Hujan datang lagi tiga bulan kemudian.
Tidak istimewa.
Tidak lebih deras dari biasanya.
Tidak disertai surat.
Tidak ada kurir.
Tidak ada orang menagih.
Cuma hujan.
Raka pulang dari gudang pukul sembilan lewat dua puluh malam dengan sepatu basah dan bahu pegal.
Ia masuk gang sambil membuka resleting jaket.
Dari jauh, kontrakan masih terlihat sama.
Cat kusam.
Pagar yang salah satu engselnya bunyi.
Warung Bu Nur sudah tutup setengah.
Motor Komang parkir miring.
Lampu kamar tiga menyala.
Kamar tujuh gelap.
Kamar delapan terdengar suara mesin jahit.
Dan atap bagian depan—
masih belang.
Genteng merah baru bercampur dengan genteng lama yang warnanya sudah entah apa.
Plafon akhirnya dipasang dua minggu lalu, tapi cuma sebagian.
Yang dekat dapur belum.
Hamdan bilang tunggu uang.
Sekarang kalau ada yang bertanya kapan selesai, seluruh keluarga menjawab hal yang sama:
Kalau ada uang.
Aneh.
Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti bencana.
Cuma jadwal.
Raka membuka pagar.
Engsel berbunyi.
Kreeek.
Dari kamar satu langsung terdengar suara Bu Martha.
“Raka!”
Raka belum masuk penuh.
“Apa, Bu?”
“Engsel.”
Raka menutup mata.
“Iya.”
“Kamu bilang Minggu.”
“Sekarang baru Rabu.”
“Minggu lalu.”
Raka berpikir.
“Oh.”
Bu Martha membuka pintu.
Memakai daster panjang dan kacamata baca.
“Kamu selalu bilang oh seolah-olah kata itu memperbaiki sesuatu.”
Raka masuk.
“Besok.”
Bu Martha menatap.
Raka cepat memperbaiki.
“Beneran.”
“Catat.”
Raka mengeluarkan ponsel.
Membuat pengingat.
OLI ENGSEL PAGAR — MARTHA BISA MEMBUNUH
Bu Martha melihat layar.
“Bagian belakang tidak perlu.”
Raka tertawa.
“Biar prioritas.”
Ia masuk halaman.
Lalu berhenti.
Di tengah halaman ada baskom biru.
Raka menatap.
Tidak.
“Bu!”
Bu Nur menyahut dari dalam.
“Apa?”
“Bocor?”
“Sedikit!”
Raka melihat atas.
“Sedikit di mana?”
“Dekat dapur!”
Tentu.
Bagian yang belum selesai.
Raka berjalan cepat.
Ada satu tetes.
Tik.
Masuk baskom.
Lama.
Tik.
Raka berdiri di depannya.
Bu Nur keluar membawa handuk.
“Geser dikit.”
Raka menggeser.
Tetes berikutnya tepat di tengah.
Tik.
Bu Nur mengangguk.
“Nah.”
Raka menatap baskom.
“Ini barang kayaknya nggak boleh pensiun.”
“Masih bagus.”
“Udah berjasa dari awal.”
Bu Nur mengangkat alis.
“Baskom ya baskom.”
Raka tertawa.
Ia tahu.
Dan mungkin memang lebih baik begitu.
Tiga bulan terakhir tidak mengubah mereka menjadi orang sukses.
Rumah tidak tiba-tiba bebas utang.
Cicilan restrukturisasi baru berjalan tiga kali.
Tiga-tiganya dibayar tepat waktu.
Raka punya catatan tanggal di ponsel.
Hamdan punya catatan di buku.
Bu Nur punya catatan sendiri di balik kalender warung.
Naya membuat spreadsheet.
Tidak ada lagi yang percaya satu sistem cukup.
Gaji Raka tidak besar.
Tapi tetap.
Untuk sementara.
Kontrak enam bulannya baru berjalan setengah.
Ia sekarang bangun pagi, pakai sepatu safety, mengomel soal driver telat, mengecek barang, mengurus orang yang salah scan, dan pulang dengan bau gudang yang pernah ia pikir tidak akan ia rindukan.
Ternyata ia tidak rindu.
Tapi ia bersyukur.
Beda.
Kadang supervisor area menyebalkan.
Kadang anak shift malam bikin masalah.
Kadang Raka ingin mengambil alih semuanya.
Lalu ia ingat hidupnya sendiri.
Jadi sekarang kalimat yang paling sering keluar di gudang bukan lagi,
“Udah, sini gue.”
Melainkan,
“Lo udah coba apa?”
Awalnya menyebalkan.
Sekarang anak-anak mulai terbiasa.
Hamdan bilang itu kemajuan.
Raka bilang jangan ikut campur urusan manajemen.
Hamdan bilang hm.
Kamar dua sudah kosong.
Beni benar-benar pulang.
Tidak sekaligus.
Minggu pertama tiga malam di rumah, empat malam di kontrakan.
Minggu kedua lima malam.
Setelah satu bulan, tasnya akhirnya dibawa pulang semua.
Hari terakhir, Beni berdiri di depan kamar dua cukup lama.
Tidak dramatis.
Cuma lihat.
Komang berkata,
“Kalau kangen bayar sewa aja.”
Beni menjawab,
“Gue bisa main ke sini gratis.”
“Kurang ajar.”
Erna datang membantu membawa barang.
