Kamar dua kosong pada hari Senin.
Penghuninya, pasangan muda yang punya bayi, pindah kembali ke rumah orang tua si perempuan.
Tidak ada ribut.
Tidak ada masalah.
Mereka cuma menyerah pada matematika.
Sewa.
Susu.
Popok.
Ongkos kerja.
Listrik.
Makan.
Kalau semuanya dijumlah, tinggal bersama orang tua ternyata lebih murah daripada mempertahankan gengsi.
Raka membantu mengangkat kardus terakhir.
Bayi mereka tidur di gendongan, sama sekali tidak peduli bahwa hidup orang tuanya baru pindah alamat.
“Maaf mendadak, Ka,” kata si suami.
“Gapapa.”
“Nanti kalau udah agak enak, mungkin balik.”
Raka mengangguk.
“Yang penting jangan ninggalin utang.”
Laki-laki itu tertawa.
“Lunas.”
“Berarti kita masih saudara.”
Setelah motor mereka pergi, Raka berdiri di depan kamar dua.
Kosong lagi.
Ia sudah mulai terbiasa.
Kontrakan memang begitu.
Penuh tidak pernah berarti selesai.
Ponselnya baru mau dikeluarkan untuk memasang iklan ketika Bu Nur berkata dari warung,
“Jangan dipasang dulu.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Ada orang mau lihat.”
“Siapa?”
“Kenalan Bu Lilis.”
Raka langsung memasang wajah curiga.
“Kalau rekomendasi Bu Lilis biasanya paket sama riwayat hidup.”
“Orangnya lagi susah.”
“Semua yang ke sini lagi susah.”
Bu Nur diam sebentar.
“Makanya cocok.”
Raka tidak bisa membantah.
Namanya Beni Saputra.
Umur empat puluh dua.
Datang sore dengan satu ransel, satu tas pakaian, dan wajah orang yang kelihatannya sudah lama kurang tidur.
Tubuhnya masih tegap.
Rambut pendek.
Kemeja kotak-kotak yang dimasukkan rapi ke celana.
Kalau Raka tidak tahu apa-apa, ia mungkin mengira Beni baru pulang kerja.
Padahal Beni sudah delapan bulan tidak punya pekerjaan tetap.
“Dulu pabrik,” katanya.
“Bagian?”
“Produksi.”
“Operator?”
Beni tersenyum tipis.
“Terakhir leader.”
“Berapa lama?”
“Dua puluh tahun kurang sedikit.”
Raka mengangkat alis.
“Lama.”
“Iya.”
“PHK?”
Beni mengangguk.
“Efisiensi.”
Kata itu keluar tanpa emosi.
Mungkin karena sudah terlalu sering diulang.
Raka membuka kamar dua.
“Segini.”
Beni masuk.
Melihat.
Tidak banyak tanya.
“Kamar mandi?”
“Dalam.”
“Air?”
“Termasuk.”
“Listrik token.”
“Iya.”
“Delapan ratus?”
“Iya.”
Beni mengangguk.
“Ambil.”
Raka menatap.
“Nggak mau lihat tempat lain?”
Beni tersenyum hambar.
“Saya justru lagi butuh tempat yang cepat.”
Raka menangkap sesuatu.
Tapi tidak langsung tanya.
“Sendiri?”
Beni mengangguk.
“Istri sama anak?”
Beni berhenti.
“Di rumah.”
Raka tidak lanjut.
Beni mengeluarkan uang.
Tidak penuh.
“Kalau deposit saya cicil?”
Raka melihat.
Biasanya ia akan bilang tidak.
Kemudian teringat Komang.
Sari.
Dan hampir seluruh penghuni kontrakan yang datang membawa versi berbeda dari kalimat yang sama:
Gue butuh waktu.
“Bisa.”
Beni langsung melihat.
“Serius?”
“Setengah sekarang.”
Beni mengangguk cepat.
“Bisa.”
“Bulan depan lunas.”
“Iya.”
Raka memberikan formulir.
Di kolom status tertulis:
MENIKAH
Nomor darurat:
ERNA — ISTRI
Raka membaca.
Tidak komentar.
Beni tanda tangan.
“Bisa masuk malam ini?”
Raka mengangguk.
“Barang lo kan udah dibawa.”
Beni melihat dua tasnya.
Lalu tertawa kecil.
“Kelihatan ya.”
“Lumayan.”
Tiga hari pertama, Beni nyaris tidak menimbulkan masalah.
Bangun pagi.
Menyapu depan kamar.
Membantu Bu Nur mengangkat beras tanpa diminta.
Kadang ikut Hamdan ke bengkel cuma buat duduk dan melihat orang bongkar kipas.
Suaranya tidak besar.
Kalau ngobrol pakai “saya” dengan orang tua, “gue–lu” dengan Raka dan Dimas.
Komang langsung cocok.
Mereka pernah sama-sama kerja pabrik, meski beda masa dan tempat.
“Leader, Bang?” tanya Komang.
Beni mengangguk.
“Pasti dulu galak.”
“Gue?”
“Iya.”
Beni tertawa.
“Anak-anak dulu manggil gue satpam line.”
“Kenapa?”
“Karena kalau ada yang hilang lima menit gue cari.”
Komang mengangguk.
“Berarti galak.”
“Sekarang malah gue yang hilang dari pabrik.”
Ia tertawa sendiri.
Komang ikut.
Tapi tidak lama.
