ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #25

PINTU 25: PILIHAN

Tidak Semua Uang Layak Diambil

Empat hari sebelum batas surat habis, Dimas kehilangan dua ratus ribu gara-gara Bu Martha.

Setidaknya begitu versi Dimas.

“Bu, itu punya saya.”

Bu Martha berdiri di depan meja makan sambil memegang dua lembar seratus ribu.

“Saya tahu.”

“Terus kenapa diambil?”

“Bukan diambil.”

“Sekarang di tangan Ibu.”

Bu Martha menunjuk amplop putih di atas meja.

“Saya pindahkan.”

Dimas menatap amplop itu.

Di depannya tertulis dengan huruf kapital:

OBAT PAK SUGENG

Dimas menghela napas.

“Bu.”

“Apa?”

“Gue taruh di situ karena nanti mau gue ambil.”

“Makanya saya masukkan amplop.”

“Kenapa?”

“Supaya tidak tercampur.”

Dimas melihat meja.

Memang sedang kacau.

Uang hasil nasi uduk.

Uang servis.

Uang jahitan.

Nota.

Receh.

Uang muka pesanan.

Satu amplop pembayaran kontrakan.

Dan uang Dimas yang tadi ia taruh sebentar sebelum berangkat.

Bu Martha menunjuk.

“Uang yang tidak diberi nama cepat merasa tidak punya pemilik.”

Komang yang sedang makan gorengan mengangguk.

“Dalam juga.”

Bu Martha menoleh.

“Itu administrasi, bukan filsafat.”

Komang mengunyah.

“Lebih dalam lagi.”

Dimas mengambil amplop.

“Ini buat biaya rumah sakit.”

“Nah.”

“Gue tahu.”

“Bagus.”

Dimas memasukkan ke tas.

Raka lewat sambil membawa kardus pesanan.

“Kenapa?”

“Bu Martha nyita duit gue.”

Bu Martha langsung menatap.

“Fitnah.”

Raka berhenti.

“Berani juga lo.”

Dimas mengangkat tangan.

“Oke. Salah.”

Bu Martha kembali menghitung nota.

Dimas tertawa kecil.

Pagi itu kontrakan sudah ramai sejak Subuh.

Pesanan Cempaka mulai benar-benar berjalan.

Belum besar.

Tapi cukup membuat meja makan berubah fungsi tiap tiga jam.

Pagi tempat membungkus nasi.

Siang meja administrasi.

Malam tempat rapat.

Kalau ada kesempatan, baru dipakai makan.

Raka menaruh kardus.

“Dim.”

“Hm?”

“Bapak lo jadi pemeriksaan besok?”

Dimas mengangguk.

“Jadi.”

“Aman?”

Dimas memegang amplop di tas.

“Kurang dikit.”

“Berapa?”

“Udah.”

Raka menatap.

“Gue cuma nanya.”

“Gue tahu.”

“Kalau—”

Dimas langsung menunjuk.

“Jangan.”

Raka berhenti.

Dimas tersenyum.

“Lo lagi ngumpulin duit buat rumah.”

“Hm.”

“Gue ngumpulin buat Bapak.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

Tidak ada yang memaksa.

Bagus.

Dimas memakai jaket.

Komang berkata,

“Target hari ini, Bang?”

Dimas menghela napas.

“Jangan ngomong target pagi-pagi.”

“Maaf.”

“Bikin maag.”

Ia keluar.

Di kantor, target sudah menunggu.

Dalam bentuk angka merah.

Dimas duduk di briefing.

Reza berdiri di depan.

Kelihatan kurang tidur.

Ada lingkar hitam di bawah matanya.

“Gue langsung aja.”

Semua diam.

“Recovery minggu ini jelek.”

Seseorang di depan menghela napas.

Reza melanjutkan,

“Pusat bikin program percepatan sampai Jumat.”

Slide berubah.

Ada kolom baru.

UNIT RECOVERY

Di sebelahnya angka insentif.

Dimas langsung tahu arahnya.

Reza berkata,

“Akun yang sudah memenuhi syarat recovery dan bisa voluntary surrender, poinnya dinaikin.”

Satu collector bersiul.

“Lumayan.”

Reza mengangguk.

“Memang lumayan.”

Dimas melihat angka bonus.

Kalau dapat dua unit—

biaya pemeriksaan ayahnya aman.

Bahkan masih ada lebih sedikit.

Reza membagikan daftar.

Satu lembar mendarat di depan Dimas.

Ia membaca.

Nama pertama membuatnya berhenti.

ARMAN FAUZI

Dimas mengangkat wajah.

“Mas.”

Reza sedang membagi kertas.

“Hm?”

“Arman?”

Reza melihat.

“Kenapa?”

“Yang ojol?”

“Ya.”

Dimas membaca statusnya.

Tunggakan membesar.

Beberapa janji bayar.

Pembayaran kecil.

Akun sekarang masuk rekomendasi penanganan kendaraan.

Dimas menahan napas.

“Dia masih kerja pakai motornya.”

Reza mengangkat bahu.

“Makanya unit ada.”

