ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #20

PINTU 20: SURAT

Surat itu datang hari Rabu, pukul sebelas lewat sembilan menit.

Tidak hujan.

Tidak ada debt collector.

Tidak ada orang berteriak di depan pagar.

Cuma kurir.

“Pak Hamdan?”

Raka yang sedang memperbaiki dudukan talang menoleh dari atas tangga.

“Bapak gue.”

“Bisa diterima keluarga?”

“Bisa.”

Kurir menyerahkan amplop cokelat.

Ada nama perusahaan pembiayaan di pojok kiri atas.

Raka langsung turun.

Gerakannya terlalu cepat sampai tangga sedikit bergeser.

Bu Nur yang sedang menggoreng bakwan menoleh.

“Hati-hati!”

Raka tidak menjawab.

Ia menerima amplop.

Tanda tangan.

Kurir pergi.

Sesederhana itu.

Satu tanda tangan.

Satu amplop.

Satu motor menjauh dari gang.

Raka berdiri di depan pagar sambil melihat benda di tangannya.

Tidak berat.

Mungkin cuma beberapa lembar.

Tapi tangannya terasa seperti sedang memegang batu bata.

Bu Nur tahu dari wajahnya.

“Dari sana?”

Raka mengangguk.

“Buka.”

“Bapak mana?”

“Bengkel.”

Raka melihat amplop.

Nama Hamdan tertulis jelas.

Di bawahnya alamat kontrakan.

“Gue telepon.”

Hamdan mengangkat setelah dering ketiga.

“Yah.”

“Hm?”

“Ada surat.”

Hamdan diam.

“Dari pembiayaan.”

Diam lagi.

“Buka aja,” kata Hamdan.

Raka mengerutkan dahi.

“Bener?”

“Iya.”

“Ini atas nama Ayah.”

“Buka.”

Raka masuk ke unit depan.

Bu Nur mengecilkan api kompor.

Naya belum pulang dari kampus.

Tidak ada siapa-siapa selain mereka.

Raka menyobek sisi amplop.

Mengeluarkan tiga lembar kertas.

Bahasa kantor.

Nomor.

Pasal.

Tanggal.

Peringatan.

Raka membaca cepat.

Lalu ulang lebih lambat.

Bu Nur berdiri di depannya.

“Gimana?”

Raka tidak jawab.

“Ka.”

Raka menyerahkan.

Bu Nur membaca.

Tidak semua istilah ia mengerti.

Tapi beberapa kata cukup.

Tunggakan.

Jaminan.

Penyelesaian kewajiban.

Batas waktu.

Tindakan lebih lanjut.

Dan satu bagian yang digaris tebal:

14 hari kalender.

Bu Nur duduk.

“Empat belas hari?”

Raka mengangguk.

“Terus kalau nggak?”

Raka mengambil kertas lagi.

Membaca bagian bawah.

“Masuk proses lanjutan.”

“Proses apa?”

Raka diam.

Ia tahu.

Tidak mau mengucapkan.

Bu Nur melihat.

“Rumah?”

Raka mengangguk.

“Bisa.”

Kata itu kecil.

Tapi setelah keluar, ruangan terasa berubah ukuran.

Hamdan pulang satu jam kemudian.

Tidak langsung masuk.

Ia berdiri di depan warung, melepas sandal, menaruh tas perkakas seperti hari biasa.

Raka menunggu di meja makan.

Surat ada di atas meja.

Hamdan masuk.

Melihat.

Duduk.

Tidak banyak ekspresi.

Raka sudah muak dengan ketenangan ayahnya.

“Baca.”

Hamdan mengambil.

“Udah pernah lihat formatnya.”

Raka menatap.

“Maksudnya?”

Hamdan membaca sekilas.

“Mereka pernah bilang bakal kirim.”

“Kenapa nggak bilang?”

Hamdan menurunkan kertas.

“Belum pasti.”

“Nah, sekarang pasti.”

Bu Nur dari dapur berkata,

“Jangan mulai.”

Raka mengusap wajah.

“Gue bukan mau ribut.”

Hamdan mengangguk.

“Ya.”

“Empat belas hari, Yah.”

“Iya.”

“Uangnya dari mana?”

Hamdan diam.

Raka membuka catatan di ponsel.

“Kontrakan masuk semua aja belum cukup.”

“Hm.”

“Bengkel?”

Hamdan tidak menjawab.

“Warung?”

