Siapa yang Berhak Bicara
Hari ketiga sejak KERJAAN CEMPAKA dipasang di media sosial, Bu Nur mulai menyesal punya nomor WhatsApp.
Pukul enam lewat lima belas, ponselnya sudah berbunyi empat kali.
Pukul enam lewat dua puluh, delapan kali.
Pukul enam lewat tiga puluh, Bu Nur menyerahkan ponsel ke Naya.
“Ambil.”
Naya yang sedang makan nasi uduk menatap.
“Kenapa?”
“Saya jual nasi, bukan kerja di call center.”
Ponsel berbunyi lagi.
Naya melihat.
Bu, nasi uduk 12 bungkus bisa antar?
Belum selesai dibaca, pesan lain masuk.
Servis kipas bisa diambil ke rumah nggak?
Lalu:
Permak celana jeans berapa?
Lalu satu lagi:
Yang debt collector masih tinggal situ?
Naya menghela napas.
Yang terakhir dihapus.
Bu Nur menunjuk.
“Nah.”
“Apa?”
“Itu. Orang beli apa kepo?”
“Campur.”
“Kalau kepo bayar dulu.”
Raka yang sedang memasukkan dua puluh bungkus nasi ke kardus tertawa.
“Bisnis model baru.”
Bu Nur menunjuk kardus.
“Jangan ketawa. Iket yang bener.”
“Iya.”
Di ujung meja, Beni sedang menempelkan kertas kecil bertuliskan nama pemesan.
Tulisan tangannya rapi.
Terlalu rapi.
Komang melihat.
“Bang, dulu di pabrik pasti yang bikin label lo.”
Beni tidak mengangkat wajah.
“Gue leader.”
“Ya.”
“Bukan tukang label.”
Komang mengangguk.
“Sekarang promosi jabatan turun.”
Beni menatap.
Komang langsung mengambil kardus.
“Siap, Pak.”
Beni tertawa kecil.
Pagi itu kontrakan kacau.
Tapi kacau yang berbeda.
Bukan orang datang karena video.
Bukan debt collector.
Bukan masalah rumah tangga.
Orang datang beli.
Seorang ibu mengambil tiga bungkus nasi.
Dua anak kuliahan menitip kipas rusak ke Hamdan.
Sari sudah menerima enam celana dan satu rok untuk dipermak.
Adrian punya pesanan desain menu untuk warung ayam geprek.
Komang mendapat pekerjaan foto produk keripik.
Tidak besar.
Tidak cukup untuk menyelamatkan rumah.
Tapi uang masuk.
Sedikit-sedikit.
Raka mencatat semuanya.
Setiap nominal membuat napasnya agak ringan.
Sampai pesan baru muncul di ponsel Naya.
Bang, boleh bikin konten di sana lagi? Kali ini bantu promosi. — Fadli
Naya membaca.
Lalu melihat Raka.
“Bang.”
“Hm?”
“Fadli.”
Tangan Raka berhenti mengikat kardus.
“Kenapa?”
“Mau datang.”
“Buat apa?”
“Konten.”
Raka langsung,
“Enggak.”
Naya menunjukkan bagian berikutnya.
“Bantu promosi.”
“Enggak.”
“Belum baca.”
“Nama orangnya cukup.”
Naya tersenyum.
“Trauma.”
“Realistis.”
Bu Nur ikut melihat.
“Yang bikin video kemarin?”
“Iya.”
Bu Nur berpikir.
Kemudian berkata,
“Suruh datang.”
Raka menoleh.
“Bu.”
“Apa?”
“Dia yang bikin semua berantakan.”
“Dia juga yang bikin orang sekarang tahu warung.”
Raka menatap ibunya.
Bu Nur mengangkat bahu.
“Yang salah tetap salah.”
“Hm.”
“Tapi kalau sekarang mau bantu, dengar dulu.”
Raka tidak suka.
Tapi beberapa minggu terakhir hidupnya terlalu sering membuktikan bahwa ia tidak suka bukan berarti ia benar.
“Ya udah.”
Naya mengetik.
Fadli datang satu jam kemudian.
Tidak membawa stabilizer.
Tidak langsung merekam.
Ponselnya bahkan masuk saku.
Peningkatan karakter kecil yang Raka perhatikan.
“Bang.”
Raka mengangguk.
“Duduk.”
Fadli duduk.
Bu Nur menyodorkan teh.
Fadli terlihat bingung.
“Bu…”
“Bayar.”
“Oh.”
Raka hampir tertawa.
Fadli mengeluarkan uang.
Bu Nur mengambil.
Baru kemudian duduk.
“Nah. Ngomong.”
Fadli menatap Raka.
“Gue lihat postingan usaha kalian.”
“Terus?”
“Lumayan jalan.”
“Hm.”
“Tapi bisa lebih.”
Raka menyilangkan tangan.
“Mulai.”
Fadli mengeluarkan ponsel.
Tidak membuka kamera.
Membuka catatan.
“Gue kepikiran bikin video proper.”
Naya mendekat.
“Konsep?”
Fadli langsung semangat.
“Nah.”
Raka melihat.
Anak itu memang mungkin salah profesi kalau disuruh tidak bikin konten.
