Telepon yang ditunggu Raka datang pukul delapan pagi.
Bukan dari pembiayaan.
Dari nomor yang tidak dikenal.
Raka sedang memegang ujung terpal sisa perbaikan atap ketika ponselnya bergetar.
“Halo?”
“Dengan Mas Raka Hamdhani?”
“Iya.”
“Mas pernah melamar posisi supervisor operasional di PT Maju Sentosa Logistik?”
Raka berhenti bergerak.
Komang yang memegang ujung terpal sebelah sana langsung melihat.
Raka menjawab,
“Pernah.”
“Kami dapat CV Mas dari database rekrutmen lama.”
Raka mengerutkan dahi.
“Lama banget, Mbak.”
Perempuan di telepon tertawa kecil.
“Memang. Ada pembukaan lagi.”
Raka berdiri lebih tegak.
“Posisinya?”
“Shift coordinator. Untuk awal kontrak enam bulan.”
Bukan supervisor.
Bukan pekerjaan tetap.
Tapi juga bukan kerja bongkar harian yang baru diketahui malam sebelumnya.
Perempuan itu melanjutkan,
“Kalau Mas masih available, interview siang ini bisa?”
Raka melihat terpal.
Melihat rumah.
Melihat Komang.
“Bisa.”
“Jam satu?”
“Bisa.”
“Lokasinya saya kirim.”
Telepon selesai.
Raka masih memegang ponsel.
Komang menunggu.
“Apa?”
Raka diam.
“Pinjol?”
“Kerja.”
Komang langsung melepas terpal.
“Wah.”
Terpal jatuh.
Raka menatap.
“Anjing.”
“Maaf.”
Mereka mengambil lagi.
Komang bertanya,
“Kerja apa?”
“Logistik.”
“Balik kandang.”
Raka hampir tersenyum.
“Interview dulu.”
“Ya interview.”
“Belum kerja.”
“Ya.”
“Jangan diumumin.”
Komang mengangguk.
Lalu berteriak ke halaman,
“BU NUR! RAKA DIPANGGIL KERJA!”
Raka menutup mata.
“Gue bunuh lo.”
Bu Nur keluar dari warung.
“Apa?”
Naya membuka pintu.
Hamdan menoleh dari bengkel.
Komang menunjuk Raka.
“Interview jam satu.”
Bu Nur langsung berkata,
“Mandi.”
Raka menghela napas.
“Baru jam delapan.”
“Mandi dulu.”
“Interview jam satu.”
“Biar bersih lama.”
Naya tertawa.
Untuk pertama kalinya pagi itu, rasa takut tentang telepon pembiayaan sedikit bergeser.
Tidak hilang.
Cuma diberi kursi sebelah.
Kemeja Raka sudah lama tidak dipakai untuk interview.
Bu Nur menyetrika ulang.
Naya memperbaiki CV di laptop.
Adrian ikut melihat.
“Ini terlalu padat.”
Raka berdiri di belakang.
“Itu CV gue.”
“Iya. Makanya terlalu padat.”
“Dulu lolos.”
“Dulu.”
Raka menatap.
Adrian menghapus satu baris.
“Eh.”
“Ini redundant.”
“Bahasa manusia.”
“Ngulang.”
“Oh.”
Naya menunjuk bagian pengalaman kerja.
“Supervisor kontrak terakhir tetap taruh paling atas.”
“Hm.”
“Kerja harian belakangan?”
Raka berpikir.
“Masukin.”
Adrian melihat.
“Kenapa?”
“Ya gue kerja.”
Naya mengangguk.
Mereka menulis singkat:
Pekerjaan operasional/logistik harian — bongkar muat, koordinasi pengiriman lokal, pencatatan pesanan.
Raka melihat.
“Kelihatan bagus.”
Adrian berkata,
“Karena ditulis.”
“Hm.”
“Semua hidup kelihatan profesional kalau pakai bullet point.”
Bu Martha lewat.
“Jangan bohong.”
Adrian langsung,
“Tidak.”
Bu Martha melihat CV.
“Ejaan?”
“Sudah.”
“Yakin?”
Adrian menyerahkan.
“Silakan.”
Bu Martha duduk.
Raka menatap langit-langit.
Interview belum mulai, CV-nya sudah punya tim audit.
Pukul dua lewat dua belas, Raka keluar dari gedung gudang.
Tidak langsung menelepon siapa-siapa.
Ia berdiri dekat parkiran truk.
Interview-nya tidak buruk.
