ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #27

PINTU 27: TEDUH

Bantuan Datang dari Orang-Orang yang Tidak Diduga

Pak Darto datang pukul tujuh pagi membawa palu, meteran, dan wajah yang tidak membantu menenangkan siapa pun.

Ia berdiri di depan unit keluarga Raka.

Menengadah.

Naik tangga.

Mengetuk beberapa bagian kayu.

Turun.

Naik lagi dari sisi lain.

Raka mengikuti dari bawah seperti pasien menunggu dokter selesai membaca hasil rontgen.

“Gimana, Pak?”

Pak Darto belum jawab.

Ia mengetuk salah satu balok dengan gagang palu.

Tok.

Tok.

Bagian luar kelihatan keras.

Bagian dalam tidak.

“Ini dua harus ganti.”

Raka melihat.

“Dua balok?”

“Iya.”

“Yang lain?”

“Reng beberapa.”

“Hm.”

“Genteng yang pecah sekitar…”

Pak Darto menghitung.

“Dua puluhan. Mungkin lebih setelah dibuka.”

Raka mengangguk.

“Plafon?”

“Belakangan.”

Raka langsung melihat.

“Bisa?”

“Bisa.”

“Yang penting aman dulu.”

Pak Darto turun.

Hamdan berdiri tidak jauh.

“Kalau dikerjain benar?”

Pak Darto menyebut kisaran biaya.

Raka langsung menghela napas.

“Hampir tujuh?”

“Kalau material baru semua.”

Raka tertawa hambar.

“Kalau material lama?”

“Ya tergantung dapat dari mana.”

Komang yang sejak tadi menyapu langsung menyahut,

“Kalau nyolong genteng tetangga malam-malam?”

Bu Martha dari belakang berkata,

“Komang.”

“Contoh, Bu.”

Pak Darto tertawa.

Raka tidak.

“Kalau cuma bikin aman dulu?”

Pak Darto menghitung lagi.

“Balok utama jangan dihemat.”

“Hm.”

“Reng masih bisa cari bekas bagus.”

“Hm.”

“Genteng bisa campur yang selamat.”

“Hm.”

“Plafon jangan dipasang dulu.”

“Jadi?”

“Kalau tenaga ada yang bantu, mungkin setengahnya lebih sedikit.”

Raka melihat halaman.

Setengah pun masih berat.

Uang mereka kemarin sudah masuk ke pembiayaan.

Sisa untuk kebutuhan harian.

Order berjalan, tapi tidak bisa dipanen sekaligus.

Pak Darto menepuk tangannya.

“Kalau mau mulai, material utama dulu.”

Raka mengangguk.

“Gue cari.”

Pak Darto menatap.

“Jangan kelamaan.”

Raka melihat balok patah.

“Iya.”

Kalimat itu terasa seperti penghinaan dari rumah sendiri.

Pukul tujuh lewat dua puluh, Pak Rahmat datang.

Bukan sendirian.

Bersama dua laki-laki kampung yang Raka kenal muka tapi tidak tahu nama lengkap.

Satu membawa linggis.

Satu membawa gergaji.

Raka mengerutkan dahi.

“Pak?”

Pak Rahmat melihat atap.

“Pak Darto bilang pagi ini dibuka bagian yang rusak.”

“Iya.”

“Ya udah.”

Raka melihat dua orang di belakangnya.

“Ini?”

“Pak Rudi. Aang.”

Mereka mengangguk.

Raka membalas.

“Mau bantu.”

Raka langsung berkata,

“Pak, gue belum bisa bayar tukang banyak.”

Pak Rahmat menatap.

“Siapa minta?”

Raka diam.

Pak Rudi sudah meletakkan gergaji.

Aang menaikkan lengan bajunya.

Pak Rahmat menunjuk.

“Yang ahli tetap Pak Darto. Kita angkat-angkat aja.”

Raka melihat.

“Pak…”

“Kenapa?”

“Serius?”

Pak Rahmat menghela napas.

“Rumah ambruk di RT saya. Masa saya cuma isi grup WhatsApp?”

Komang tertawa.

Pak Rahmat menunjuknya.

“Lo juga jangan kabur ngojol dulu.”

Komang melihat ponsel.

“Belum dapat order, Pak.”

“Bagus.”

“Nasib saya kenapa malah bagus?”

“Angkat kayu.”

Komang memasukkan ponsel.

“Siap.”

Setengah jam kemudian Bu Lilis datang membawa panci.

Raka melihat.

“Bu, apaan?”

“Bubur kacang hijau.”

“Kenapa?”

Bu Lilis menatap seperti pertanyaannya bodoh.

“Orang kerja makan.”

“Bu Nur masak.”

“Biar dia nggak masak buat satu kampung.”

Bu Nur keluar.

“Siapa satu kampung?”

Bu Lilis menyerahkan panci.

“Kamu.”

Bu Nur membuka tutup.

“Kurang santan.”

Bu Lilis langsung tersinggung.

“Belum dimakan udah komentar.”

“Kelihatan.”

