ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #18

PINTU 18: TARGET


Reza menulis angka besar di papan putih.

78%

Lalu melingkarinya dua kali.

“Ini minimum.”

Tidak ada yang bicara.

Pukul delapan pagi, ruang kantor lapangan sudah terasa terlalu panas meskipun AC menyala.

Delapan orang duduk menghadap Reza.

Dimas paling belakang.

Kopi di tangannya belum disentuh.

Reza mengetuk papan dengan spidol.

“Bulan lalu tim kita enam puluh sembilan.”

Seseorang di sebelah Dimas berbisik,

“Cantik angkanya.”

Dimas tidak tertawa.

Reza mendengar.

“Kalau mau bercanda, nanti pas insentif cair.”

Ruangan diam lagi.

“Bulan ini pusat minta tujuh puluh delapan.”

Seorang collector bernama Arif mengangkat tangan.

“Mas.”

“Hm?”

“Naik sembilan persen?”

“Iya.”

“Portofolionya sama?”

“Hampir.”

Arif menghela napas.

“Ya mati.”

Reza menatap.

“Kalau mau mati jangan di jam kerja.”

Ada beberapa tawa kecil.

Tipis.

Cepat hilang.

Reza memindah slide.

Nama-nama collector muncul.

Di samping nama Dimas:

61%

Dimas melihat.

Tidak kaget.

Tetap tidak enak.

Reza menunjuk.

“Dimas.”

“Hm.”

“Lo paling jauh.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Udah dibahas.”

“Gue mau dengar lagi.”

Dimas menyandarkan tubuh.

“Beberapa akun gagal bayar.”

“Semua orang punya akun gagal bayar.”

“Area gue juga banyak yang pindah.”

“Cari.”

“Nomor nggak aktif.”

“Cari.”

“Alamat kosong.”

“Cari.”

Dimas menatap Reza.

“Kalau udah hilang satu keluarga sekalian gue panggil dukun?”

Arif menunduk, menahan tawa.

Reza tidak.

“Lo mau lucu?”

“Enggak.”

“Bagus.”

Reza meletakkan spidol.

“Karena ini serius.”

Dimas diam.

Reza menunjuk angka lagi.

“Lo tahu konsekuensinya.”

Dimas mengangguk.

Insentif.

Ia tahu.

Reza melanjutkan,

“Kalau minggu ini nggak naik, bukan cuma insentif yang dievaluasi.”

Dimas langsung menatap.

“Apa?”

“Penempatan.”

“Wilayah?”

“Bisa.”

“Terus?”

Reza tidak menjawab langsung.

Dimas paham.

Kontrak juga bisa.

Tidak perlu dikatakan.

Reza berkata,

“Gue nggak ancam.”

Dimas tertawa pendek.

“Kalimat sebelum ancaman biasanya begitu.”

Reza menatap.

“Dim.”

Dimas menunduk sedikit.

“Ya.”

“Gue kasih lo akun prioritas hari ini.”

Reza mencetak beberapa lembar.

Menyerahkan.

“Jangan pulang dengan nol.”

Dimas menerima.

Lima akun.

Semua merah.

Tunggakan tinggi.

Janji bayar gagal.

Satu di antaranya sudah empat kali dikunjungi.

Dimas membaca nama.

MELATI RAHAYU

Reza menunjuk.

“Yang ini fokus.”

“Kenapa?”

“Sudah lebih dari dua bulan.”

“Jaminan?”

“Motor.”

Dimas mengangguk.

“Unitnya masih ada?”

“Masih.”

“Dipakai?”

“Katanya.”

Reza menatap.

“Kalau ada, dorong.”

Dimas tahu arti dorong.

Bukan ambil paksa.

Secara aturan tidak bisa sembarangan.

Tapi tekanan kata-kata.

Peringatan.

Buat debitur merasa hari itu adalah ujung.

Dimas melipat kertas.

“Minimal?”

Reza menyebut angka.

“Delapan ratus.”

Dimas mengangkat alis.

“Tunggakan totalnya berapa?”

Reza menunjuk.

“Lihat.”

Dimas melihat.

Hampir empat juta.

“Dia pernah bayar terakhir dua ratus.”

“Nah.”

“Dari mana lo yakin ada delapan ratus?”

Reza bersandar.

“Gue nggak yakin.”

Dimas menatap.

“Terus?”

“Cari tahu seberapa jauh dia mau berusaha.”

Dimas tidak suka kalimat itu.

Tapi memasukkan kertas ke tas.

Akun pertama bayar tiga ratus ribu.

Akun kedua tidak ada orang.

Akun ketiga mematikan lampu ketika Dimas datang, padahal motor masih panas di teras.

Dimas mengetuk.

