ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #26

PINTU 26:ROBOH

Saat Semua yang Ditahan Akhirnya Jatuh

Hari terakhir batas surat jatuh pada hari Selasa.

Raka bangun pukul empat lewat dua puluh.

Bukan karena alarm.

Karena hujan.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara air mengenai baskom biru di ruang depan.

Raka membuka mata.

Menatap langit-langit.

Tik.

Tik.

Tik.

“Tai.”

Dari kamar sebelah terdengar suara Bu Nur.

“Bahasa.”

Raka hampir tertawa.

Hampir.

Ia bangun, mengambil kain, lalu memindahkan baskom beberapa sentimeter karena titik bocornya bergeser.

Baskom yang sama.

Yang dulu dipakai merendam kerupuk.

Yang sejak awal seperti lebih setia berada di bawah atap daripada sebagian genteng di atasnya.

Raka jongkok.

Air jatuh tepat di tengah.

Tik.

Tik.

Tik.

Hari terakhir.

Dan rumah masih bocor.

Bagus.

Jam lima, Bu Nur sudah di dapur.

Beni membantu membungkus pesanan sebelum berangkat shift siang.

Sari mendapat order seragam yang harus selesai besok.

Adrian belum tidur karena mengejar revisi.

Komang baru pulang mengantar barang.

Maya belum kembali.

Dimas sedang di rumah sakit bersama Sugeng.

Bu Martha duduk di meja makan, menghitung uang hasil pekerjaan tiga hari terakhir bersama Naya.

Raka keluar membawa amplop.

“Berapa?”

Naya melihat catatan.

“Kalau semuanya yang benar-benar bisa dipakai…”

Ia menyebut angka.

Raka diam.

Masih kurang dari angka awal yang diminta kantor.

Tapi tidak sejauh sebelumnya.

Bu Martha berkata,

“Ini belum termasuk invoice Adrian.”

“Belum cair.”

“Benar.”

“Pesanan Jumat juga belum.”

“Benar.”

“Berarti nggak dihitung.”

Bu Martha mengangguk.

“Bagus.”

Raka menatap.

“Bagus apanya?”

“Kamu mulai membedakan uang yang ada dan uang yang diharapkan.”

Raka menghela napas.

“Bu, pagi-pagi jangan mendidik.”

“Saya pensiun. Refleks.”

Naya menyodorkan catatan.

“Kita bawa semua bukti pemasukan.”

“Hm.”

“Order yang masuk juga.”

“Buat?”

“Bukti kita punya cash flow.”

Raka melihat adiknya.

“Bahasa lu sekarang udah kayak bank.”

Naya mengangkat bahu.

“Internet.”

Hamdan keluar dari kamar.

Sudah mandi.

Kemeja rapi.

Raka menatap.

“Ayah jadi ikut?”

Hamdan mengangguk.

“Ya.”

Bu Nur menaruh dua bungkus nasi.

“Makan di jalan.”

Raka mengambil.

“Bu.”

“Hm?”

“Kalau…”

Ia berhenti.

Bu Nur melihat.

“Kalau apa?”

Raka menggeleng.

“Enggak.”

Bu Nur menyerahkan nasi lebih keras ke tangannya.

“Jangan ngomong kalau-kalau sebelum sarapan.”

Raka tersenyum tipis.

“Iya.”

Kantor pembiayaan masih sama.

AC terlalu dingin.

Televisi tanpa suara.

Kursi plastik.

Bedanya kali ini Raka membawa map sendiri.

Bukan map mereka.

Map keluarga.

Catatan sewa.

Pesanan.

Pendapatan warung.

Servis Hamdan.

Jahitan Sari yang sebenarnya tidak harus dimasukkan tapi Sari mengizinkan bagian jasa yang terkait usaha bersama.

Invoice Adrian yang belum cair diberi tanda jelas.

Semua rapi.

Bu Martha membantu.

Tentu saja.

Fikri mempersilakan masuk.