Wajahnya lebih ringan.
Tidak berarti semua selesai.
Beni masih menyerahkan sebagian pengelolaan uang ke Erna.
Masih menghindari aplikasi tertentu.
Masih punya hari ketika keinginan untuk mengejar uang cepat datang lagi.
Sekali ia pernah menelepon Raka jam sebelas malam cuma untuk bilang,
“Ka, gue lagi kepikiran.”
Raka menjawab,
“Jangan.”
Beni berkata,
“Gue tahu.”
Mereka diam satu menit.
Kemudian Beni bilang,
“Ya udah.”
Telepon selesai.
Kadang bantuan memang tidak perlu panjang.
Uang sekolah Aldi belum sepenuhnya kembali.
Tapi sudah lebih dari separuh.
Aldi sekarang sesekali datang ke kontrakan kalau ayahnya berkunjung.
Ia dan Komang cocok karena sama-sama ribut soal bola.
Beni kembali dipanggil Ayah setiap hari.
Setidaknya menurut cerita Erna.
Tidak ada yang minta bukti.
Kamar dua belum Raka iklankan lagi.
Awalnya karena sibuk.
Kemudian karena sedikit malas.
Lalu karena ia sadar pendapatan kontrakan sekarang masih cukup tanpa harus panik mengisi setiap pintu.
Raka menyukai penemuan itu.
Kamar kosong tidak lagi terasa seperti lubang yang harus segera ditutup.
Kadang kosong ya kosong.
Bisa menunggu orang yang tepat.
Atau paling tidak orang yang tidak terlalu salah.
Sari masih tinggal di kamar delapan.
Mesin jahitnya sekarang punya pelanggan tetap dari dua sekolah dan satu laundry.
Ia bahkan menolak beberapa order kalau waktunya tidak cukup.
Pertama kali itu terjadi, Maya hampir tepuk tangan.
“Wah. Orang sekarang bisa nolak duit.”
Sari tertawa.
“Kalau diambil semua saya mati.”
“Bagus. Kita berkembang.”
Bagas masih datang.
Tidak setiap minggu.
Tidak tanpa izin.
Kadang membawa Lala keluar bersama Sari.
Kadang hanya duduk setengah jam.
Kadang Lala pergi bersama ayahnya ditemani kakak Bagas yang Sari percaya.
Batas berubah pelan.
Bukan hilang.
Bagas masih beberapa kali bertanya terlalu jauh.
Sari masih beberapa kali bilang tidak.
Bedanya sekarang, Bagas lebih sering berhenti setelah tidak.
Suatu hari ia bahkan datang ke kontrakan cuma untuk mengembalikan jaket Lala lalu pulang.
Maya melihat dari pintu.
“Udah?”
Sari mengangguk.
“Udah.”
“Dia nggak minta bonus percakapan?”
Sari tertawa.
“Enggak.”
Maya mengangguk.
“Hebat.”
Sari tidak kembali kepada Bagas.
Setidaknya belum.
Dan tidak ada lagi orang di kontrakan yang bertanya kapan.
Termasuk Raka.
Terutama Raka.
Maya masih bekerja malam.
Tidak ada transformasi ajaib menjadi pemilik kafe.
Tidak ada lelaki kaya yang menyelamatkan.
Tidak ada pekerjaan kantor mendadak datang karena ia dianggap “layak mendapat kehidupan lebih baik”.
Maya bahkan akan marah kalau mendengar kalimat itu.
Ia masih memakai parfum mahal.
Masih terlalu banyak menurut Bu Martha.
Masih pulang pagi.
Masih tidur siang.
Tapi sekarang Rio tahu pekerjaannya.
Tidak semua detail.
Cukup.
Hubungan mereka lebih ribut sejak jujur.
Aneh.
Tapi lebih ringan.
Rio pernah datang satu Minggu sore.
Kurus.
Tinggi.
Pemalu lima menit pertama.
Kemudian ikut makan dua piring nasi.
Ketika Bu Nur bertanya,
“Kamu Rio?”
Ia mengangguk.
Maya langsung berkata,
“Nah, ini manusia yang bikin saldo gue kurus.”
Rio menjawab,
“Parfum Kakak lebih mahal dari uang jajan gue sebulan.”
Bu Martha yang sedang minum teh langsung menoleh ke Maya.
“NAH.”
Satu meja tertawa.
Maya tidak berkutik.
Raka menyukai Rio sejak saat itu.
Adrian masih di kamar tiga.
Udin juga.
Lebih besar.
Entah bagaimana tanaman itu bertahan melewati viral, atap roboh, dan Lala yang pernah hampir menyiramnya dengan teh manis.
Yohanes datang sesekali.
Tidak sering.
Pertama membawa kayu.
Kedua membawa makanan.
Ketiga tidak membawa alasan.
Cuma datang menjemput Adrian makan siang.
Hubungan mereka belum jadi cerita keluarga sempurna.
Yohanes masih mengatakan beberapa hal yang membuat Adrian pulang dengan wajah kesal.
Adrian masih kadang menelepon ibunya lebih dulu karena bicara dengan ayahnya melelahkan.
Tapi beberapa minggu lalu Yohanes datang dan duduk di meja makan hampir satu jam.
Komang mengajaknya bicara sepak bola.
Mereka berdebat klub.
Tidak ada yang bicara orientasi.
Tidak ada yang bicara dosa.