ATAP

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #28

PINTU 28: UTANG

Yang Disembunyikan Seorang Ayah

Kotak besi itu diletakkan Hamdan di atas meja makan.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Gerimis masih terdengar di atas genteng baru.

Sesekali satu tetes jatuh ke mangkuk dekat dapur.

Tik.

Lalu lama.

Tik.

Rumah baru saja diberi atap lagi.

Sekarang rasanya seperti sedang menunggu bagian lain runtuh.

Raka berdiri di depan Hamdan.

Bu Nur masih memegang dua piring.

Tidak jadi dibawa ke dapur.

Naya keluar dari kamar karena mendengar suara mereka.

“Ada apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Naya melihat kotak.

Lalu wajah Raka.

“Bang?”

Raka tidak menoleh.

“Ini apa, Yah?”

Hamdan diam.

“Kertas usaha gue kenapa ada di sini?”

Hamdan menarik kursi.

“Duduk.”

Raka tertawa pendek.

“Jangan mulai.”

“Duduk dulu.”

“Gue bisa denger sambil berdiri.”

Hamdan menghela napas.

Bu Nur akhirnya meletakkan piring.

“Ka.”

Raka menoleh.

Wajah ibunya tidak bingung.

Itu yang membuat dadanya langsung dingin.

“Ibu tahu?”

Bu Nur diam.

Raka melihat ayahnya lagi.

Kemudian ibunya.

“Ibu tahu?”

Bu Nur mengangguk kecil.

Raka mundur satu langkah.

“Naya?”

Naya cepat menggeleng.

“Gue nggak tahu apa-apa.”

Raka tertawa hambar.

“Bagus.”

Ia menarik kursi.

Duduk.

“Sekarang ngomong.”

Hamdan membuka kotak.

Mengeluarkan beberapa dokumen lama.

Kuitansi.

Bukti transfer.

Perjanjian pembayaran.

Fotokopi identitas.

Beberapa lembar sudah menguning di pinggir.

Salah satunya memakai kop perusahaan kecil yang membuat perut Raka terasa tidak enak hanya dengan melihat namanya.

RHP DISTRIBUSI.

Usaha yang ia bangun enam tahun lalu.

Nama yang dibuat dari inisialnya sendiri karena umur dua puluh tiga memang usia ketika orang masih cukup percaya diri untuk menjadikan nama sendiri logo perusahaan.

Raka mengambil kertas.

Tanggalnya.

Ia ingat.

Tahun ketika semua gagal.

“Ini tagihan supplier.”

Hamdan mengangguk.

“Kenapa Ayah punya?”

Tidak ada jawaban.

Raka membuka kertas lain.

Bukti pembayaran.

Nama pengirim:

HAMDAN.

Raka membaca nominal.

Lalu kertas berikutnya.

Hamdan lagi.

Berikutnya.

Hamdan.

Satu demi satu.

Raka merasa suara hujan menjauh.

“Ini…”

Ia menghitung kasar.

Tidak selesai.

“Berapa?”

Hamdan tidak menjawab.

“Yah.”

“Puluhan.”

“Puluhan berapa?”

Bu Nur duduk pelan.

Hamdan melihat anaknya.

“Waktu itu dua puluh tujuh lebih.”

Raka tidak bergerak.

Naya ikut diam.

“Dua puluh tujuh juta?”

Hamdan mengangguk.

Raka tertawa.

Sekali.

Kering.

“Enggak.”

Ia membalik kertas.

Seolah angka akan berubah kalau dibaca dari sisi lain.

“Enggak mungkin.”

Hamdan tidak menjawab.

“Utang usaha gue tinggal segitu?”

“Setelah yang kamu bayar sendiri.”

Raka langsung melihat.

“Gue pikir selesai.”

Hamdan mengangguk.

“Itu yang Ayah bilang.”

“Ya.”

Raka mulai bicara lebih cepat.

“Ayah bilang supplier udah beres. Mobil sewaan juga. Gue tanya berkali-kali.”

“Hm.”

“Terus Ayah bilang udah.”

“Iya.”

“Jadi ini apa?”

Hamdan menatap meja.

“Ayah bayar.”

Raka berdiri lagi.

“PAKAI APA?”

Suara terlalu keras.

Dari luar, satu pintu kontrakan terbuka.

Kemudian tertutup lagi.

Orang-orang sudah belajar.

Kalau keluarga depan sedang bicara, tidak semua suara perlu didatangi.

Hamdan berkata,

“Pinjaman.”

Raka memejamkan mata.

“Pinjaman yang mana?”

Hamdan tidak jawab.

Raka sudah tahu.

Tapi tetap ingin mendengar.

“Yang sekarang?”

Bu Nur berkata pelan,

“Sebagiannya.”

Raka menoleh cepat.

“Sebagiannya?”

Hamdan mengambil satu dokumen lain.

Lebih baru.

Pembiayaan.

Raka mengenali formatnya.

Nama perusahaan yang sama dengan surat beberapa minggu terakhir.

Hamdan berkata,

“Waktu pembiayaan itu diambil, bukan cuma buat tutup pinjaman digital.”

Raka diam.

“Ada sisa usaha kamu.”

Hening.

Naya melihat kakaknya.