Ada jenis lelucon yang setelah ditertawakan justru membuat orang terdiam.
Itu salah satunya.
Beni bilang kepada semua orang ia sedang cari kerja.
Memang benar.
Setiap pagi ada beberapa lamaran dikirim.
Supervisor produksi.
Leader warehouse.
QC.
Operator senior.
Apa pun yang masih menerima umur empat puluh dua.
Masalahnya, dunia kerja kelihatannya lebih suka pengalaman dua puluh tahun kalau usia pemilik pengalaman itu tetap dua puluh lima.
Raka melihat Beni berkali-kali membuka situs lowongan.
Mengisi formulir.
Upload CV.
Klik kirim.
Tunggu.
Tidak ada jawaban.
Kadang ada.
Posisi telah terisi.
Kami melanjutkan dengan kandidat lain.
Usia maksimal 35 tahun.
Suatu sore Raka duduk di sebelahnya.
“Dapat?”
Beni menggeleng.
“Lo?”
Raka menggeleng juga.
Mereka tertawa kecil.
Dua pengangguran beda generasi.
Sama-sama melihat layar.
Beni berkata,
“Dulu gue yang interview anak baru.”
“Hm.”
“Sekarang dipanggil aja enggak.”
Raka tidak tahu harus jawab apa.
Beni menyandarkan punggung.
“Lucu.”
“Apanya?”
“Dua puluh tahun tiap hari gue bangun jam lima.”
“Hm.”
“Begitu nggak kerja, jam lima badan tetap bangun.”
Raka menatap.
“Bagus dong.”
“Terus mau ngapain?”
Raka diam.
Beni tersenyum.
“Nah.”
Yang tidak diketahui penghuni lain adalah Beni punya kebiasaan lain setelah semua orang tidur.
Ponsel.
Lampu kamar dimatikan.
Volume dikecilkan.
Layar menyala.
Angka bergerak.
Warna.
Animasi.
Saldo.
Putaran.
Beni tidak menyebutnya judi.
Setidaknya tidak di kepalanya.
Ia menyebutnya main.
Awalnya begitu.
Seratus ribu.
Menang tiga ratus.
Tarik.
Besok masuk lagi.
Dapat delapan ratus.
Pernah satu malam menang dua juta lebih.
Hari itu ia pulang ke rumah membawa ayam goreng.
Membayar listrik.
Memberi Aldi uang dua ratus ribu.
Erna bertanya dapat dari mana.
Beni bilang ada teman bayar utang.
Kemenangan pertama selalu terasa seperti bukti bahwa seseorang punya cara.
Bukan keberuntungan.
Cara.
Beni mulai menghitung pola.
Jam.
Nominal.
Putaran.
Kapan berhenti.
Kapan tambah.
Lalu kalah.
Sedikit.
Main lagi supaya balik.
Kalah lebih banyak.
Tambah lagi karena tidak mungkin berhenti saat posisi rugi.
Sesekali menang.
Cukup untuk membuat semuanya masuk akal lagi.
Sampai yang dikejar bukan kemenangan.
Cuma uang yang sudah hilang.
Kamis malam, Dimas pulang pukul sepuluh.
Ia melihat Beni duduk di ujung halaman.
Ponsel di tangan.
Wajah serius.
“Belum tidur?”
Beni kaget.
Layar cepat dimatikan.
“Belum.”
Dimas berhenti.
“Main?”
Beni menatap.
Dimas menunjuk ponsel.
Beni tertawa kecil.
“Game.”
Dimas tidak bertanya.
“Tidur jangan malam-malam.”
“Lo sendiri baru pulang.”
“Makanya gue tahu capeknya.”
Dimas masuk kamar.
Beni membuka layar lagi.
Saldo tinggal seratus delapan puluh ribu.
Tadi satu juta dua ratus.
Ia menatap.
Panas naik ke kepala.
Tidak mungkin berhenti di angka itu.
Kalau berhenti, berarti rugi.
Kalau lanjut, masih mungkin balik.
Beni deposit lagi.
Lima ratus.
Erna datang keesokan harinya.
Pukul tiga sore.
Raka sedang mengecat bekas rembes kamar kosong lama ketika perempuan itu masuk pagar.
Usianya akhir tiga puluhan.
Kulit agak gelap karena sering terkena panas.
Rambut diikat.
Memakai kaus lengan panjang dan celana kain.
Wajah lelah.
Bukan lelah hari itu.
Lelah beberapa bulan.
“Mas.”
Raka menoleh.
“Iya?”
“Beni ada?”
Raka melihat kamar dua.
“Kayaknya.”
Perempuan itu mengangguk.
“Saya Erna.”
Raka langsung tahu.
“Oh.”
“Istrinya.”
“Iya.”
Erna sedikit mengernyit.
“Mas tahu?”
“Nomor darurat.”
“Oh.”
Ia berjalan ke kamar dua.
Mengetuk.
Tok.
Tok.
“Ben.”
Tidak ada jawaban.
Tok.
Tok.
“Beni.”
Pintu terbuka.
Wajah Beni berubah ketika melihat istrinya.
“Ngapain ke sini?”
Raka langsung merasa sebaiknya pergi.
Ia mengambil kuas.
Mundur.
Tapi kontrakan tipis.
Suara punya jalan sendiri.
Erna masuk ke kamar.
Pintu tidak ditutup penuh.
“Aku telepon nggak diangkat.”
“HP silent.”