Ada satu orang lain di dalam.

Perempuan sekitar empat puluhan bernama Ratna.

Bagian remedial.

Raka langsung tidak suka nama bagiannya.

Tapi duduk.

Ratna membaca dokumen.

Pelan.

Tidak meremehkan.

Itu membuat Raka sedikit tenang.

“Jadi Bapak mengajukan pembayaran awal sebesar ini?”

Hamdan mengangguk.

“Ya.”

“Dan sisanya restruktur ulang?”

“Iya.”

Ratna melihat catatan pemasukan.

“Kontrakan delapan unit?”

Hamdan mengangguk.

“Penuh?”

Raka menjawab,

“Sekarang penuh.”

Ratna melihat.

“Pendapatan sewanya tidak cukup besar.”

Raka menahan.

“Memang.”

“Warung?”

Bu Nur tidak ikut, jadi Raka menjelaskan.

“Pagi sampai siang.”

“Hm.”

“Servis elektronik?”

Hamdan berkata,

“Tidak tetap.”

Ratna mengangguk.

“Mas Raka sekarang bekerja?”

Pertanyaan itu tetap terasa menusuk.

“Kerja harian.”

“Permanen?”

“Belum.”

Ratna menulis.

Raka melihat pena bergerak.

Satu jawaban.

Satu garis.

Seolah seluruh hidup bisa mengecil jadi kolom.

Setelah hampir empat puluh menit, Ratna menutup map.

“Kami bisa terima pembayaran awalnya.”

Raka langsung sedikit lega.

“Tapi…”

Nah.

Selalu ada tapi.

Ratna melanjutkan,

“Untuk restruktur baru, saya belum bisa menyetujui dari meja ini.”

Raka menegang.

“Kenapa?”

“Rasionya.”

“Rasio apa?”

“Penghasilan terhadap kewajiban.”

Raka hampir tertawa.

“Kita udah bawa semuanya.”

“Saya lihat.”

“Terus?”

“Masih berat.”

Hamdan bertanya,

“Ada opsi lain?”

Ratna melihatnya.

“Ada penjualan sukarela.”

Raka langsung bersandar.

Lagi.

“Selain itu.”

Ratna diam sebentar.

“Bapak bisa mengajukan review khusus.”

“Berapa lama?”

“Tergantung.”

Raka langsung,

“Kita nggak punya tergantung.”

Ratna menatap.

Raka menarik napas.

“Maaf.”

Hamdan berkata,

“Kalau pembayaran awal masuk hari ini, proses jaminan berhenti?”

Ratna tidak menjawab cepat.

“Tidak otomatis.”

Raka merasa seluruh tubuhnya dingin.

“Jadi buat apa?”

Hamdan menoleh.

“Raka.”

“Enggak, gue nanya.”

Ratna tetap tenang.

“Pembayaran mengurangi kewajiban dan menunjukkan itikad.”

“Yang kita butuh bukan menunjukkan itikad.”

Raka menahan volume.

“Kita butuh rumah jangan diproses.”

Ratna mengangguk.

“Saya paham.”

Raka tertawa pendek.

Lagi.

Paham.

Semua orang paham.

Anehnya tidak ada yang bisa menghentikan apa-apa.

Ratna melanjutkan,

“Kalau review khusus masuk dan diterima, bisa ada penundaan.”

“Kalau nggak?”

“Proses berjalan.”

Hening.

Raka menatap meja.

Hamdan berkata,

“Ajukan.”

Ratna mengangguk.

“Kita ajukan.”

Raka menoleh pada ayahnya.

“Terus uang ini?”

Hamdan melihat amplop.

“Bayar.”

Raka langsung,

“Kalau nggak menghentikan proses, ngapain?”

Hamdan menatap.

“Utangnya tetap utang.”

Raka menahan rahang.

“Yah.”

“Bayar.”

Raka melihat jumlah yang mereka kumpulkan.

Uang sewa maju.

Hasil warung.

