AURORA DI UJUNG MAREGE

Mappamancu
Chapter #1

Layar Dari Api

Makassar, menjelang akhir tahun 1666.

Gerimis turun sejak malam datang, membasahi kayu tua Pelabuhan Paotere. Bau asin bercampur besi mengendap di udara. Di bawah bulan yang redup, tiga puluh sembilan pinisi perlahan meninggalkan dermaga. Satu per satu, seolah mereka tahu bahwa tanah yang mereka tinggalkan mungkin tidak lagi sama saat kembali.

Layar merah yang basah oleh hujan, mengembang tertiup angin darat. Permukaannya memantulkan cahaya obor, tampak seperti api yang bergerak di atas laut. Sehingga dari kejauhan, Makassar seolah melepas tiga puluh sembilan bara ke arah selatan.

Pada saat yang hampir bersamaan, di perairan Pulau Tanakeke, dua puluh kapal besar berlabuh dalam diam yang menekan. Lambung mereka tinggi, meriam tersusun rapi di geladak, dan seribu delapan ratus lebih prajurit menunggu perintah. Cornelis J. Speelman berdiri di atas kapal utamanya. Arung Palakka dan Kapten Joncker berada di sisinya. Mereka datang membawa daftar kematian dan tuntutan balas.

Sejak malam itu, laut di sekitar Makassar berubah; ia menjelma menjadi ruang tunggu bagi perang. Namun, tiga puluh sembilan pinisi yang meluncur ke selatan tidak berhenti. Di barisan terdepan, pinisi terbesar membelah ombak dengan haluan tegap. Di sanalah Daeng Rabaning berdiri—pelaut tua dari Tanjung Bira yang wajahnya sekeras kayu asap.

Di belakangnya, seorang pemuda berdiri mematung menantang angin.

Mappitajang.

Ia mengenakan baju bella dada yang kini tampak kusam, dengan bagian lengan yang digulung paksa hingga ke siku guna memudahkan geraknya menarik tali-temali yang kasar. Kain sarung sutra lontara yang melilit pinggangnya tak lagi tertata rapi; kain itu tampak lusuh, basah oleh percikan ombak, dan ikatannya diperkuat secara darurat agar tidak mengganggu langkahnya di geladak yang licin. Di balik lipatan sarungnya yang tak beraturan itu, hulu badik kayu kemuning miliknya masih menyembul—satu-satunya benda yang tampak terawat, kontras dengan jemarinya yang mulai memerah dan melepuh akibat gesekan tali rami. Penampilannya adalah perpaduan yang ganjil; sisa-sisa martabat seorang bangsawan gunung yang kini dipaksa tunduk pada perintah laut dan teriakan nakhoda.

Ia lahir di Bolalangiri, di kaki Gunung Bawakaraeng, tempat pagi datang perlahan dan kabut turun seperti tirai yang tak pernah sepenuhnya terbuka. Dari sana, laut terlihat jauh dan penuh misteri. Tetapi air asin mengalir di Sungai Bihulo, membawa rasa yang bukan milik gunung. Sejak kecil ia berdiri di mata air itu, mencicipi asin yang tak wajar, dan bertanya dalam diam: apakah ini riak laut yang tersesat dan lupa jalan pulang?.

Kini ombak memukul lambung kapal, dan pertanyaan itu ikut berlayar bersamanya. Ia tidak hanya pergi mencari teripang. Ia sedang menempuh jalan yang belum pernah dibayangkan siapa pun di kampungnya; sebuah pencarian tentang air yang tidak mencair meski matahari tinggi, dan tentang kejujuran yang ia temukan di sebuah mata air sunyi di Bonto Pale.

Angin menguat. Di utara, armada perang menunggu saat untuk menerkam. Di selatan, samudera terbuka lebar seperti janji yang belum diuji. Mappitajang tidak menyadari bahwa pelayaran ini akan membawanya masuk ke dalam pusaran sejarah yang akan mengubah namanya menjadi sesuatu yang abadi.

Perahu-perahu pinisi bergerak hampir bersamaan. Tali dilepas. Galah ditarik. Layar yang basah oleh gerimis menegang oleh angin darat. Kayu-kayu lambung berderak serupa raga yang terjaga dari tidur panjang.

Mappitajang berdiri di sisi kiri kapal, menggenggam pagar kayu yang dingin. Makassar perlahan menjauh, terlihat lebih kecil dari bayangan yang selama ini ia simpan dalam kepala. Bayangan benteng Somba Opu berdiri kelam, sementara Benteng Panynyua menatap samudera, setia mendampingi bagai terikat lidah ombak.