Fadli berkata,
“Bukan kayak kemarin.”
“Bagus.”
“Ini lebih rapi. Kayak dokumenter pendek.”
Raka langsung mengernyit.
“Dokumenter?”
“Iya. Cerita kontrakan.”
Naya mulai curiga.
“Cerita apanya?”
Fadli melihat catatan.
“Ya orang-orangnya.”
Raka diam.
Fadli melanjutkan,
“Misal dibuka dari Raka.”
“Hm.”
“Pemilik kontrakan terancam kehilangan rumah karena utang.”
Raka sudah tidak suka.
“Terus Dimas.”
Fadli makin bersemangat.
“Debt collector yang ternyata tinggal sama orang yang dia tagih.”
Naya menatap.
“Terus Maya.”
Fadli berhenti sebentar.
Mungkin baru sadar.
Terlambat.
“Kerja malam buat biayain adiknya.”
Dari belakang terdengar suara Maya.
“Terus?”
Semua menoleh.
Maya berdiri di depan kamar tujuh.
Baru bangun.
Rambut berantakan.
Tatapannya tidak.
Fadli langsung mengecil.
“May.”
“Lanjut.”
“Gue cuma brainstorming.”
“Lanjut.”
Fadli melihat catatan.
Tidak berani.
Maya berjalan mendekat.
Mengambil kursi.
Duduk.
“Terus siapa?”
Fadli diam.
Naya melihat catatannya.
“Sari?”
Fadli menarik napas.
“Ya.”
Maya tertawa pendek.
“Bagus.”
Fadli buru-buru berkata,
“Bukan buat eksploitasi.”
Maya langsung menatap.
“Orang kalau harus bilang bukan eksploitasi biasanya…”
Ia berhenti.
“Ya.”
Fadli menutup catatan.
“Gue pengen bantu.”
Raka melihat Maya.
Maya melihat balik.
Untuk sekali ini mereka sependapat tanpa perlu ngomong.
Fadli berkata,
“Video cerita manusia tuh lebih jalan.”
Adrian keluar kamar sambil membawa mug.
“Maksudnya trauma lebih engagement?”
Fadli menoleh.
“Bukan begitu.”
Adrian duduk di tangga.
“Tapi kurang lebih.”
Fadli menghela napas.
“Gue tahu kedengerannya jelek.”
“Karena emang agak jelek,” kata Naya.
Fadli menatap satu per satu.
“Gue cuma mikir kalau orang tahu kenapa rumah ini penting…”
Raka memotong.
“Mereka bakal bantu?”
“Iya.”
“Hm.”
“Beli. Share. Mungkin donasi.”
Raka langsung,
“Enggak ada donasi.”
Fadli mengangguk.
“Oke. Beli.”
Raka diam.
Karena bagian itu masuk akal.
Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.
Tidak lama, pembicaraan pindah ke meja makan.
Lagi.
Kontrakan rupanya sekarang menyelesaikan semua masalah di meja itu.
Bu Martha datang karena mendengar kata “dokumenter”.
Komang pulang dari antar pesanan.
Sari duduk dekat pintu kamar supaya tetap bisa melihat Lala.
Beni ikut.
Dimas masih kerja.
Hamdan di bengkel.
Bu Nur menggoreng.
Maya minum kopi.
Fadli membuka konsep.
“Gue nggak akan rekam apa pun sebelum orangnya setuju.”
Maya mengangguk.
“Bagus. Kemajuan.”
Fadli menerima.
“Gue memang salah kemarin.”
Tidak ada yang membantah.
Ia melanjutkan,
“Tapi yang gue maksud bukan bikin kalian kelihatan kasihan.”
Bu Martha berkata,
“Lalu?”
“Bikin orang ngerti.”
Bu Martha menatap.
“Orang tidak harus tahu semuanya untuk membeli nasi uduk.”
Fadli diam.
Adrian mengangkat mug sedikit.
“Exactly.”
Bu Martha menoleh.
“Bahasa Indonesia.”
Adrian tersenyum.
“Setuju.”
Komang mengambil gorengan.
“Gue sih kalau cerita soal ojol gapapa.”
Naya melihat.
“Semua?”
Komang berpikir.
“Jangan cicilan motor.”
“Kenapa?”
“Malu.”
Satu meja tertawa.
Komang mengangguk.
“Nah. Berarti ada yang gue nggak mau.”
Sari berkata pelan,
“Saya nggak mau soal Bagas.”
Semua langsung diam.
Fadli mengangguk.
“Oke.”
“Lala juga jangan direkam.”
“Oke.”
Sari melihat.
“Mesin jahit boleh.”
“Boleh.”
“Kerjaan boleh.”
“Boleh.”
“Cerita saya pindah ke sini enggak.”
Fadli mencatat.
“Siap.”
Maya menunjuk dirinya.
“Kerjaan malam gue jangan dibahas.”
Fadli mengangguk.
“Adik gue juga jangan.”
“Oke.”
“Kalau mau rekam gue, paling gue ngomong soal…”
Maya berpikir.
“Parfum.”
Bu Martha langsung menyela,
“Tidak.”
Meja pecah tertawa.
Maya menatap.
“Bu.”
“Saya punya hak suara juga kalau soal parfum itu.”