Beni mendapat pekerjaan pada hari Jumat.
Bukan pekerjaan yang ia lamar minggu lalu.
Bukan leader.
Bukan supervisor
Bukan juga pekerjaan dengan meja, seragam bagus, atau kartu nama.
Seorang mantan anak buahnya menelepon pagi-pagi.
“Pak Ben.”
Beni yang sedang membantu Bu Nur melipat kertas nasi langsung menjawab,
“Jangan panggil Pak.”
“Refleks.”
“Gue udah nggak bisa kasih SP.”
Suara di seberang tertawa.
Namanya Joko.
Dulu operator di line yang dipimpin Beni.
Sekarang bekerja di gudang distributor bahan bangunan.
“Ada orang keluar, Bang.”
Beni berhenti melipat.
“Terus?”
“Butuh kepala shift sementara.”
Beni berdiri.
“Umur?”
“Bang.”
“Hm?”
“Kalau gue telepon berarti umur lo udah gue tahu.”
Beni tersenyum.
“Lanjut.”
“Kontrak tiga bulan dulu.”
“Hm.”
“Gaji nggak kayak tempat lama.”
“Berapa?”
Joko menyebut angka.
Beni diam.
Jauh di bawah gaji terakhirnya di pabrik.
Tapi jauh di atas nol.
“Shift?”
“Rolling.”
“Mulai?”
“Kalau mau, Senin.”
Beni tidak langsung jawab.
Joko berkata,
“Interview formal besok. Tapi orang gudang udah baca CV.”
Beni menelan ludah.
“Kenapa gue?”
“Karena dulu waktu line kita kebakaran kecil, orang lain lari, lo matiin panel.”
Beni tertawa.
“Tolol itu, harusnya gue juga lari.”
“Ya pokoknya mereka butuh orang yang nggak panik.”
Beni melihat kontrakan.
Raka sedang mencatat order.
Hamdan membongkar blender.
Sari menerima celana pelanggan.
Orang-orang yang dua minggu terakhir melihatnya justru pada saat ia paling panik dalam hidup.
“Gue datang.”
“Besok jam sepuluh.”
“Ya.”
Telepon ditutup.
Beni tetap berdiri.
Bu Nur melihat.
“Dapat kerja?”
Beni menatap.
“Kok tahu?”
“Wajahmu beda.”
Beni tersenyum.
“Interview.”
Bu Nur langsung berkata,
“Alhamdulillah.”
Kemudian kembali membungkus nasi.
Tidak berlebihan.
Tidak tepuk tangan.
Tapi kata itu cukup membuat sesuatu di dada Beni bergeser.
Raka mendengar.
“Serius?”
Beni mengangguk.
“Gudang.”
“Posisi?”
“Kepala shift sementara.”
Raka mengulurkan tangan.
Beni menjabat.
“Belum keterima.”
“Ya besok keterima.”
“Kalau enggak?”
“Balik bungkus nasi.”
Bu Nur langsung menyahut,
“Jangan. Lipatannya masih miring.”
Beni tertawa.
Interview hanya berlangsung tiga puluh lima menit.
Pertanyaan standar.
Pengalaman.
Target.
Konflik tim.
Keselamatan kerja.
Kenapa keluar dari tempat lama.
Beni menjawab:
“PHK.”
Tidak menyebut judi.
Tidak semua kebenaran harus dimasukkan ke CV.
Orang gudang bernama Pak Dedi melihat riwayatnya.
“Dua puluh tahun?”
“Hampir.”
“Bisa kerja di bawah orang yang lebih muda?”
Beni tersenyum tipis.
“Kalau gajinya masuk, bisa.”
Pak Dedi tertawa.
“Supervisor area umur tiga puluh empat.”
“Yang penting ngerti kerjaan.”
“Kalau enggak?”
“Ya saya kasih tahu baik-baik.”
Pak Dedi mengangkat alis.
“Dulu leader galak?”
“Lumayan.”
“Sekarang?”
Beni berpikir.
“Sedang belajar jangan terlalu yakin saya paling tahu.”
Pak Dedi mengangguk.
Mungkin jawaban itu yang membuatnya diterima.
Atau memang gudang sedang sangat butuh orang.
Beni tidak peduli.
Sore itu pesan masuk.
Senin mulai.
Ia membaca tiga kali.
Lalu membuka aplikasi bank.
Saldo tidak banyak.
Ada uang hasil membantu beberapa pesanan, uang sisa yang Erna izinkan tetap ia pegang untuk kebutuhan pribadi, dan uang yang selama hampir seminggu tidak ia sentuh untuk judi.
Beni mentransfer lima ratus ribu ke rekening Erna.
Keterangan:
Uang sekolah Aldi. Baru segini.
Jempolnya berhenti sebelum menekan kirim.
Lima ratus ribu.
Kecil dibanding lima juta yang hilang.
Sangat kecil.
Ia hampir berpikir percuma.
Lalu teringat kalimat Raka.
Kalau tidak langsung penuh, bukan berarti kosong.
Beni menekan.
Transfer berhasil.
Erna menelepon lima menit kemudian.
“Ben.”
“Hm.”
“Ini apa?”
“Uang.”
“Saya tahu uang.”
Beni tersenyum.