“Lihat baik-baik,” suara berat terdengar dari belakangnya. Daeng Rabaning berdiri di dekat kemudi. “Banyak yang tak pernah melihat kota itu lagi setelah meninggalkannya.”

Mappitajang tidak menjawab. Ia menyesuaikan tumpuan kakinya saat kapal terayun. Meski ia tampak kelelahan, cara kakinya mencengkeram geladak yang licin menunjukkan sisa-sisa latihan kerasnya di Pulau Sembilan—sebuah keseimbangan yang mustahil dimiliki oleh seorang pemula murni.

“Bukan karena laut selalu membunuh,” lanjut sang nakhoda, “tapi karena manusia sering mengira dirinya lebih kuat dari laut.”Angin bertambah.

Perahu-perahu lain menyebar dalam jarak yang terukur. Tidak berbaris seperti pasukan. Tidak pula beriringan rapat. Mereka menjaga ruang satu sama lain, seperti kawanan yang tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh.

“Orang kulit putih berlayar seperti pasukan,” gumam Daeng Rabaning. “Satu suara. Satu arah. Satu kesalahan, semua tenggelam.”

Ia menoleh ke cakrawala.

“Kita berlayar seperti keluarga besar. Tidak selalu bersama. Tapi saling tahu di mana harus kembali.”

Makassar menghilang sepenuhnya ketika matahari naik.

Dan untuk pertama kalinya, Mappitajang benar-benar merasa terputus dari daratan.

v

Di atas kapal, hierarki besi berdiri jauh lebih keras ketimbang ulin lambung pinisi itu sendiri.

Di daratan, seorang lelaki masih bisa menjinjing nama besarnya ke mana-mana. Gelar kebangsawanan, silsilah darah, atau petak tanah warisan leluhur masih memiliki tuah di mata manusia lain. Namun, begitu layar tanja terkembang dan garis pantai lumat dari pandangan buritan, seluruh hukum bumi seketika tanggal.

Di samudra, yang menentukan nilai hidup seorang manusia hanyalah satu hal: apakah ia berguna bagi keselamatan kapal.

Dan bagi sebagian besar sawi di pinisi itu, Mappitajang adalah kesialan yang tidak berguna.

Ia bukan anak pesisir yang lahir dari rahim ombak. Bukan keturunan pelaut yang memotong tali pusar dengan pisau asin. Tangkannya sama sekali tidak mengenal pekatnya garam sejak lahir. Raga dan mentalnya tidak dibesarkan oleh pasang surut selat.

Ia datang dari Bolalangiri—sebuah bukit berkabut di kaki Gunung Bawakaraeng, tempat manusia lebih akrab membaca guratan akar pohon ketimbang menakar arah hembusan angin.

Orang gunung.

Dua kata penanda asal-usul itu sudah lebih dari cukup untuk membuat para sawi memandangnya bagai seonggok barang tak berguna yang tak seharusnya menjejak geladak.

“Orang gunung hanya tahu cara mati tertimbun tanah,” desis Daeng Sila pada hari ketiga pelayaran, sembari menghentakkan ember kayu ke dada Mappitajang. “Bukan bernapas di atas air.”

Benturan telak ember ulin itu menghantam tulang rusuk Mappitajang cukup keras, memaksa sisa napas di rongga dadanya tertahan sesaat.

Beberapa sawi yang sedang meluruskan tali rami di dekat tiang agung tertawa pendek. Sebuah tawa yang tidak riuh, namun tajam cukup untuk membuat jalinan penghinaan itu terasa mengulur lebih panjang.

Mappitajang tidak membalas. Ia memungut ember yang terguling itu perlahan, lalu melangkah menuju sisi lambung untuk menimba air laut sebagaimana perintah yang dijatuhkan padanya.

Di atas geladak pinisi, derajat seorang manusia menentukan bagaimana ia diperlakukan.

Puncak tertinggi adalah Punggawa—sang nakhoda sekaligus pemegang mutlak kehormatan kapal. Di perahu ini, takdir itu dipegang oleh Daeng Rabaning, lelaki tua dari Tanjung Bira. Di bawahnya, berdiri para jurumudi; manusia-manusia terpilih yang mampu membaca rasi bintang dan arus bawah laut layaknya mengeja aksara di atas daun lontara.

Lihat selengkapnya