Berubah Tidak Bisa Ditagih
Bagas datang hari Minggu dengan rambut lebih pendek.
Lala yang pertama sadar.
“Papa potong rambut.”
Bagas tersenyum.
“Iya.”
“Jelek.”
Sari menoleh cepat.
“Lala.”
Bagas tertawa.
“Gapapa.”
Lala melihat lagi.
“Bukan jelek banget.”
“Terima kasih.”
Mereka berdiri di depan pagar kontrakan.
Pukul sembilan pagi.
Sari sudah tahu Bagas akan datang.
Kali ini ada pesan.
Ada jam.
Ada tujuan.
Dan yang paling penting, ada jawaban iya dari Sari sebelum Bagas berangkat.
Mereka akan membawa Lala ke taman kota.
Dua jam.
Sari ikut.
Bukan karena takut Lala sendirian bersama ayahnya.
Belum sampai situ.
Tapi karena ia belum siap menyerahkan semuanya sekaligus.
Bagas tidak protes ketika syarat itu disampaikan.
Setidaknya lewat pesan.
Pagi itu ia membawa helm kecil baru.
Warna merah muda.
Lala langsung senang.
“Buat aku?”
“Iya.”
“Ada kelincinya?”
“Enggak.”
Lala menghela napas dramatis.
“Papa salah lagi.”
Bagas menutup muka.
“Ya ampun.”
Sari hampir tertawa.
Bagas melihat.
Untuk beberapa detik suasananya seperti dulu.
Itu bagian yang berbahaya.
Bukan karena ada sesuatu yang salah dalam tertawa.
Justru karena mudah sekali lupa bahwa momen baik tidak otomatis menghapus momen buruk.
Raka keluar dari unit depan sambil membawa gulungan kabel.
Melihat Bagas.
Berhenti.
Bagas mengangguk.
“Mas.”
Raka membalas.
“Gas.”
Tidak hangat.
Tidak dingin.
Cukup.
Sari melihat Raka.
“Mas, kami keluar sebentar.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada “sama siapa?”
Tidak ada “jam berapa balik?”
Kemajuan.
Naya yang berdiri di belakang Raka berbisik,
“Hebat.”
Raka menoleh.
“Apa?”
“Udah bisa diem.”
Raka mendengus.
Bagas mendengar tapi pura-pura tidak.
Mereka pergi naik dua motor.
Bagas sendiri.
Sari membawa Lala.
Taman kota ramai.
Penjual balon.
Sepeda kecil.
Anak-anak berlari.
Orang tua duduk di bawah pohon sambil memegang ponsel.
Bagas membeli tiga es krim.
Sari menolak.
“Aku nggak mau.”
“Ya udah dua.”
Tidak memaksa.
Poin kecil.
Sari memperhatikan tanpa sengaja.
Lala berlari ke ayunan.
Bagas mengikuti.
“Pelan!”
“Papa dorong!”
“Jangan tinggi-tinggi.”
“Tinggi!”
“Jangan dengerin anaknya.”
Sari duduk di bangku.
Bagas mendorong pelan.
Lala protes.
“Kurang!”
“Papa udah tua.”
“Papa belum.”
“Terima kasih.”
Sari melihat mereka.
Ada rasa hangat.
Lalu rasa takut karena rasa hangat itu ada.
Ia membenci bagian itu.
Lebih mudah kalau hatinya sudah mati sepenuhnya.
Ternyata belum.
Bagas masih bisa membuat Lala tertawa.
Masih tahu es krim rasa kesukaan anaknya.
Masih tahu kalau Lala gampang mual kalau habis berputar terlalu cepat.
Ia tetap ayahnya.
Dan Sari tetap pernah mencintainya.
Dua fakta itu tidak hilang hanya karena hubungan mereka rusak.
Setelah Lala sibuk bermain pasir, Bagas duduk di sebelah Sari.
Tidak terlalu dekat.
“Gimana kontrakan?”
Sari menoleh.
“Kenapa?”
“Dengar-dengar mau dijual?”
Sari mengerutkan dahi.
“Tahu dari mana?”
“Video lama itu masih muter.”
“Bukan dari situ.”
Bagas diam sebentar.
