnya masih menganggap namanya sendiri cukup jadi argumen.

Adrian menghela napas.

“Aku kerja.”

“Jam berapa selesai?”

“Nggak pasti.”

“Papa datang.”

Adrian langsung duduk tegak.

“Jangan.”

Hening.

“Kenapa?”

“Jangan datang ke sini.”

“Papa ayahmu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Adrian menutup mata.

“Aku nggak mau tetangga jadi penonton lagi.”

Yohanes diam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Kalau begitu kamu pulang.”

Adrian memandang halaman.

Bu Martha sedang melipat kain.

Lala menggambar.

Sari menjahit.

Raka memperbaiki kunci pagar.

Tempat sempit.

Berisik.

Tidak sempurna.

Tapi untuk beberapa bulan terakhir, itulah satu-satunya tempat yang tidak membuat Adrian merasa harus menjelaskan dirinya setiap kali masuk pintu.

“Aku belum bisa.”

Suara Yohanes berubah.

“Belum bisa atau tidak mau?”

Adrian menjawab jujur.

“Dua-duanya.”

Hening lagi.

Lalu ayahnya berkata,

“Papa tunggu sampai malam.”

Telepon ditutup.

Adrian menatap layar.

Komang yang lewat membawa helm melihat.

“Bokap?”

Adrian mengangguk.

“Marah?”

“Kayaknya.”

Komang berhenti.

“Lo pulang?”

Adrian melihat pintu kamarnya.

“Entah.”

Komang mengangguk.

“Oke.”

Lalu pergi.

Tidak memberi saran.

Adrian bersyukur.

Pukul empat sore, Adrian akhirnya memesan ojol.

Bukan karena takut pada ayahnya.

Setidaknya ia ingin percaya begitu.

Ia cuma tidak ingin percakapan itu pindah ke kontrakan.

Raka melihat ia keluar dengan kemeja.

“Mau kondangan?”

Adrian menatap dirinya.

“Kemeja doang.”

“Jarang.”

“Ke rumah.”

Raka berhenti.

“Oh.”

Adrian mengangguk.

Raka tahu sedikit soal ayah Adrian.

Tidak banyak.

Cuma cukup untuk tahu rumah bukan tempat yang sederhana.

“Mau dijemput?”

Adrian tertawa.

“Umur gue dua puluh tiga.”

“Gue cuma nanya.”

Adrian mengangguk.

“Enggak.”

Raka menatapnya.

“Kalau mau kabur, chat.”

Adrian tertawa kecil.

“Kenapa semua orang di sini punya sistem evakuasi?”

Raka mengangkat bahu.

“Pengalaman.”

Adrian berjalan keluar.

Bu Martha dari belakang memanggil.

“Adrian.”

Ia menoleh.

“Ya, Bu?”

“Pulang jangan terlalu malam.”

Adrian tersenyum.

“Siap.”

Lalu Bu Martha menambahkan,

“Dan jangan berdebat waktu perut kosong.”

Adrian mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Orang lapar lebih mudah merasa paling benar.”

Raka melihat Bu Martha.

“Bu, itu buat dia atau buat semua?”

“Semua.”

Adrian tersenyum.

“Makasih.”

Lihat selengkapnya