Bu Nur menoleh.

Raka langsung berkata,

“Gue nggak nyalahin.”

Bu Nur kembali diam.

Raka menghitung.

Tabungan kecil.

Sewa.

Uang warung.

Sedikit hasil bengkel.

Uang yang ia dapat dari beberapa pekerjaan bongkar-muat harian.

Jauh.

Masih jauh.

“Kalau kita bayar sebagian?”

Hamdan berkata,

“Bisa negosiasi.”

“Berapa yang bikin mereka tahan?”

“Belum tahu.”

“Telepon.”

Hamdan melihat.

“Sudah.”

“Kapan?”

“Tadi.”

“Terus?”

“Mereka minta datang besok.”

Raka berdiri.

“Gue ikut.”

Hamdan mengangguk.

Kali ini tidak melarang.

Itu justru membuat Raka semakin takut.

Berita tidak langsung menyebar ke penghuni.

Setidaknya niat awal Raka begitu.

Tapi kontrakan punya satu masalah besar:

tembok.

Terlalu tipis.

Naya pulang jam empat.

Ia langsung tahu.

Kemudian Dimas melihat wajah Raka.

Komang mendengar kata “empat belas hari”.

Maya keluar kamar tepat saat Bu Nur bilang “sertifikat”.

Adrian lewat membawa air.

Bu Martha tidak sengaja mendengar semuanya karena memang hampir mustahil tidak dengar.

Malam itu, semua orang tahu ada surat baru.

Tidak ada yang tahu detail lengkap.

Tapi cukup untuk mengubah suasana.

Dimas duduk di dekat Raka.

“Surat peringatan?”

Raka mengangguk.

“Tahap?”

“Gue nggak tahu.”

“Boleh lihat?”

Raka langsung menatap.

Dimas mengangkat tangan.

“Bukan kerja.”

Raka diam beberapa detik.

Lalu menyerahkan.

Dimas membaca.

Lama.

Raka menunggu.

“Gimana?”

Dimas menghela napas.

“Serius.”

“Gue juga bisa baca kata-kata itu.”

“Belum berarti besok disita.”

“Hm.”

“Tapi jangan didiemin.”

“Besok gue ke kantor.”

“Bagus.”

Raka melihat.

“Kalau mereka nggak kasih restruktur?”

Dimas menyerahkan kembali surat.

“Cari opsi lain.”

“Kayak?”

Dimas tidak langsung jawab.

Raka tersenyum hambar.

“Nah.”

Komang yang duduk tidak jauh ikut bicara.

“Kalau jual motor gue, paling nutup baut pagar.”

Raka menoleh.

“Siapa minta?”

Komang mengangkat bahu.

“Bercanda.”

Maya keluar sambil membawa gelas.

“Kalau gue kerja tujuh hari non-stop…”

Raka langsung memotong.

“Jangan.”

Maya berhenti.

“Gue juga bercanda.”

Bu Martha keluar.

“Semua jangan mulai menjual barang masing-masing.”

Komang langsung berkata,

“Bu Martha bisa jual tata bahasa.”

Bu Martha menatap.

“Kalau laku, kamu pembeli pertama.”

Komang tertawa.

Sedikit.

Tidak lama.

Semua tahu malam itu bukan malam untuk terlalu banyak bercanda.

Besoknya Raka ikut Hamdan ke kantor pembiayaan.

Ruko.

AC dingin.

Kursi plastik.

Televisi menayangkan acara pagi tanpa suara.

Seorang petugas bernama Fikri memanggil mereka.

“Pak Hamdan?”

Hamdan berdiri.

Raka ikut.

Mereka masuk ke ruang kecil.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada meja dipukul.

Tidak ada orang kasar.

Itu membuat semuanya terasa lebih nyata.

Fikri membuka data.

“Bapak sebelumnya sudah masuk pembahasan restruktur.”

Hamdan mengangguk.

“Tapi pembayaran terakhir tidak sesuai skema.”

“Iya.”

“Sekarang tunggakan sudah melewati batas internal.”

Raka langsung bertanya,

“Kalau bayar sebagian?”

Fikri melihat.

“Mas siapa?”

“Anaknya.”

“Oh.”

Fikri mengangguk.

“Bisa jadi bagian dari itikad baik, tapi kami nggak bisa janji proses berhenti hanya dengan pembayaran kecil.”

“Minimal berapa?”

Lihat selengkapnya