Tidak dibuka.

Ia menunggu sepuluh menit.

Pergi.

Akun keempat berakhir dengan debat.

“Mas, saya udah bilang tanggal dua puluh!”

“Sekarang tanggal dua belas.”

“Ya makanya.”

“Pak, janji sebelumnya tanggal delapan.”

“Belum ada duit.”

“Kenapa janji?”

“Biar kalian nggak telepon terus.”

Dimas menatap laki-laki itu.

Jujur sekali sampai menyebalkan.

“Pak.”

“Hm?”

“Kalau bapak bohong biar saya berhenti telepon, hasilnya saya datang.”

Laki-laki itu diam.

Dimas menerima seratus lima puluh ribu.

Tidak bagus.

Tapi masuk.

Jam menunjukkan pukul dua lewat.

Tinggal satu nama.

Melati Rahayu.

Dimas membuka alamat.

Daerah padat di belakang terminal.

Ia menyalakan motor.

Rumah Melati ada di ujung jalan sempit.

Bukan rumah sendiri.

Kontrakan dua pintu.

Satu lantai.

Cat biru pucat.

Motor tua terparkir di depan.

Nomor plat sesuai data.

Dimas berhenti.

Mematikan mesin.

Sebelum mengetuk, ia melihat jam.

Pukul 14.38.

Ponsel berbunyi.

Adiknya.

Mas, rumah sakit minta deposit tambahan buat pemeriksaan Bapak besok.

Dimas membaca.

Jumlah di bawahnya.

Ia langsung membuka rekening.

Kurang.

Jauh.

Dimas mengetik:

Berapa paling telat?

Balasan:

Katanya besok pagi sebelum tindakan.

Dimas menutup mata.

Ponsel berdering.

Reza.

“Ya.”

“Progress?”

Dimas menyebut angka.

Reza langsung berkata,

“Kurang.”

“Gue tahu.”

“Melati udah?”

“Baru sampai.”

“Bagus.”

Dimas melihat motor di teras.

“Unit ada.”

“Nah.”

“Jangan ‘nah’ dulu.”

“Dim.”

“Hm.”

“Ini akun lo yang paling mungkin nutup gap hari ini.”

Dimas diam.

“Gue butuh minimal delapan ratus.”

“Dia terakhir cuma dua ratus.”

“Makanya cari.”

“Kalau enggak?”

Reza menjawab tanpa jeda,

“Jangan cepat percaya enggak.”

Telepon mati.

Dimas menatap pintu.

Lalu mengetuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Bu Melati?”

Dari dalam terdengar suara benda jatuh.

Lalu langkah.

Pintu terbuka sedikit.

Seorang perempuan sekitar pertengahan tiga puluhan muncul.

Kaos longgar.

Rambut diikat.

Wajah lelah.

“Iya?”

Dimas menunjukkan identitas.

Wajah Melati langsung turun.

“Oh.”

“Bu Melati?”

“Iya.”

“Saya Dimas dari pembiayaan.”

Melati melihat ke dalam sebentar.

Lalu keluar dan menutup pintu di belakangnya.

“Mas, saya udah bilang lewat telepon.”

“Iya.”

“Saya belum ada.”

Dimas membuka data.

“Terakhir Ibu janji kemarin.”

“Saya tahu.”

“Tidak ada pembayaran.”

Melati menghela napas.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Saya belum pegang uang.”

Dimas menatap motor.

“Motornya masih dipakai?”

Melati langsung melihat arah pandangnya.

“Iya.”

“Siapa yang pakai?”

“Saya.”

“Kerja?”

“Antar laundry.”

“Punya usaha?”

“Bantu orang.”

Dimas mengangguk.

“Kalau motornya masih dipakai berarti masih ada penghasilan.”

Melati menatapnya.

“Buat makan.”

Dimas sudah sering dengar.

Bukan berarti bohong.

Tapi kalimat itu tidak membuat angka bergerak.

“Bu, tunggakan hampir empat juta.”

“Saya tahu.”

“Dua bulan lebih.”

“Iya.”

“Dan Ibu sudah beberapa kali janji.”

Melati mengusap lengan.

“Saya bayar kalau ada.”

“Berapa yang ada sekarang?”

“Enggak ada.”

Dimas menatap.

“Seratus?”

Melati menggeleng.

“Lima puluh?”

“Mas.”

“Berapa?”

Melati mulai kesal.

“Saya bilang nggak ada.”

Dimas menarik napas.

Kalimat Reza masuk kepala.

Jangan cepat percaya enggak.

“Bu, kalau memang nggak ada, saya butuh lihat komitmennya.”

Melati tertawa hambar.

“Komitmen mau diapain?”

Lihat selengkapnya