Tidak hebat juga.
Mereka bertanya kenapa sudah lama tidak kerja formal.
Raka menjawab PHK kontrak.
Mereka bertanya kenapa setelah itu ada jeda.
Raka bilang cari kerja sambil mengelola kontrakan keluarga dan mengambil kerja harian.
Tidak bilang hidupnya sempat viral.
Untungnya HR juga tidak bertanya.
User interview lebih lama.
Tentang shift.
Stock mismatch.
Orang telat.
Driver komplain.
Barang rusak.
Target loading.
Bagian itu lebih mudah.
Tubuh Raka seperti masih ingat dunia itu.
Ketika ditanya,
“Kalau anggota tim bikin kesalahan yang berulang, Mas tipe yang gimana?”
Raka hampir menjawab seperti dirinya enam bulan lalu.
Saya selesaikan.
Tapi ia berhenti.
Kemudian berkata,
“Saya cari tahu dulu dia nggak bisa, nggak ngerti, atau memang nggak mau.”
Pewawancara melihat.
Raka melanjutkan,
“Kalau nggak bisa, dilatih. Kalau nggak ngerti, dijelasin. Kalau nggak mau, baru beda urusan.”
“Mas nggak langsung ambil alih?”
Raka tersenyum kecil.
“Dulu sering.”
“Hm.”
“Sekarang saya lagi belajar jangan.”
Pewawancara mengangguk.
Raka tidak tahu itu jawaban bagus atau terlalu jujur.
Sekarang semuanya sudah lewat.
Ponselnya berbunyi.
Bukan HR.
Hamdan.
Raka mengangkat.
“Yah.”
“Kantor pembiayaan telepon.”
Dada Raka langsung keras.
“Terus?”
“Pertemuan final besok.”
“Jam?”
Hamdan menyebut.
Raka menatap gudang di belakangnya.
Dua urusan menunggu keputusan dalam waktu hampir bersamaan.
“Gue ikut.”
“Iya.”
Telepon selesai.
Raka memasukkan ponsel.
Kemudian tertawa pendek.
Hidup rupanya kalau mau bikin tegang suka paket hemat.
Malamnya meja makan kembali penuh.
Tapi kali ini tidak ada rapat resmi.
Semua sedang melakukan sesuatu.
Sari menjahit.
Naya membalas pesanan.
Beni baru pulang kerja.
Dimas makan sambil melihat pesan kantor.
Komang mengedit video.
Adrian mengerjakan desain.
Maya belum berangkat.
Bu Martha membaca koran.
Raka duduk di depan laptop.
Tiba-tiba email masuk.
Ia menatap nama perusahaan logistik.
Tidak dibuka.
Naya melihat.
“Bang.”
“Hm.”
“Itu?”
Raka mengangguk.
“Buka.”
“Sebentar.”
“Kenapa?”
“Pengen napas dulu.”
Maya menoleh.
“Kalau ditatap doang hasilnya berubah?”
“Bisa.”
“Enggak.”
Raka membuka.
Membaca.
Sekali.
Dua kali.
Naya berdiri.
“Gimana?”
Raka tidak langsung jawab.
Hamdan keluar dari bengkel.
Bu Nur juga.
Raka menelan ludah.
“Offering.”
Naya langsung,
“DAPAT?”
Raka melihat nominal.
Posisi.
Tanggal mulai.
Kontrak enam bulan.
Masa evaluasi tiga bulan.
Tunjangan shift.
BPJS setelah administrasi selesai.
Ia mengangguk.
“Kayaknya.”
Naya memukul bahunya.
“Kayaknya apaan? Dapat!”
Bu Nur langsung mengucap,
“Alhamdulillah.”
Hamdan berdiri dekat pintu.
Wajahnya tidak berubah banyak.
Tapi matanya berubah.
“Mulai kapan?”
Raka menyebut tanggal.
Hamdan mengangguk.
“Bagus.”
Raka menatap.
“Cuma bagus?”
Hamdan berpikir.
“Bagus sekali.”
Raka tertawa.
Komang berdiri.
“Traktir.”
Maya langsung,
“Nah.”
Adrian ikut,
“Setuju.”
Raka melihat satu meja.
“Gaji belum masuk.”
Komang berkata,
“Utang dulu.”
Dimas langsung mengangkat kepala.
“Jangan ngomong utang buat bercanda.”
Semua tertawa.
Beni yang paling akhir tersenyum.
“Selamat, Ka.”
Raka menatapnya.
“Makasih.”