“Bu Lilis.”
Sari hampir tertawa.
“Tentu.”
“Katanya ada surat.”
Sari mengangguk.
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
Bagas melihat rumput.
“Kalau sampai harus pindah…”
Sari langsung tahu arah kalimat.
“Jangan.”
Bagas menoleh.
“Aku belum ngomong.”
“Gue tahu.”
Bagas menghela napas.
“Sar.”
“Hm.”
“Rumah masih ada.”
Sari diam.
“Kalau kontrakan itu lepas, lo sama Lala bisa pulang.”
Sari menatap lurus ke depan.
Bagas cepat menambahkan,
“Bukan berarti kita langsung balik kayak dulu.”
“Terus?”
“Ya tinggal dulu.”
“Di rumah lo.”
“Rumah kita.”
Sari tidak menjawab.
Bagas melihat.
“Nama lo juga masih di situ.”
“Bagas.”
“Hm?”
“Jangan pakai masalah kontrakan buat buka pembicaraan ini.”
Bagas langsung tersinggung sedikit.
“Gue cuma kasih opsi.”
“Saya tahu.”
“Kalau tahu kenapa langsung defensif?”
Sari menoleh.
“Karena gue udah hafal.”
Bagas diam.
Sari melanjutkan,
“Dulu tiap gue bilang mau pergi, lo bilang gue mau ke mana.”
Bagas menunduk.
“Sekarang gue udah punya tempat, terus tempatnya mungkin hilang, lo langsung bilang pulang.”
“Aku cuma khawatir.”
“Boleh.”
Sari mengangguk.
“Tapi jangan anggap kekhawatiran lo otomatis jadi keputusan gue.”
Bagas tidak jawab.
Lala berteriak dari kejauhan,
“Ibuuu!”
Sari berdiri.
“Ya?”
“Lihat!”
Lala menunjukkan istana pasir yang bentuknya lebih mirip nasi tumpeng ambruk.
Sari tersenyum.
“Bagus!”
Bagas melihat Sari berjalan menghampiri.
Wajahnya turun sedikit.
Bukan marah.
Kecewa.
Mereka makan siang di warung soto dekat taman.
Bagas yang membayar.
Sari tidak protes.
Tidak semua hal harus dijadikan simbol.
Lala makan setengah mangkuk lalu minta kerupuk.
Bagas langsung mengambil.
Sari berkata,
“Satu aja.”
Bagas menatap Lala.
“Dengar Ibu.”
Lala cemberut.
Bagas tidak diam-diam memberi kedua.
Sari kembali memperhatikan.
Poin kecil lagi.
Menyebalkan.
Karena setiap poin kecil seperti mengetuk bagian dalam dirinya.
Lihat. Dia berubah.
Tapi suara lain menjawab:
Terus?
Perubahan bukan mesin waktu.
Setelah makan, Bagas berkata,
“Aku mau ngomong satu hal.”
Sari melihat.
“Ngomong.”
“Gue udah hampir sebulan nggak minum.”
Sari mengangguk.
“Bagus.”
“Masih konseling.”
“Hm.”
“Kerjaan juga mulai tetap.”
“Bagus.”
Bagas menunggu.
Sari tahu ia menunggu sesuatu.
“Apa?”
Bagas tertawa kecil.
“Enggak.”
Sari melihat.
“Ngomong.”
Bagas memainkan sendok.
“Kadang gue ngerasa…”
Ia berhenti.
“Apa?”
“Gue udah ngelakuin semua yang lo minta.”
Sari menegang.
“Saya nggak pernah minta.”
Bagas langsung melihat.
“Maksud gue—”
“Enggak.”
Sari menurunkan suara karena Lala ada di meja.
“Gue nggak pernah bilang, ‘Berhenti minum, konseling, kerja, terus gue pulang.’”
Bagas diam.
“Aku tahu.”
“Tapi kalimat lo barusan bunyinya kayak gitu.”
Bagas menghela napas.
“Gue cuma pengen tahu ada gunanya apa enggak.”
Sari menatap.
“Ada.”
Bagas melihat.
“Buat siapa?”
Sari menjawab tanpa ragu,
“Buat lo.”
Bagas tertawa hambar.
“Nah.”