ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #21

PINTU 21: MEJA

Tidak Ada yang Punya
Banyak


Pagi setelah Raka bilang kalian cuma ngontrak, meja makan kosong.

Bukan benar-benar kosong.

Ada nasi.

Telur dadar.

Sambal.

Teh panas.

Bu Nur tetap masak.

Yang kosong adalah kursinya.

Biasanya Komang sudah muncul tanpa diundang kalau mencium telur.

Maya kadang pulang kerja lalu ikut makan meskipun menyebutnya “sarapan sebelum tidur”.

Adrian sering numpang kopi sambil mengeluh internet.

Lala suka duduk paling ujung karena kakinya bisa diayun-ayun.

Pagi itu tidak ada.

Cuma keluarga Raka.

Hamdan makan pelan.

Bu Nur merapikan lauk.

Naya melihat ponsel.

Raka mengunyah tanpa rasa.

Suara penghuni tetap terdengar dari luar.

Pintu dibuka.

Motor dipanaskan.

Ember digeser.

Orang batuk.

Ada kehidupan.

Tapi tidak ada yang masuk.

Raka akhirnya meletakkan sendok.

“Pada ngambek?”

Naya langsung menjawab,

“Menurut lo?”

Bu Nur menatap.

“Naya.”

“Apa? Dia nanya.”

Raka mengusap muka.

“Gue udah minta maaf ke Bu Martha.”

“Ke Bu Martha.”

“Iya.”

“Yang lain?”

Raka diam.

Naya mengangguk.

“Nah.”

Hamdan tetap makan.

Raka melihat ayahnya.

“Ayah juga mau ikutan?”

Hamdan menelan.

“Apaan?”

“Diem.”

“Ayah lagi makan.”

Raka mendengus.

Bu Nur menaruh sendok sayur.

“Kamu pikir orang datang ke meja ini tiap hari karena nggak punya meja sendiri?”

Raka menatap.

Bu Nur melanjutkan,

“Semua punya kamar.”

“Hm.”

“Punya piring.”

“Hm.”

“Punya makanan juga kadang.”

Naya menahan tawa.

Bu Nur menatap anaknya.

“Kadang.”

Kemudian kembali ke Raka.

“Mereka datang karena merasa boleh.”

Raka terdiam.

“Semalam kamu bikin mereka merasa mungkin sebenarnya nggak boleh.”

Kalimat itu lebih menusuk daripada kalau Bu Nur marah.

Raka melihat kursi-kursi kosong.

“Gue minta maaf hari ini.”

Hamdan akhirnya bicara.

“Jangan pakai pidato.”

Raka melihat.

“Gue emang kapan pidato?”

Naya dan Bu Nur menatap bersamaan.

Raka mengangguk.

“Oke.”

Ia mulai dari Dimas.

Kamar enam.

Tok.

Tok.

Pintu dibuka.

Dimas masih pakai kaus dan celana pendek.

Rambut berantakan.

“Apa?”

“Gue mau minta maaf.”

Dimas menatap.

“Jam tujuh pagi?”

“Kenapa?”

“Biasanya orang bikin salah malam, minta maaf siang.”

Raka mendengus.

“Lo mau denger apa enggak?”

Dimas membuka pintu lebih lebar.

“Cepet.”

Raka menggaruk leher.

“Soal kemarin.”

“Hm.”

“Kalimat gue goblok.”

“Iya.”

Raka menatap.

“Lo bisa nggak sekali-sekali bikin prosesnya gampang?”

“Bisa.”

“Terus?”

“Enggak mau.”

Raka hampir tertawa.

Lalu serius lagi.

“Gue salah.”

Dimas mengangguk.

“Ya.”

“Gue nggak nganggep lo cuma penyewa.”

“Hm.”

“Semua juga.”

Dimas melihatnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Gue ngerti lo lagi takut.”

Raka langsung membuka mulut.

Dimas mengangkat tangan.

“Bukan pembelaan.”

Raka diam.

“Cuma ngerti.”

“Hm.”

Dimas melanjutkan,

“Tapi kalau panik lo selalu punya bakat ngomong yang bikin orang pengen nampol.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Dimas mau menutup pintu.

Raka menahan.

“Dim.”

“Hm?”

“Malam ini gue mau ngobrol soal rumah.”

Dimas mengangkat alis.

“Sebagai collector?”

“Sebagai penghuni.”

Dimas mengangguk.

“Ya.”

Pintu ditutup.

Raka tersenyum kecil.

Satu.

Adrian lebih gampang.

Begitu Raka bilang maaf, Adrian menjawab,

“Okay.”

Raka menunggu.

“Udah?”

Adrian mengangguk.

“Udah.”

“Lo nggak marah?”

“Marah.”

“Terus?”

“Gue ada deadline.”

Raka tertawa kecil.

“Fair.”

Adrian menatap laptop.

“Jam berapa ngobrolnya?”

“Malam.”

“Kalau lewat jam sepuluh gue charge overtime.”

“Ngomong sama penghuni sendiri sekarang bayar?”

“Katanya cuma ngontrak.”

Raka memejamkan mata.

Adrian tertawa.

“Bercanda.”

“Nyebelin.”

“Jam berapa?”

“Delapan.”

“Gue keluar.”

Komang justru membuatnya lebih susah.

“Gue nggak sakit hati.”

Raka menatap.

“Serius?”

“Iya.”

“Bagus.”