“Buat sekolah Aldi.”
“Dari mana?”
“Bukan judi.”
Erna diam.
“Gue bantu kerjaan di kontrakan.”
“Hm.”
“Sama ada sisa pegangan.”
Erna masih tidak bicara.
Beni berkata,
“Gue keterima kerja.”
Hening.
Lalu,
“Di mana?”
Beni menjelaskan.
Kontrak tiga bulan.
Gudang.
Shift.
Gaji.
Tidak sehebat dulu.
Tapi ada.
Erna bertanya,
“Mulai Senin?”
“Iya.”
“Syukur.”
Nada suaranya terdengar benar-benar lega.
Beni duduk di tepi kasur.
“Na.”
“Hm?”
“Gue mau ngomong sama Aldi.”
Erna diam.
“Yang kemarin.”
“Hm.”
“Gue yang ngomong.”
Erna menjawab pelan,
“Memang harus kamu.”
“Gue boleh ke rumah?”
“Boleh.”
Beni menahan napas.
“Malam ini?”
“Jam tujuh.”
“Oke.”
Kemudian Erna menambahkan,
“Ben.”
“Hm?”
“Datang bukan berarti pulang.”
Beni diam sebentar.
“Gue tahu.”
“Bener?”
“Iya.”
“Jangan bikin Aldi bingung.”
“Enggak.”
“Dan jangan bawa tas banyak.”
Beni melihat satu-satunya ransel di kamarnya.
Ia hampir tertawa.
“Enggak.”
Telepon selesai.
Beni duduk cukup lama.
Datang bukan berarti pulang.
Aneh.
Padahal alamat itu masih alamat di KTP-nya.
Istri dan anaknya ada di sana.
Bajunya masih ada sebagian.
Sandal rumahnya mungkin masih di rak.
Tapi seseorang bisa punya alamat dan tetap belum punya izin untuk pulang.
Jam enam lewat, Beni sudah mandi.
Kemeja biru.
Celana hitam.
Rambut disisir.
Komang yang baru pulang melihat.
“Interview kedua?”
“Rumah.”
Komang berhenti.
“Oh.”
Dimas keluar kamar.
“Balik?”
Beni menggeleng.
“Ngobrol.”
Dimas mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Raka sedang memasukkan uang hasil pekerjaan hari itu ke amplop.
Ia melihat.
“Gimana kerja?”
“Keterima.”
Raka langsung berdiri.
“Serius?”
“Iya.”
Raka tersenyum lebar.
“Anjir.”
Bu Martha dari kamar satu:
“Bahasa.”
Raka tidak peduli.
“Bagus.”
Beni tertawa.
“Makasih.”
“Terus mau rumah?”
“Hm.”
“Mau ngomong sama Aldi.”
Raka berhenti tersenyum sedikit.
“Judi?”
“Iya.”
“Hm.”
Beni memasukkan ponsel ke saku.
“Gue takut.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Beni menatap.
“Bagus apanya?”
“Berarti lo nggak nganggep enteng.”
“Motivasi lo busuk.”
“Gue bukan motivator.”
Beni tertawa kecil.
Lalu bertanya,
“Menurut lo gue ngomong gimana?”
Raka berpikir.
“Jangan kayak HRD.”
“Hah?”
“Jangan terlalu rapi.”
Beni diam.
Raka melanjutkan,
“Anak lo bukan karyawan yang perlu presentasi kenapa perusahaan rugi.”
Beni tersenyum hambar.
“Ya.”
“Ngomong aja.”
“Kalau dia marah?”
“Ya marah.”
“Kalau dia benci gue?”
Raka diam sebentar.
“Ya itu bukan bagian yang bisa lo atur.”
Beni menunduk.
“Semua orang sekarang ngomong batas.”
Raka tertawa.
“Tema bulan ini.”
Beni mengangguk.
Kemudian pergi.
Rumah Beni tidak besar.
Satu lantai.
Dua kamar.
Teras sempit.
Ada rak sepatu dekat pintu.
Ketika ia sampai, sandalnya masih ada.
Sandal jepit abu-abu.
Posisi sama.
Beni berdiri beberapa detik melihatnya.
Kemudian mengetuk.
Padahal dulu tidak pernah mengetuk.
Erna membuka.
Mereka saling lihat.
“Masuk.”
Beni melepas sepatu.
Hampir mengambil sandal abu-abunya.
Berhenti.
Erna melihat.
“Pakai aja.”
Beni menatap.
“Boleh?”
Erna sedikit mengerutkan dahi.
“Itu sandal, Ben.”
Beni tertawa kecil.
“Iya.”
Ia memakainya.
Ukuran masih pas.
Tentu.
Rumah tidak banyak berubah.
Televisi.
Taplak meja.
Foto Aldi wisuda TK.
Kipas di sudut.
Kalender laundry tempat Erna bekerja.
Ada satu hal yang hilang.
Foto keluarga yang dulu ada di meja.
Beni melihat.
Tidak bertanya.
Aldi duduk di sofa.
Umur tiga belas.
Kaos klub bola.
Rambut agak panjang.
Ponsel di tangan.
Ketika melihat ayahnya, ia tidak berdiri.
“Di.”
Aldi mengangguk.