“Balikin.”

Bu Nur tertawa.

Panci tetap dibawa masuk.

Raka melihat dua perempuan itu.

“Bu Lilis.”

“Hm?”

“Berapa?”

“Apanya?”

“Buburnya.”

Bu Lilis mengangkat alis.

“Raka.”

“Hm?”

“Gue jualan juga.”

“Iya.”

“Kalau gue mau nagih, gue tahu caranya.”

Bu Lilis berjalan pergi.

Lalu berhenti.

“Eh.”

Raka menoleh.

“Nanti kalau warung gue rusak, bantu angkat kulkas.”

Raka akhirnya tersenyum.

“Ya.”

“Nah.”

Bu Lilis pergi.

Utang pertama pagi itu tercatat tanpa kertas.

Angkat kulkas.

Pekerjaan dimulai.

Genteng yang masih utuh dilepas.

Pecahan diturunkan.

Balok patah dipotong.

Terpal dibuka sedikit demi sedikit.

Langit pagi terlihat langsung dari ruang depan.

Lala berdiri bersama Sari pada jarak aman.

“Om.”

Raka menoleh.

“Hm?”

“Rumahnya bolong.”

“Iya.”

“Besar.”

“Iya.”

“Kalau malam bisa lihat bintang?”

Sari langsung berkata,

“Bukan buat lihat bintang.”

Lala mengangguk.

“Sayang.”

Raka tertawa kecil.

Bu Martha membawa kardus ke kamar satu.

Adrian sedang memindahkan dokumen digital dan barang-barang kerja menjauh dari area depan.

Maya baru pulang pukul delapan.

Ia masuk pagar.

Melihat lima laki-laki di atas dan sekitar rumah.

Berhenti.

“Gue salah alamat?”

Komang dari atas berteriak,

“Kerja bakti!”

Maya melihat pakaiannya.

Gaun hitam, jaket, sepatu hak tidak terlalu tinggi.

“Gue sangat siap.”

Bu Martha langsung berkata,

“Tidur.”

Maya menatap.

“Tumben.”

“Kamu akan mengganggu.”

“Baik.”

Maya masuk kamar.

Tiga menit kemudian keluar lagi memakai daster dan sandal.

“Mana yang bisa gue angkat?”

Bu Martha menghela napas.

“Keras kepala.”

“Terima kasih.”

Pukul sembilan, masalah material belum selesai.

Raka sudah menelepon tiga toko bangunan.

Harga hampir sama.

Tidak ada uang cukup.

Ia berdiri di halaman sambil menghitung ketika Komang turun dari tangga.

“Ka.”

“Hm?”

“Gue punya kenalan.”

Raka langsung curiga.

“Siapa?”

“Yang kemarin keripik.”

“Apaan?”

“Yang gue foto produknya.”

Raka mengerutkan dahi.

“Terus?”

“Bapaknya punya toko bahan bangunan.”

Raka menatap.

“Kenapa baru bilang?”

“Baru inget.”

“Telepon.”

Komang mengeluarkan ponsel.

“Jangan galak.”

“Telepon.”

Komang menelepon.

Ngobrol.

Tertawa.

Menjelaskan.

Kemudian wajahnya sedikit serius.

“Oke.”

Telepon selesai.

Raka menunggu.

“Gimana?”

“Dia ada reng bekas bongkaran gudang.”

Raka langsung berkata,

“Masih bagus?”

“Katanya bagus.”

“Katanya?”

“Ya gue bukan ahli kayu.”

Pak Darto dari atas menyahut,

“Suruh kirim foto.”

Komang langsung meminta.

Foto datang.

Pak Darto turun.

Zoom.

Melihat.

“Ini masih bisa.”

Raka menatap.

“Berapa?”

Komang menyebut harga.

Kurang dari setengah harga baru.

“Pengiriman?”

Komang tersenyum.

“Gratis.”

Raka menyipit.

“Kenapa?”

“Gue kasih bonus foto dua produk.”

Raka menatap.

“Lo rugi.”

“Gue rugi waktu.”

“Waktu duit.”

Komang mengangkat bahu.

“Motor juga duit. Nasi juga duit. Semua duit.”

Raka mulai membuka mulut.

Komang menunjuk.

“Jangan mulai.”

Raka berhenti.

Komang tersenyum.

“Bayar gue nanti kalau udah jadi orang kaya.”

“Berarti lama.”

“Ya udah.”

Mereka berjabat tangan.

Balok utama tetap masalah.

Pak Darto tidak mau pakai barang bekas sembarangan.

“Ini jangan.”

Raka mengangguk.

“Gue tahu.”

“Kalau patah lagi bahaya.”

“Iya.”

Ponsel Adrian berbunyi.

Ia sedang duduk dekat pintu kamar tiga.

Melihat layar.

Kemudian menatap Raka.

“Gue mungkin punya.”

Raka sudah lelah bertanya.

“Apaan?”

“Balok.”

“Dari mana?”

Adrian mengangkat ponsel.

“Papa.”

Lihat selengkapnya