Angin buritan dalam sekejap berubah menjadi amukan liar.
Ombak setinggi tiang layar menghantam lambung pinisi dengan bunyi menggelegar, membuat seluruh kapal miring tajam ke kiri. Geladak berubah seperti punggung ikan licin yang dilempar naik turun oleh tangan raksasa tak terlihat. Air laut menyapu kaki para awak sampai lutut.
Jerit manusia bercampur suara kayu yang meraung menahan tekanan.
Di kejauhan, kilat memutih sesaat memperlihatkan armada besar itu tercerai-berai di tengah samudera. Tiga puluh sembilan pinisi yang tadi bergerak gagah kini tampak seperti daun-daun kecil yang dilempar badai ke segala arah. Ada layar yang robek. Ada tiang yang patah. Ada kapal yang nyaris hilang ditelan lembah ombak sebelum muncul kembali di puncaknya.
Laut malam menjelma menjadi rahang raksasa.
Dan semua orang di atas kapal Daeng Rabaning sadar—mereka bisa mati kapan saja.
Di tengah kekacauan itu, Daeng Sila kehilangan pijakan.
Tubuh besarnya terpeleset ketika mencoba mengikat sisa layar utama yang menggelepar liar diterpa angin. Ia menghantam geladak keras, lalu sebuah bunyi logam berat menyusul dari sampingnya.
KRAAAKKK!
Poros kayu penahan rantai jangkar retak.
Rantai besi sebesar lengan lelaki dewasa meluncur liar menuju lubang palka di tengah kapal. Mata rantainya beradu satu sama lain dengan bunyi mengerikan.
Daeng Sila tak sempat menghindar.
Pergelangan kakinya terlilit.
Tubuhnya langsung terseret beberapa jengkal di atas geladak basah.
Wajah garangnya berubah pucat.
Untuk pertama kalinya sejak Mappitajang mengenalnya, lelaki itu tampak benar-benar takut.
“Mappitajang!” teriaknya.
Suara itu terdengar pecah oleh badai.
Bukan suara seorang kepala awak yang terbiasa membentak.
Melainkan suara seseorang yang sedang melihat maut membuka mulut di depan wajahnya.
“Kapak!”
Sesaat, Mappitajang membeku.
Daeng Sila tampak sadar kepada siapa ia meminta tolong.
Dan kesadaran itu membuat rahangnya menegang oleh rasa malu yang nyaris lebih menyakitkan daripada ketakutan itu sendiri.
Lelaki yang selama berhari-hari ia hina sebagai pembawa sial…
Lelaki yang jatah airnya ia kurangi…
Yang ia paksa bekerja sampai telapak tangannya pecah…
Kini menjadi satu-satunya orang yang cukup dekat untuk menyelamatkannya.
Rantai itu terus bergerak.
DERETAKKK!
Lubang palka menganga hitam di belakang tubuh Daeng Sila seperti mulut samudera sendiri.
Jika rantai itu terus meluncur, kakinya akan remuk lebih dulu sebelum tubuhnya terseret ke bawah bersama jangkar.
Mappitajang menyambar kapak pemotong tali di dekat tiang utama.
Kayunya licin oleh hujan.
Tangannya bergetar.
Di depannya terbentang dua pilihan yang sama-sama membawa maut.
Jika ia menebas tali layar utama untuk dijadikan penahan tubuh Daeng Sila, layar akan lepas dihantam badai. Kapal kehilangan kendali. Dan di tengah laut yang dipenuhi cengkraman badai, mereka akan hancur berantakan.
Namun jika ia terlambat sesaat saja—Daeng Sila tamat.
Mata mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di mata kepala awak itu.
Hanya ketakutan manusia yang telanjang.
Dan sesuatu yang lebih pahit : harapan kepada orang yang selama ini ia perlakukan seperti kotoran.
“Mappitajang…” suara Daeng Sila melemah. “Cepat…”
Rantai terus meluncur.
Setiap tarikan logam menyeret tubuhnya semakin dekat ke lubang palka.
Awak-awak lain tak mampu mendekat. Ombak terlalu ganas. Beberapa hanya memandang dari jauh dengan wajah pucat.
La Bonto mencoba merangkak mendekat, namun ombak menghantam tubuhnya kembali ke tiang layar.
“Mappitajang!” teriak pemuda Wajo itu.
Namun Mappitajang tak menjawab.
Ia berdiri diam dengan kapak tergenggam erat.
Air hujan mengalir di wajahnya.
Dan dalam kilatan petir, ekspresinya terlihat keras.
Terlalu keras.
Seolah ada sesuatu yang sedang bertarung di dalam dirinya.
Daeng Sila melihat mata itu dan jantungnya mendadak tenggelam.
Karena untuk sesaat—ia merasa Mappitajang benar-benar akan membiarkannya mati.
Lelaki gunung itu melangkah maju perlahan.
Kapak terangkat.
Petir membelah langit.
Cahayanya menyapu mata besi kapak yang berkilat dingin di tangan Mappitajang.
Daeng Sila menahan napas.
Dan tepat ketika rantai itu menarik tubuhnya tinggal sejengkal dari lubang palka—
Mappitajang mengangkat kapaknya semakin tinggi.
Lalu—gelap menelan semuanya.
v
Dan badai semakin mengguncang kapal itu.
Angin meraung seperti ribuan arwah yang berteriak dari dasar laut. Ombak menghantam lambung tanpa jeda, membuat pinisi tua itu mengerang di setiap sambungan kayunya.
Mappitajang berdiri di tengah geladak yang miring.
Kapak masih terangkat di tangannya.
Rantai jangkar terus meluncur.
Daeng Sila sudah hampir separuh tubuhnya terseret menuju lubang palka. Jemarinya mencakar kayu ulin basah,
berusaha menahan diri dari tarikan maut.
Namun Mappitajang tidak mengayunkan kapaknya ke arah tali layar.
Ia justru menatap cepat ke arah poros kayu pengunci rantai.
Matanya menyipit.
Menghitung.
Menimbang.