Komang melanjutkan,

“Cuma kecewa dikit.”

Raka menghela napas.

“Nah.”

Komang sedang membersihkan helm.

“Karena selama ini gue kira status gue keluarga miskin jauh dari kampung.”

Raka menatap.

“Apaan?”

Komang tertawa.

“Bercanda.”

Raka menunjuk.

“Lo sama Adrian hari ini kompak banget.”

Komang tersenyum.

Kemudian suaranya turun.

“Gue ngerti, Ka.”

“Hm.”

“Rumah ini punya keluarga lo.”

“Iya.”

“Kalau ilang, lo paling ribet.”

Raka tidak jawab.

“Tapi gue juga males pindah.”

Raka melihat.

“Kenapa?”

Komang menunjuk jemuran.

“Udah hafal posisi celana.”

Raka tertawa.

Komang ikut.

“Serius.”

“Hm?”

“Gue baru mulai ngerasa nggak numpang hidup di kota ini.”

Raka berhenti tertawa.

Komang memasang helm di motor.

“Jadi ya kalau rumahnya bisa dibantu dipertahanin, bilang.”

Raka langsung berkata,

“Gue nggak minta duit.”

Komang menatap.

“Tuh.”

“Apa?”

“Belum juga gue ngomong duit.”

Raka diam.

Komang menggeleng.

“Penyakit.”

Maya bangun jam sebelas.

Raka menunggu sampai ia keluar membeli kopi.

“May.”

Maya langsung mengangkat tangan.

“Kalau mau minta maaf, kopi gue dulu.”

“Kenapa?”

“Biar gue lebih baik sebagai manusia.”

Raka menunggu sampai Bu Nur menyerahkan kopi.

Maya minum.

“Nah.”

Raka berkata,

“Gue salah.”

Maya mengangguk.

“Iya.”

“Gue takut.”

“Iya.”

“Terus gue ngomong kayak tai.”

Bu Nur dari belakang berkata,

“Bahasa.”

Raka menoleh.

“Bu, konteks.”

Maya tertawa kecil.

Raka melanjutkan,

“Gue nggak nganggep kalian cuma penyewa.”

Maya memandang gelas.

Beberapa detik.

“Gue tahu.”

Raka sedikit lega.

Maya langsung menambahkan,

“Tapi kemarin gue sempat pengen pindah.”

Raka menegang.

“Serius?”

“Serius.”

“Kenapa?”

Maya menatap.

“Karena gue udah capek tinggal di tempat yang orangnya merasa boleh nilai gue.”

Raka diam.

“Terus di sini selama ini beda.”

Maya minum.

“Makanya waktu lo ngomong gitu, gue mikir ternyata sama aja.”

Raka mengangguk perlahan.

“Maaf.”

Maya melihatnya.

“Hm.”

“Malam ini ngobrol soal rumah?”

“Jam?”

“Delapan.”

Maya berpikir.

“Gue masuk kerja jam sepuluh.”

“Datang.”

“Kalau ada makanan.”

Bu Nur langsung menyahut,

“Ada.”

Maya menunjuk Bu Nur.

“Deal.”

Sari menerima permintaan maaf paling singkat.

“Gapapa, Mas.”

Raka langsung berkata,

“Jangan gapapa kalau sebenernya enggak.”

Sari menatap.

Lalu tersenyum kecil.

“Ya… sempat kesel.”

“Nah.”

“Tapi saya ngerti.”

Raka mengangguk.

“Saya juga kalau panik kadang ngomong aneh.”

Lala yang sedang menggambar langsung menyahut,

“Ibu kalau panik diem.”

Sari menoleh.

“Lala.”

“Apa?”

Raka tertawa.

Sari ikut.

Raka berkata,

“Malam ini ngobrol soal kontrakan.”

Sari mengangguk.

“Ya.”

Lala bertanya,

“Kontrakan mau pergi?”

Raka menatap.

“Kontrakannya nggak punya kaki.”

Lala mengerutkan dahi.

“Kalau dijual?”

Sari langsung melihat Raka.

Raka jongkok.

“Belum tentu.”

Lala diam.

“Kalau dijual, kita pindah?”

“Belum tentu juga.”

Lala memikirkan.

“Udin ikut?”

Raka bingung.

“Siapa?”

“Tanaman Om Adrian.”

“Oh.”

Sari menahan senyum.

Raka berkata,

“Harusnya.”

Lala lega.

Masalah rumah ternyata masih bisa ditakar lewat nasib tanaman.

Beni yang terakhir.

Beni sedang menulis lamaran kerja di ponsel.

Raka berdiri di depan kamar.

“Ben.”

“Hm?”

“Gue minta maaf soal kemarin.”

Beni melihat.

“Soal cuma ngontrak?”

“Iya.”

Beni mengangkat bahu.

“Gue emang ngontrak.”

Raka menghela napas.

“Jangan mulai.”

Beni tertawa kecil.

“Gue baru seminggu di sini.”

“Hm.”

“Tapi waktu gue ilang, kalian nyari.”

Raka diam.

“Jadi gue nggak terlalu mikirin kalimat lo.”

Beni kembali melihat ponsel.

Raka bertanya,

“Lamaran?”

“Iya.”

“Mana?”

“Warehouse.”

“Umur?”

“Ditulis maksimal empat puluh lima.”

Raka mengangguk.

“Masuk.”

“Belum tentu.”

“Lamar.”

Lihat selengkapnya