Dimas menatap.

Reza melanjutkan pembagian.

“Prioritas lo Arman sama satu lagi.”

“Kalau partial?”

Reza berhenti.

“Lihat nominal.”

“Dia biasanya seratus-dua ratus.”

“Makanya sudah lewat fase itu.”

Dimas mengetuk kertas.

“Kalau dia kasih?”

Reza menatap.

“Dim.”

“Hm.”

“Jangan mulai jadi konselor lagi.”

Beberapa orang menahan tawa.

Dimas tidak.

Reza duduk di tepi meja.

“Gue serius.”

“Gue juga.”

“Status akun sudah naik.”

Dimas mengangguk.

“Gue ngerti.”

“Kalau unit bisa diserahin baik-baik, itu jauh lebih aman daripada nanti orang lain yang datang.”

Itu benar.

Dimas tahu.

Reza melanjutkan,

“Lo juga dapat poin.”

Dimas melihat angka bonus.

Reza melihat wajahnya.

“Bapak lo gimana?”

Dimas langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Gue nanya.”

“Masih.”

“Rumah sakit?”

“Iya.”

Reza mengangguk.

“Ya udah.”

Ia menunjuk daftar.

“Kerja.”

Dimas tidak suka bahwa dua hal itu baru saja diletakkan di meja yang sama.

Tapi keduanya memang sudah ada di kepalanya sejak tadi.

Arman sedang menunggu order ketika Dimas menemukan dia di dekat minimarket.

Jaket ojol hijau.

Helm di setang.

Gelas kopi plastik tinggal es.

Begitu melihat Dimas, wajahnya langsung berubah.

“Mas.”

Dimas memarkir motor.

“Pak.”

Arman mematikan aplikasi di ponselnya.

“Belum ada, Mas.”

Dimas belum bicara soal uang.

Arman sudah lebih dulu.

Itu juga bagian dari pekerjaan yang tidak pernah masuk laporan.

Orang mulai melihat wajahmu sebagai tanggal jatuh tempo.

“Kita ngobrol bentar.”

Arman melihat motornya.

Lalu Dimas.

“Unit?”

Dimas terdiam.

Arman tertawa pendek.

“Udah tahu.”

“Dari mana?”

“Kemarin ditelepon.”

Dimas turun dari motor.

Mereka berdiri di sisi minimarket.

Orang keluar-masuk.

Tidak ada yang peduli.

Bagus.

Dimas berkata,

“Statusnya sudah naik.”

Arman mengangguk.

“Katanya disuruh serahin.”

“Hm.”

“Kalau saya serahin, saya kerja pakai apa?”

Dimas diam.

Pertanyaan itu tidak perlu jawaban.

Arman melanjutkan,

“Saya udah coba sewa motor.”

“Berapa?”

Arman menyebut nominal harian.

Dimas menghitung cepat.

Berat.

“Belum makan udah habis.”

“Iya.”

Arman melihat motornya.

“Ini juga belum lunas.”

“Hm.”

“Lucu.”

Dimas tidak tertawa.

Arman membuka dompet.

Mengeluarkan uang.

“Ini ada enam ratus.”

Dimas menatap.

Lebih tinggi dari pembayaran Arman biasanya.

“Dari mana?”

Arman mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Gue nanya.”

Arman diam.

Dimas tidak mengambil.

“Dari mana, Pak?”

Arman menghela napas.

“Istri.”

“Dari mana?”

Arman terlihat mulai kesal.

“Mas mau uang apa mau audit rumah tangga saya?”

Dimas menatap enam lembar seratus ribu.

“Kalau gue ambil ini, belum tentu status unit berhenti.”

Arman langsung diam.

Tangannya masih terulur.

“Apa?”

“Gue harus konfirmasi.”

“Katanya kalau bayar ada itikad.”

“Iya.”

“Ini saya bayar.”

“Hm.”

“Terus?”

Dimas mengeluarkan ponsel.

“Gue telepon kantor.”

Arman menahan.

“Mas.”

“Hm?”

“Ambil dulu.”

Dimas melihat.

“Kenapa?”

“Biar masuk pembayaran.”

“Kalau motor tetap diproses?”

Arman menatap.

“Ya jangan.”

Dimas hampir tertawa.

“Bukan gue doang yang mutusin.”

Arman menarik napas.

“Mas, enam ratus ini bukan sedikit.”

“Gue tahu.”

“Istri saya ambil dari uang kontrakan bulan depan.”

Dimas langsung menatap.

“Nah.”

“Kenapa?”

Dimas menunjuk uang.

“Masukin lagi.”

Arman membeku.

“Hah?”

“Masukin.”

“Mas…”

“Gue belum bilang jangan bayar.”

Dimas mengambil ponsel.

“Gue cuma nggak mau ambil dulu sebelum jelas.”

Arman terlihat tidak percaya.

“Collector nolak duit?”

“Jangan dibikin headline.”

Arman hampir tertawa.

Tapi wajahnya masih tegang.

Dimas menelepon Reza.

“Apa?”

“Arman ada enam ratus.”

Lihat selengkapnya