Raka tidak melihat siapa-siapa.

“Jadi…”

Ia menunjuk dokumen.

“Utang delapan puluh tiga juta itu…”

Hamdan cepat berkata,

“Bukan semua punya kamu.”

“Gue nggak nanya semua.”

“Ka,” kata Bu Nur.

Raka menatap ayahnya.

“Berapa dari utang sekarang karena gue?”

Hamdan menggeleng.

“Nggak bisa dihitung begitu.”

“Bisa.”

“Enggak.”

“BISA.”

Hamdan juga berdiri.

“Karena sudah dicampur.”

“Terus hitung!”

“Bunga jalan.”

“Hitung!”

“Pinjaman lain ditutup.”

“Hitung kira-kira!”

Hamdan menatap anaknya.

“Buat apa?”

Raka tertawa.

“Buat apa?”

Ia menunjuk rumah.

“Atap baru ambruk!”

“Ka.”

“Rumah hampir dijual!”

“Raka.”

“Gue berbulan-bulan marah sama Ayah karena utang!”

Napasnya mulai cepat.

“Terus sekarang Ayah nanya buat apa gue mau tahu bagian gue?”

Hamdan diam.

Raka menekan dua tangan ke meja.

“Gue perlu tahu.”

Hamdan menatap lama.

Kemudian berkata,

“Kalau mau cari siapa yang salah, Ayah.”

Raka langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Yang ambil pinjaman Ayah.”

“Jangan.”

“Yang tanda tangan Ayah.”

“JANGAN.”

Raka menendang kursi ke belakang.

Tidak sampai jatuh.

Bu Nur berdiri.

“Raka.”

Raka menunjuk Hamdan.

“Jangan sekarang sok lindungin gue lagi.”

Hamdan membeku.

Kalimat itu tepat mengenai sesuatu.

Semua tahu.

Enam tahun lalu, Raka mengira dirinya sudah menemukan jalan keluar dari hidup sebagai pekerja kontrak.

Ia dan seorang teman membuat usaha distribusi kecil.

Barang kebutuhan warung.

Minuman kemasan.

Makanan ringan.

Barang diambil dari supplier dengan tempo.

Diantar ke toko-toko kecil.

Margin sedikit.

Kalau jumlah besar, lumayan.

Awalnya bagus.

Sangat bagus.

Raka bahkan pernah datang ke rumah membawa ayam satu ekor dan bilang,

“Sebentar lagi gue yang bayarin listrik.”

Bu Nur menertawakan.

Hamdan tidak.

Hamdan cuma bilang,

“Catat uang keluar.”

Raka waktu itu tersinggung.

Ia merasa ayahnya tidak percaya.

Padahal mungkin Hamdan cuma lebih tua.

Tiga bulan kemudian, satu toko besar telat bayar.

Lalu dua.

Partner Raka mulai mengambil uang kas untuk kebutuhan sendiri.

Mobil sewaan rusak.

Supplier tetap jatuh tempo.

Raka menutup satu lubang dengan pesanan baru.

Kemudian lubang baru muncul.

Ia masih ingat malam ketika menghitung semuanya dan akhirnya sadar:

bisnisnya tidak sedang tumbuh.

Cuma berlari.

Dan uang yang masuk selalu sudah punya pemilik sebelum menyentuh rekening.

Usaha tutup sebelum umur satu tahun.

Raka menjual motor pertamanya.

Menghabiskan tabungan.

Kembali kerja kontrak.

Ia membayar sebagian supplier.

Sisanya, menurut Hamdan waktu itu:

Sudah Ayah urus.

Raka mengira “urus” berarti negosiasi.

Mungkin dicicil.

Mungkin supplier menghapus sebagian.

Ia tidak pernah bertanya cukup jauh.

Mungkin karena lega.

Mungkin karena malu.

Mungkin karena memang ingin percaya masalah itu sudah mati.

Ternyata masalah tidak mati.

Cuma pindah nama.

Raka duduk kembali.

Tidak karena tenang.

Kakinya tiba-tiba terasa lemas.

“Kenapa?”

Hamdan diam.

“Kenapa Ayah bayar?”

Hamdan melihat.

“Karena orang datang ke rumah.”

Raka mengerutkan dahi.

“Siapa?”

“Supplier.”

Raka ingat samar.

Ada dua laki-laki pernah datang.

Ia waktu itu sedang kerja.

Bu Nur bilang cuma urusan usaha.

Hamdan melanjutkan,

“Ada yang ancam bawa masalah ke tempat kerja baru kamu.”

Raka diam.

“Ada yang minta barang rumah dijual.”

“Hm.”

“Partner kamu hilang.”

Raka memalingkan muka.

Ia masih benci bagian itu.

Temannya pergi begitu saja.

Nomor mati.

Alamat kos kosong.

Hamdan berkata,

“Kamu waktu itu baru dapat kerja lagi.”

Raka tertawa pendek.

“Terus?”

“Ayah nggak mau kamu keluar kerja buat ngejar semua.”

“Jadi Ayah ambil alih?”

“Iya.”

“Tanpa bilang?”

“Iya.”

Raka menatap.

“Kenapa?”

Hamdan tidak menjawab cepat.

Raka sudah mulai marah lagi.

Lihat selengkapnya