Bongkar barang.

Servis.

Keringat orang-orang.

Sebagian bukan uang keluarga mereka saat awal masalah ini muncul.

Semua masuk ke amplop itu.

Raka merasa kalau amplop diserahkan tanpa jaminan rumah selamat, ia sedang melempar semua kerja mereka ke lubang.

Ratna berkata,

“Kalau Bapak belum yakin, silakan dipikirkan.”

Hamdan langsung,

“Bayar.”

Raka menatap ayahnya.

Hamdan tidak berubah.

Akhirnya Raka menyerahkan.

Tangannya berat.

Di luar kantor, mereka berhenti di parkiran.

Hujan belum turun.

Langit gelap.

Raka memakai helm tapi tidak naik motor.

Hamdan berdiri di samping.

“Kenapa Ayah bayar?”

Hamdan mengancingkan jaket.

“Karena kewajiban.”

“Mereka nggak kasih kepastian.”

“Hm.”

“Kalau rumah tetap diproses?”

“Hm.”

“Uangnya habis.”

“Bukan habis.”

Raka langsung menatap.

“Terus?”

“Bayar utang.”

Raka tertawa.

“Gampang banget.”

Hamdan diam.

Raka mulai panas.

“Semua orang nyari duit.”

“Hm.”

“Bu Martha bayar maju.”

“Hm.”

“Maya juga.”

“Hm.”

“Dimas sampai pinjam uang sendiri buat bapaknya karena nggak mau ganggu uang rumah.”

Hamdan menatap.

“Terus kita kasih dan jawabannya masih mungkin dijual.”

“Ya.”

Raka mengusap muka.

“Gue capek.”

Hamdan diam.

“Gue capek semua jawaban Ayah cuma ya, hm, nanti.”

Hamdan menatap anaknya.

Raka melanjutkan,

“Dari dulu begitu.”

“Raka.”

“Kalau dari awal Ayah ngomong utangnya segede apa…”

“Sudah.”

“Belum.”

“Raka.”

“Kalau dari awal Ayah nggak nutupin—”

Hamdan memotong,

“Ayah bilang sudah.”

Nada suaranya naik.

Jarang.

Raka langsung berhenti.

Hamdan menatap.

Wajahnya tidak marah.

Tapi capek.

“Ayah tahu.”

Raka diam.

Hamdan melanjutkan,

“Ayah tahu ini salah.”

“Hm.”

“Ayah tahu kamu capek.”

“Hm.”

“Ayah juga.”

Raka menatap.

Hamdan memakai helm.

“Pulang.”

Tidak ada lagi.

Raka benci karena bahkan ketika ayahnya akhirnya bicara lebih banyak, ia masih belum merasa cukup.

Saat mereka sampai Kampung Cempaka, hujan mulai turun.

Ringan.

Raka langsung disambut Naya.

“Gimana?”

Raka melepas helm.

“Bayar masuk.”

Wajah Naya langsung cerah.

“Terus?”

“Review.”

“Berarti?”

“Belum berarti apa-apa.”

Naya diam.

Bu Nur keluar dari warung.

“Diterima?”

Hamdan menjawab,

“Iya.”

Bu Nur mengangguk.

Tidak bertanya banyak di depan orang.

Raka masuk.

Ia ingin tidur.

Atau pukul sesuatu.

Atau pergi.

Tidak jadi semua.

Ponselnya berbunyi.

Pesan order.

Bongkar barang Sabtu jadi ya Bang?

Raka menatap.

Sabtu.

Tiga hari lagi.

Ia bahkan tidak tahu rumah ini tiga hari lagi statusnya apa.

Tetap membalas:

Jadi.

Hidup menyebalkan karena jadwal tetap berjalan meski seseorang sedang menunggu keputusan tentang tempat tinggalnya.

Hujan membesar sore hari.

Jam empat, air mulai masuk dari titik lama.

Baskom biru keluar.

Kemudian ember merah.

Lihat selengkapnya